Diam dan Percaya

Jumat, 14 Mei 2010

Baca: Yohanes 11:1-10

Namun setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, [Yesus] sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada. —Yohanes 11:6

Di dalam salah satu kolom mingguan Joe Morgenstern tentang film di Wall Street Journal, ia memikirkan pengaruh kuat dari para bintang film tenar di dalam adegan-adegan dimana mereka tidak mengucapkan kata sepatah pun. Ia menuliskan, “Bintang film dapat berakting sesedikit mungkin di momen-momen kritis karena, setelah mendapatkan perhatian kita, mereka dapat berasumsi bahwa kita tetap menonton mereka.” Namun, kualitas dari sikap diam yang kita kagumi dari para aktris dan aktor ini dapat membuat frustrasi atau mengecewakan bila berkaitan dengan hubungan kita bersama Allah ketika Dia bersikap diam.

Ketika sahabat dekat Yesus, Lazarus, sakit parah, saudara perempuannya, Maria dan Marta, mengabari Yesus. Namun “setelah didengar-Nya, bahwa Lazarus sakit, Ia sengaja tinggal dua hari lagi di tempat, di mana Ia berada” (Yoh. 11:6).

Oswald Chambers mengomentari ayat ini, “Apakah Allah mempercayakan sikap diam kepada Anda—diam sebagai sikap yang memiliki makna yang mendalam? . . . Bayangkan hari-hari dimana Yesus sepenuhnya bersikap diam di Betania! Apakah Anda pernah mengalami hari-hari yang serupa di kehidupan Anda? . . . Sikap diam-Nya merupakan tanda bahwa Dia sedang membawa Anda ke dalam pemahaman yang mengagumkan tentang pribadi-Nya . . . . Jika Allah bersikap diam terhadap Anda, pujilah Dia karena Allah sedang membawa Anda ke dalam rencana besar dari tujuan-Nya.” Kita dapat mempercayai Tuhan kita yang penuh kasih, bahkan ketika Dia bersikap diam. —DCM

Allah sedang menanti di dalam keheningan
Untuk sebuah hati yang dapat dipenuhi-Nya;
Dia harus menemukan hati yang bersih dan kosong,
Dengan roh yang tenang dan damai. —Smith

Kepercayaan sejati di dalam Allah semakin kuat bahkan ketika Dia diam.

Facebooktwitterreddit

10 replies
  1. debora teddy
    debora teddy says:

    yg aku tau,sikap diam-NYA terkadang buatku panik tapi emang perlu u/ mendewasakan aku jg….more…N more..

  2. David
    David says:

    terkadang memang kita harus diam agar Ia dapat bekerja dengan sempurna. Agar kita dapat mengerti rencanaNya yang terbaik bagi kita.

    Thanks for the article.

  3. petra
    petra says:

    maafkan aku ya Bapa, jika seringkali aku menganggap dan merasa kalau
    Engkau diam dan tidak kunjung menolongku pada saat dalam kesesakan.
    Padahal Engkau ingin menemukan hati dalam ketenangan dan tetap
    menaruh percayaku hanya kepadaMu….
    tolongku mengerti hatiMu terus dan terus………

  4. Theresia
    Theresia says:

    Tapi tidak mudah memang to trust the Lord even when HE is silent.Kebanyakan kita langsung “gatel” pengen segera cari solusi atw tindakan,padahal dgn bersabar,kita memberikan waktu untuk Tuhan menyatakan rencanaNYA.Dia ga diam ko,cm memang tergantung pada waktuNYA.

  5. jojoncrispy
    jojoncrispy says:

    Itulah manusia….
    terkadang kita tidak sabar dengan apa yg kita minta pada Tuhan…..
    dan memang terkadang pula Tuhan memang DIAM seolah tak berbuat apapun.
    Tapi pada waktunya pasti Tuhan bertindak sesuai rencananya
    Percayalah…..

  6. Hadyan Tanwikara
    Hadyan Tanwikara says:

    Ada waktunya Allah DIAM karena sesuatu yang lebih besar buat anak-anak-Nya. seperti ketika anakku sakit dan harus dipasang infus, tidak ada yang bisa aku lakukan ketika perawat gagal untuk menemukan pembulu darahnya. Aku hanya bisa diam, untuk kebaikannya. Kita berdosa ketika kita meragukan bahwa Allah baik dalam semua tindakkan-Nya.

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *