Seperti Seekor Domba

Info

Jumat Agung, 2 April 2010

Baca: Yohanes 15:9-17

Dia . . . seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. —Yesaya 53:7

Pada tahun 1602, Caravaggio, seorang seniman berkebangsaan Italia, membuat sebuah lukisan yang dikenal dengan judul The Taking of Christ (Penangkapan Kristus). Lukisan ini, sebuah contoh awal dari gaya Barok, sangat mengesankan. Dilukis dengan warna-warna gelap, lukisan ini mampu membuat orang yang melihatnya untuk merenungkan peristiwa penangkapan Yesus di Taman Getsemani. Dua elemen utama dari peristiwa itu, yang tergambar pada lukisan tersebut menarik perhatian pengamat.

Gambaran pertama adalah Yudas yang menyampaikan ciuman maut. Namun, fokus pengamat segera tertuju pada jari-jari Yesus yang saling terlipat. Ini menunjukkan bahwa Yesus tidak memberikan perlawanan terhadap ketidakadilan. Meskipun Dia memiliki kuasa untuk menciptakan alam semesta, Kristus memberikan diri-Nya secara sukarela kepada para penangkap-Nya dan salib yang menanti.

Jauh sebelum peristiwa ini terjadi, Yesus memberitahu para pendengar- Nya bahwa tidak ada seorang pun yang dapat mengambil nyawa-Nya dari-Nya—Dia akan memberikannya menurut kehendak-Nya (Yoh. 10:18). Hati yang rela untuk berserah telah dinubuatkan Yesaya, yang menuliskan, “Dia . . . seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya” (Yes. 53:7).

Pengorbanan Kristus yang diibaratkan seperti domba tersebut merupakan indikator hebat akan kasih-Nya yang penuh kuasa. “Tidak ada kasih yang lebih besar,” kata-Nya, “daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13). Pikirkanlah itu. Yesus mengasihi kita sedemikian besarnya! —WEC

Karena kasih, Juruselamat mati menggantikanku
Mengapa Dia begitu mengasihiku?
Dengan taat Dia menuju ke salib Kalvari itu
Mengapa Dia begitu mengasihiku? —Harkness

Tangan Yesus yang terpaku menyatakan hati Allah yang penuh kasih.

facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

2 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!