Aby adalah anak perempuan satu-satunya dari sebuah keluarga petani. Aby lahir dan tumbuh besar di sebuah desa yang lokasinya cukup jauh dari Kota Rantepao, Tana Toraja. Aby sangat suka bermain musik, juga membaca dan menulis. Aby rindu untuk terus berkarya dan melayani Tuhan lewat tulisan dan pelayanan di gereja. Aby juga menjadikan Kolose 3:23 sebagai prinsip hidupnya.

Posts

Penghiburan di Kala Duka Mendera

Oleh Abyasat Tandirura, Toraja

Jarum jam menunjukkan pukul 17.35 WITA, ketika aku menerima kabar duka lewat messenger dari seorang temanku di SMA dulu. Rabu, 19 Februari 2020, Tuhan berkehendak memanggil pulang seorang teman yang kami kasihi dan dicintai oleh keluarganya. Ia merupakan teman seperjuanganku di bangku SMA hingga berkuliah di perguruan tinggi negeri yang sama di kota Makassar. Rasanya sulit untuk mempercayai kabar duka itu, sampai akhirnya aku menyaksikan sendiri tubuh yang kaku dan terbaring dalam peti di hari penguburannya 4 hari kemudian.

Aku mengerti bahwa kematian merupakan hal yang menakutkan dan menyedihkan secara manusiawi. Kedatangannya tidak mengenal usia dan waktu. Apalagi hal ini terjadi pada temanku yang berusia 28 tahun. Usia yang masih tergolong sangat muda. Aku sedih karena kehilangan seorang teman yang baik, sopan, dan ramah. Tak bertemu selama hampir 8 tahun sejak masa-masa wisuda, kini kami benar-benar harus berpisah dan tak akan pernah berjumpa lagi untuk selamanya.

Kini sudah 9 bulan berlalu sejak kepergiannya. Sekalipun sulit untuk melenyapkan rasa sedih dan kehilangan, aku yakin bahwa Tuhan benar-benar mengerti dan peduli dengan duka yang kualami. Ia selalu punya cara terbaik untuk menghibur dan menguatkanku secara pribadi, serta memberi sukacita abadi melalui beberapa hal yang kualami.

1. Melalui lagu pujian yang menguatkan

Sehari sebelum aku mendapat berita duka tersebut, aku sedang berlatih lagu himne favoritku menggunakan keyboard mini Judulnya “Ku Berbahagia” (Kidung Jemaat nomor 392) ciptaan Fanny Crosby. Begini liriknya:

‘Ku berbahagia, yakin teguh: Yesus abadi kepunyaanku!
Aku warisNya, ‘ku ditebus, ciptaan baru Rohul kudus.
Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.
Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.

Pasrah sempurna, nikmat penuh; suka sorgawi melimpahiku.
Lagu malaikat amat merdu; kasih dan rahmat besertaku.
Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.
Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.

Aku serahkan diri penuh, dalam Tuhanku hatiku teduh.
Sambil menyongsong kembaliNya, ‘ku diliputi anugerah.
Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.
Aku bernyanyi bahagia memuji Yesus selamanya.

Setiap kali mendengar, melantunkan, dan juga mengiringi lagu ini, rasanya aku tidak kuasa membendung air mata haru. Ditambah lagi sejak kepergian temanku, lagu ini juga jadi mengingatkanku padanya. Di saat yang sama, lagu ini pun mengingatkanku pada Yesus yang telah menjadi Tuhan dan Juruselamatku secara pribadi. Yesus memberiku kebahagiaan sejati, baik saat aku bersukacita maupun berdukacita seperti yang sedang kurasakan saat ini. Kita memiliki Yesus dan kita dijadikan milik-Nya. Sehingga meskipun kita sedang berdukacita, Allah tetap turut bekerja mendatangkan kebaikan bagi kita yang mengasihi-Nya (Roma 8:28). Ia juga memberikan sukacita sorgawi, seperti yang ditulis Fanny Crosby dalam lagu tersebut. Sukacita sorgawi itu adalah pengharapan akan kehidupan kekal bersama Kristus kelak. Untuk itu, aku bahagia memiliki Yesus sebagai kawan sejati yang tidak akan meninggalkanku dan tetap mengasihiku dengan kasih yang kekal (Yohanes 15:9).

2. Melalui kesaksian dari keluarga

Selama masa-masa kedukaan, aku banyak mendengar kesaksian dari pihak keluarga. Kesaksian mereka ketika dihiburkan dan dikuatkan secara tidak langsung membuatku ikut terhibur juga di masa-masa duka tersebut. Salah satu saudara kandung dari almarhum menuturkan bahwa meskipun segenap keluarga berduka karena kehilangan anggota keluarga terkasih, mereka bersyukur pada Tuhan ketika mereka dikunjungi oleh para hamba Tuhan dari tempatnya berjemaat, bahkan ada juga yang datang dari luar daerah. Tidak hanya itu, pihak keluarga juga menuturkan rasa sukacitanya ketika menyaksikan almarhum yang tetap tersenyum dan tidak mengeluh dalam masa-masa perawatannya di rumah sakit saat berjuang melawan penyakit TBC usus yang dideritanya.

Masih dari penuturan pihak keluarga, ternyata temanku menyampaikan doa penyerahan terakhir sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya. Ia sempat menyatakan:

“Oh Tuhan, ke dalam tangan-Mu kuserahkan hidupku, ampuni saya.”

Sejenak aku merenungkan kata-kata terakhir beliau. Aku melihat temanku itu benar-benar berserah secara total kepada Penciptanya dan menyatakan pertobatannya. Menurutku, itu hal yang sangat luar biasa. Dan aku yakin Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun sanggup melimpahkan damai sejahtera juga kepada segenap keluarga, teman-teman, dan semua orang yang ditinggalkannya. Sungguh sebuah kesaksian iman yang menguatkan aku secara pribadi.

3. Melalui kidung nyanyian favorit si teman

Ketika aku menulis tulisan ini, aku teringat salah satu lagu kesukaan almarhum yang disampaikan kakaknya kepadaku yang berjudul “Ku Tahu Tuhan Pasti Buka Jalan”:

Ku tahu Tuhan pasti buka jalan
Ku tahu Tuhan pasti buka jalan
Asal ku hidup suci
Tidak turut dunia
Ku tahu Tuhan pasti buka jalan

Dalam menikmati lagu ini, aku mau memaknai benar adanya bahwa Tuhan telah membuka jalan baginya, baik ketika sedang menghadapi pergumulan di dunia ini, juga ketika beliau akhirnya memasuki tempat peristirahatan dan tempat penantian yang indah dan penuh damai. Aku harap aku juga bisa memaknai pesan mendalam yang disampaikan lagu ini ketika aku menghadapi pergumulan pribadi sepanjang hidupku.

4. Diingatkan oleh karya kasih Yesus

Kematian temanku mengingatkan aku kembali pada satu Pribadi yang juga pernah mengalami kematian, tetapi kematian yang istimewa. Begitu istimewanya kematian-Nya sehingga Ia sanggup mengubah sebuah ratapan menjadi sukacita. Pribadi itu adalah Yesus Kristus. Karena kasih, Yesus mati mengorbankan diri-Nya bagi kita, supaya kita manusia yang berlumuran dosa beroleh pengampunan dan keselamatan untuk menikmati hidup kekal bersama-Nya (Yohanes 3:16). Yesus juga bangkit dari kematian sebagai bukti bahwa Ia mengalahkan maut (Roma 6:9, Wahyu 1:18). Dengan kebangkitan-Nya, iman percaya kita tidak sia-sia sebab kita tahu bahwa ketika kita mati dalam iman kepada Kristus, maka kita juga akan dibangkitkan dalam kemuliaan kelak (Yohanes 11:25, 2 Korintus 4:14-15).

5. Janji-Nya bahwa kami akan bertemu lagi kelak

Di hari penguburannya, aku dan seorang temanku yang lain melihat dia untuk yang terakhir kalinya. Menatapnya yang terbaring kaku dalam peti sungguh memilukan. Perpisahan untuk selamanya ini sungguh membuat kami merindukannya. Namun kami mau mengingat apa yang dijanjikan Allah melalui kesaksian Rasul Paulus di Korintus:

“Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus.” (1 Korintus 15:21-22)

Bagian Firman ini mengajak aku untuk percaya bahwa kematian hanyalah perpisahan sementara bagi orang percaya. Aku dan temanku yang sudah terbaring kaku itu akan bertemu lagi karena kami sama-sama percaya kematian dan kebangkitan Yesus bagi pengampunan dosa-dosa kami (1 Korintus 15:3-4).

Aku dan keluarga temanku sungguh mengucap syukur pada Tuhan yang telah menghibur dan menguatkan kami melalui berbagai hal. Sangat bersukacita juga ketika mengetahui banyak pihak yang mendoakan almarhum semasa perawatannya di rumah sakit, meski Tuhan tahu betul apa yang terbaik untuk jalan hidupnya. Aku mengerti bahwa sesungguhnya tidak ada yang abadi dalam dunia ini. Namun iman kita kepada Yesus Kristus adalah hal yang menjadi abadi dan sangat berharga bagi kita orang percaya. Sekalipun kematian memisahkan kita secara fisik dari orang-orang yang kita kasihi, kita tentu tak akan bisa dipisahkan dari kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita (Roma 8:38-39).
Damai bersamamu kawan, sampai bertemu, sampai lagi kita bertemu di langit dan bumi yang baru!

“Berharga di mata Tuhan, kematian semua orang yang dikasihi-Nya” (Mazmur 116:15).

Terpujilah Kristus!


Kamu diberkati oleh artikel ini?

Yuk, jadi berkat dengan mendukung pelayanan WarungSateKaMu!


Baca Juga:

Menemukan Pemeliharaan Tuhan lewat Tenaga Profesional Kesehatan Mental

Selama ini aku menyimpan semua masalahku dan berusaha terlihat baik-baik saja. Sampai ketika tekanan hidup tak lagi kuat kutanggung, aku memberanikan diri untuk datang pada konselor, dan di sanalah aku menemukan pemeliharaan Tuhan.

Aku Meninggalkan Pekerjaanku, Tetapi Tuhan Merancangkan Sesuatu yang Indah Bagiku

Oleh Abyasat Tandirura, Toraja

Kehidupan ini selalu diperhadapkan pada beragam pilihan. Memilih di antara beberapa pilihan kadang membuat kita bingung. Tak jarang pula, kita menyesali pilihan yang telah kita putuskan.

Mengapa kita bingung dalam mengambil pilihan? Mengapa muncul penyesalan terhadap pilihan-pilihan kita? Jawabannya mungkin sederhana: karena kita cenderung menentukan sebuah pilihan berdasarkan keinginan kita atau keinginan orang lain, bukan karena kehendak Allah.

Aku pernah menghadapi dua pilihan yang membuatku bingung. Ketika aku sedang dalam proses pemulihan pasca operasi yang kujalani beberapa tahun silam, aku bergumul tentang pekerjaanku. Ada dua pilihan bagiku dengan pertimbangan yang berbeda-beda, yaitu meninggalkan pekerjaanku, atau kembali bekerja di sana.

Sebelum aku dioperasi, aku bekerja sesuai dengan disiplin ilmuku pada sebuah industri pengolahan rumput laut di salah satu daerah kepulauan yang ada di Indonesia. Libur Natal, membuatku ingin mudik, dan keinginan itu terealisasi. Aku masih menikmati liburan, ketika aku merasakan sakit pada salah satu organ tubuhku. Singkat cerita, dokter memutuskan untuk melakukan operasi dan aku serta keluargaku menyetujuinya.

Aku sulit memilih di antara dua pilihan. Jika aku meninggalkan pekerjaanku, maka otomatis aku kehilangan pekerjaan, namun jika aku kembali ke tempat kerjaku, sejujurnya aku takut kalau aku sakit lagi, mengingat dalam kontrol terakhirku ke rumah sakit, dokter menyarankan agar aku tidak boleh bekerja yang berat meski operasi yang telah dilakukan hanyalah operasi kecil. Aku tidak tega mengorbankan kesehatanku untuk sebuah pekerjaan yang menuntutku banyak bergerak. Aku sangat berhati-hati, sebab jika salah mengambil pilihan akan berdampak pada masa depanku, apakah aku tetap bekerja atau jadi pengangguran.

Di tengah kebingungan yang melandaku, akhirnya suatu waktu aku memutuskan untuk beristirahat sampai aku bisa beraktivitas seperti sedia kala. Dalam masa-masa istirahatku aku terus bergumul dalam doa dan menanti pertolongan Tuhan dalam mengambil keputusan.

Aku percaya Ia lebih mengetahui pilihan yang terbaik bagiku. Dan, aku tahu kalau Tuhan ada menjagaku. Akan tetapi, sulit bagiku untuk percaya sepenuhnya sebab aku tetap merasa tidak tega mengorbankan kesehatanku. Aku juga tidak yakin, di tengah situasi yang serba sulit, mustahil rasanya mendapat pekerjaan baru jika aku meninggalkan pekerjaanku.

Seiring waktu yang terus berlalu, aku bersyukur kondisiku semakin membaik, dan suatu hari aku akhirnya mengambil keputusan. Aku memilih untuk meninggalkan pekerjaanku dengan alasan kesehatan. Meskipun aku tahu, bahwa keputusan itu membuatku kehilangan pekerjaan, namun pada saat yang sama aku yakin sepenuhnya bahwa Tuhan menyediakan yang terbaik bagiku sebagaimana janji-Nya “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu masa depan yang penuh harapan (Yeremia 29:11) . Aku merasakan kelegaan seusai mengambil pilihan itu. Bagiku, itulah pilihan terbaik dan aku yakin itu adalah jawaban doaku.

Melewati hari demi hari menjalani pilihan yang telah kuputuskan, rasanya ibarat menempuh perjalanan panjang. Entah kapan aku akan tiba, aku juga tidak tahu.

Tetapi suatu hari, saat jam belajar sekolah berakhir, seorang pimpinan sekolah datang mengunjungiku, sekaligus menawarkan padaku sebuah pekerjaan di sekolah tempatnya bertugas. Hatiku bersukacita, namun aku memikirkan lagi soal pekerjaan itu yang tidak berkaitan dengan disiplin ilmuku.

Waktu itu, aku tidak langsung menerima tawaran pekerjaan itu. Aku menggumulinya selama seminggu. Sejujunya aku merasa kurang cocok dengan pekerjaan itu.

“Tetapi bukankah aku telah memilih meninggalkan pekerjaanku yang dulu, dan saat pekerjaan baru sudah ada di depan mata, bagaimana mungkin aku akan menolaknya?” gumamku.

Pada akhirnya, seminggu kemudian aku mengantar beberapa dokumenku ke sekolah dan pada saat itu juga untuk pertama kalinya aku menjalani pekerjaan baruku sebagai tenaga kependidikan sampai saat ini.

Meski aku telah mendapatkan pekerjaan baru, awal–awal aku bekerja, aku masih bergumul dengan masa depanku dari pekerjaan tersebut.

“Mungkinkah kelak aku menjadi seorang abdi negara, sehingga aku bekerja di sini? Apakah dengan bekerja di sini, Tuhan punya rancangan khusus untukku sehingga aku lega memilih untuk meninggalkan pekerjaanku yang dulu?”

Di satu sisi, aku melihat bahwa Tuhan telah memberiku pekerjaan. Namun, di sisi lain aku selalu merasa berkecil hati. Aku merasa malu terhadap diriku dan kepada teman-temanku yang sedang bekerja sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing.

Melewati 7 bulan bekerja bukanlah perkara yang mudah. Selain dukungan dari keluagaku aku pun terus berdoa. Aku berdoa bukan untuk meminta Dia memberiku pekerjaan baru, tetapi aku memohon agar aku diberi pengertian yang benar tentang mengapa aku dibawa bekerja dengan pekerjaan yang tidak sesuai dengan disiplin ilmuku. Aku juga sangat terhibur oleh sebuah ayat dalam Alkitab yang menjadi pokok renungan dalam saat teduhku pada suatu pagi yang terdapat dalam kitab Yesaya 55:8-9.

Hari-hari terus berlalu. Dan pada bulan yang kedelapan aku bekerja, di luar dugaanku Tuhan membuatku mengerti mengapa aku bekerja di sini, dengan pekerjaan yang tidak sesuai dengan disiplin ilmuku. Ternyata Tuhan menuntunku untuk mewujudkan sebuah kerinduanku dan mimpiku yang telah kubangun ketika aku masih sekolah minggu, yakni menjadi pengiring nyanyian jemaat di gereja.

Dipersiapkan terlibat dalam pelayanan di gereja merupakan sesuatu yang sangat istimewa bagiku. Aku percaya bahwa inilah rancangan yang sangat indah dari Tuhan untukku, setelah aku memilih meninggalkan pekerjaanku. Kini, aku bekerja sambil melayani. Aku senang melayani di gereja, sehingga hal itu memacu semangatku dalam bekerja dan menepis rasa berkecil hati yang pernah kurasakan.

Merenungkan kembali hal-hal yang telah Tuhan kerjakan dalam hidupku menyadarkanku bahwa segala sesuatu yang kita inginkan, belum tentu dikehendaki Tuhan. Hal apa pun yang kita rencanakan tanpa melibatkan Dia rasanya mustahil akan terlaksana. Kita tidak bisa memaksakan kehendak kita kepada-Nya, melainkan kita harus menyelaraskan kehendak-Nya atas kehendak kita.

Dalam menjalankan pekerjaanku, Tuhan telah menyertaiku melewati tantangan dan situasi yang sulit. Bahkan aku mendapatkan sesuatu yang berharga bahwa kita bekerja dengan sungguh-sungguh, tulus, dan penuh tanggung jawab, bukan supaya kita mendapat apresiasi dari pimpinan atau rekan kerja kita dan karena kita takut pada atasan kita, melainkan karena Allah menghendaki kita bekerja dengan sungguh-sungguh, tulus dan bertanggung jawab penuh, serta takut dan patuh pada Tuhan.

Jika dulu aku sulit menentukan keputusan, sekarang aku mengerti bahwa rancangan Tuhan itu, selalu yang terbaik bagiku.

Kepada semua teman-temanku, mungkin kita tidak nyaman dan tidak menyukai pilihan yang Tuhan berikan kepada kita, tetapi ketahuilah bahwa pilihan Tuhan selalu yang terbaik. Dia Allah yang baik, yang telah menetapkan rancangan-rancangan terbaik bagi kita. Dan karena itu, tetaplah bersyukur padaNya dalam segala keadaan.

Terpujilah Kristus!

“Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, Demikianlah firman Tuhan. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu”
(Yesaya 55 : 8-9)

Baca Juga:

Ketika Tuhan Seakan Mempermainkan Hidupku

Aku hampir putus asa karena perjuanganku selalu berujung pada kegagalan. Pun, timbul rasa iri. Mengapa orang lain mendapatkan sesuatu dengan mudah, sedangkan aku tidak?

5 Hal yang Bertumbuh Ketika Aku Memberi Diri Melayani

Oleh Abyasat Tandirura, Toraja

Aku pernah merasa tidak layak untuk melayani Tuhan karena dosa-dosaku. Namun, aku bersyukur karena Yesus telah mati untuk menebus dosa-dosaku dan bangkit untuk memberiku jaminan akan hidup kekal. Ketika segala dosaku telah diampuni-Nya, aku rindu untuk memberikan yang terbaik sebagai ungkapan syukurku.

Salah satu pemberian terbaik yang bisa kulakukan adalah dengan memberi diriku melayani di gereja. Aku melayani sebagai pengiring nyanyian jemaat atau pemain musik. Sambil terus melayani dan belajar firman-Nya, ada lima hal dalam diriku yang bertumbuh:

1. Aku bertumbuh di dalam sukacita

Awalnya sulit bagiku untuk duduk di hadapan jemaat sambil mengiringi sejumlah nyanyian. Aku merasa kemampuanku tidaklah sehebat teman-teman pengiring lainnya. Akan tetapi, lewat seorang temanku, Tuhan menegurku bahwa yang dicari oleh-Nya bukanlah performa, melainkan sikap hati yang mau sungguh-sungguh melayani.

Lambat laun, saat aku menyadari hal itu, aku bisa merasakan sukacita dalam pelayananku. Aku melayani bukan untuk mendapatkan pengakuan dari manusia, melainkan untuk menyenangkan hati Tuhan. Dan, Tuhan mau aku melayani dengan bersukacita, sebab Dia sendirilah yang melayakkanku dengan sukacita.

“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan. Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Filipi 4:4).

2. Aku bertumbuh dalam kerendahan hati

Para murid pernah bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Dalam pelayanan, pertengkaran seperti itu seringkali tidak terelakkan. Kita merasa telah melakukan sesuatu hingga kita pun berpikir kita layak untuk memperoleh imbalan.

Aku belajar untuk merendahkan hatiku dalam melayani. Kuakui itu sulit. Saat jemaat melihat pelayananku baik, iringan musikku disukai, terkadang aku tergoda untuk merasa bangga dan menganggap semuanya itu layak kudapatkan karena usahaku sendiri. Aku lupa bahwa segala pujian dan kemuliaan hanyalah bagi Tuhan.

Yakobus 4:6 berkata, “Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”

Sekarang aku berfokus kepada Sang Raja yan kulayani. Tuhan Yesus telah menjadi teladan yang sempurna dalam melayani. Dia mengosongkan diri-Nya dan menjadi hamba yang taat sampai mati di kayu salib. Seorang pelayan yang rendah hati disukai Tuhan.

3. Aku bertumbuh dalam ketulusan

Memberi diri melayani adalah sesuatu yang mulia. Tapi, kadang di balik pelayanan kita ada motivasi lain yang menyertainya.

Melayani Tuhan sejatinya memberikan yang terbaik bagi Tuhan, entah kita mendapatkan upah atau tidak. Namun, satu hal yang pasti adalah dalam melayani-Nya, Tuhan selalu mencukupkan segala kebutuhan kita. Bukan banyak sedikit pelayanan yang kita lakukan yang Tuhan lihat, tetapi Tuhan melihat ketulusan hati kita.

Di awal pelayananku di gereja, aku mendapatkan upah sebagai apresiasi dari jemaat. Namun kemudian aku bertekad untuk tidak menerimanya. Dengan sukacita aku mengembalikan upah itu sebagai ungkapan syukurku. Setiap kali aku mengingat pengorbanan Kristus dan memandang pada salib, aku merasa tidak pantas untuk diupah dalam pelayanan.

4. Aku bertumbuh dalam kesabaran

Aku pernah dikritik oleh seorang anggota jemaat. Katanya iringan musik yang kumainkan tidak bagus. Selain itu tata ibadah atau liturgi yang kuatur untuk kebaktian hari Minggu juga tak luput dari kritikan. Jujur, aku sempat berkecil hati dan patah semangat. Aku merasa pelayananku tidak dihargai, padahal aku sudah latihan berkali-kali dan melakukan persiapan yang maksimal.

Tapi, apa yang kualami itu benar-benar membentuk karakterku untuk bersabar dalam pelayanan. Aku butuh waktu yang lama untuk belajar memahami kritikan-kritikan dari anggota jemaat. Aku merenungkan setiap kata yang kuterima, hingga suatu hari aku ingat akan kisah pelayanan Yesus yang pernah ditolak di tempat asalnya, di Nazaret di saat Dia mengajar dalam rumah ibadat (Matius 13:53-58; Markus 6:1-6; Lukas 4:16-30).

Yesus pernah ditolak dan tidak dihargai, tetapi Yesus tetap bersemangat melanjutkn pelayanan-Nya. Aku pun harus tetap bersemangat dan bersukacita melanjutkan pelayananku. Aku tidak perlu sakit hati ketika ada orang yang mengkritikku, sebab tujuan pelayananku adalah untuk Tuhan. Kritik itu menjadi pendorongku untuk mengintrospeksi diri dan meningkatkan kemampuan bermain musikku. Aku berlatih lebih tekun lagi dan belajar kepada pemusik lain yang lebih berpengalaman.

“Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan” (Amsal 14:29).

5. Aku bertumbuh dalam kesetiaan

Kadang masih sulit buatku untuk membagi waktu antara persiapan melayani dan pekerjaanku. Tapi, aku selalu berjuang untuk melakukan pelayananku secara maksimal.

Pernah suatu ketika aku dikecewakan oleh teman sepelayananku. Namun, aku belajar untuk mengampuni mereka dan tetap bertahan dalam pelayananku. Melayani tidaklah mudah, tetapi ketika kita memberi diri melayani-Nya, Tuhan sendiri yang akan menguatkan dan menyertai kita.

AKu bersyukur sebab dalam keterbatasanku, Tuhan menyambutku sebagai pekerja dalam bait-Nya. Melewati beragam proses, Tuhan membuatku bertumbuh. Tuhan mengajarkanku, memprosesku lewat tangan kasih-Nya. Sembari menjalankan dan menikmati pelayananku, aku juga terus bersemangat menjalankan disiplin rohani setiap hari.

Aku berdoa, kiranya siapapun yang memberi diri untuk melayani dalam pekerjaan Tuhan siap diproses.

Terpujilah nama Tuhan.

Baca Juga:

Menghadapi Sisi Gelap Pelayanan dalam Terang Tuhan

Melayani Tuhan bukan jaminan bebas dari depresi, pun bukan pelarian darinya. Ada momen-momen penuh pergumulan dan gelap. Melalui tulisan ini, kuharap pengalamanku menolongmu untuk melihat terang-Nya.

Kekurangan Fisik Membuatku Minder, Tapi Tuhan Memandangku Berharga

Oleh Abyasat Tandirura, Toraja

Aku lahir dengan kondisi di mana langit-langit dalam rongga mulutku terbuka sehingga ketika aku berbicara, suaraku tidak jelas. Teman-temanku pernah mengejekku. Aku sangat sedih dan hampir menangis, tetapi seorang guruku menegur mereka dan menenangkanku.

Sejak saat itu, teman-temanku tidak lagi mengejekku. Akan tetapi, sulit bagiku untuk melupakannya begitu saja. Ejekan mereka sungguh melukai perasaanku sebagai seorang anak perempuan yang masih berumur 9 tahun. Aku tidak suka mereka mengejekku, meskipun aku tahu kalau suaraku memang tidak jelas.

Suaraku yang tidak jelas ini menjadi pergumulanku dalam membina komunikasi dengan orang lain. Aku jadi anak yang minder. Tak jarang aku memilih diam ketimbang bercakap-cakap dengan orang lain. Aku merasa lebih baik jadi pendengar saja ketika teman-temanku bersenda gurau atau membicarakan suatu hal. Aku malu dan takut berbicara kalau-kalau temanku tidak mengerti kata-kata yang aku ucapkan. Kadang aku bertanya kepada diriku sendiri: mengapa aku yang mengalami ini, tetapi teman-temanku tidak? Aku bahkan pernah kecewa kepada Tuhan. Aku merasa Dia tidak peduli pada keadaanku. Padahal, di sekolah Minggu aku suka mendengar guruku bercerita tentang Tuhan Yesus yang menyembuhkan banyak orang sakit dan melakukan banyak mukjizat. Aku pun berharap kelak aku mengalaminya. Namun, mukjizat berupa kesembuhan instan itu tidak tampak dalam hidupku.

Sulit bagiku untuk membangun rasa percaya diri seperti yang teman-temanku lakukan. Perasaan minder dalam diriku membuatku tumbuh jadi remaja yang pendiam. Rasa malu dan takut bicara seolah sudah melekat dalam diriku.

Seiring waktu yang terus berjalan, ada satu hal yang kemudian membuat pikiranku terbuka. Aku membaca dan mendengarkan kisah-kisah hebat dari orang-orang yang mengalami cacat fisik atau disabilitas. Ada Nick Vujicic, seorang motivator hebat yang dilahirkan tanpa lengan dan kaki. Ada Frances Jane Crosby, seorang anak yang lahir normal namun mengalami malpraktik hingga dia pun mengalami kebutaan seumur hidupnya. Tapi, dalam kebutaaannya, dia sanggup menciptakan ribuah pujian, himne, puisi, dan sajak.

Selain mereka, masih banyak lagi para disabilitas lainnya, termasuk para atlet. Mereka memiliki keterbatasan fisik, namun Tuhan memakai kekurangan itu dengan talenta-talenta yang luar biasa dan membuat dunia takjub.

Berangkat dari kisah hidup mereka, benih-benih semangat mulai bertumbuh di hatiku. Aku berkata pada diriku: “Kalau aku terlahir dengan ketidaksempurnaan pada salah satu bagian tubuh yang kumiliki, itu artinya Tuhan mau memakai keterbatasanku untuk suatu hal yang indah bagi-Nya.” Kata-kataku ini terus bergema dalam hatiku, dan menjadi batu loncatan yang mengubahku menjadi pribadi yang percaya diri.

Tuhan memimpin hidupku hingga aku menemukan rasa percaya diriku. Firman Tuhan berkata, “Oleh karena Engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan aku ini mengasihi engkau” (Yesaya 43:4a). Ayat ini menjadi sebuah kebenaran yang mengubah rasa minderku menjadi sebuah rasa percaya diri. Tuhan menegurku dengan kasih bahwa aku tidaklah seperti apa yang kupikirkan.

Aku sadar bahwa keterbatsan yang kumiliki tidak seharusnya membatasi dan menghalangi komunikasiku dengan orang lain. Sekalipun suaraku memang tidak jelas, aku tidak perlu bersedih sebab Tuhan sangat mengasihiku dan aku adalah ciptaan-Nya yang mulia dan berharga. Di balik suaraku yang tidak jelas, Tuhan menyatakan rancangan yang indah dan kini aku sedang menikmatinya. Tuhan memberiku talenta dan kesempatan untuk menulis, dan menyediakan media ini sebagai wadah bagiku untuk memberikan kesaksian tentang kasih Tuhan lewat tulisan.

Sekarang aku sungguh bersyukur bahwa Tuhan sangat peduli dengan keadaanku. Tuhan memberiku keluarga yang sangat menyayangiku, teman-teman di sekolah, kampus, persekutuan, tempat kerja, dan tempat pelayanan yang menerimaku apa adanya. Aku yakin dan percaya bahwa dalam kekuranganku, Tuhan turut berkarya. Tuhan merancangkan masa depan yang penuh damai sejahtera.

Teruntuk teman-teman yang mengalami keterbatasan fisik apapun itu, jangan pernah merasa minder. Tuhan yang pengasih, menciptakan kita sebagai pribadi-pribadi yang berharga dan mulia. Keterbatasan-keterbatasan itu mengingatkan kita untuk selalu bergantung pada Tuhan. Tuhanlah kekuatan dalam setiap kelemahan kita. Oleh karena itu, bersama sang pemazmur, marilah kita berkata:

“Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya” (Mazmur 139:14).

Aku bersyukur, saat aku mengetahui bahwa di balik keterbatasan yang ada pada diriku, ternyata Tuhan menciptakanku sebagai pribadi yang sangat berharga dan mulia.

Terpujilah Kristus!

Baca Juga:

Meski Kuanggap Diriku Gagal, Tuhan Punya Alur Cerita yang Berbeda

Orang selalu memujiku sebagai anak pandai, tetapi kegagalan menghinaku sebagai anak bodoh. Tapi, melalui keadaan ini, Tuhan mengajariku sebuah pelajaran berharga yang tak kudapati dari bangku sekolah.

Disiplin Rohani: Butuh Perjuangan!

Oleh Abyasat Tandirura, Toraja

Tahun 2018 beserta suka dan duka kehidupan yang mengiringinya sudah berhasil kulalui. Aku bersyukur sekaligus lega dapat menginjakkan kaki di tahun 2019 yang telah memasuki bulan ketiga ini. Dari berbagai peristiwa yang telah kualami, ada satu pesan penting yang dapat kupetik, bahwa kita senantiasa membutuhkan Tuhan.

Kita adalah ranting dan Tuhanlah pokok anggurnya (Yohanes 15). Agar kita dapat bertumbuh, kita perlu melekat terus kepada-Nya dan cara agar kita dapat terus melekat adalah dengan tekun dan setia membangun hubungan yang dekat dengan Tuhan.

Namun, kuakui, sulit untuk tetap konsisten menjalaninya.

Sejak aku menerima Kristus sebagai Juruselamat, aku belajar untuk selalu membina relasi yang erat bersama Tuhan dengan rutin bersaat teduh. Tetapi, kadangkala aku merasa malas, menunda-nunda, bahkan sibuk dengan hal-hal lain. Membaca Alkitab dan berdoa hanya kulakukan di ibadah hari Minggu. Pernah aku merasa malu pada diriku sendiri, ketika aku terlibat dalam pelayanan di gereja tetapi tidak bergerak dalam hubungan yang akrab dengan Tuhan setiap hari. Hingga aku berpikir, apalah artinya sibuk bekerja, aktif melayani Tuhan di gereja, suka menolong orang lain, tapi aku sendiri tidak memiliki hubungan yang erat dengan-Nya.

Berangkat dari kegelisahan itu, aku pun belajar untuk memperbaiki hubungan pribadiku dengan Tuhan. Dan, puji Tuhan, sekarang aku bisa kembali menikmati keindahan-Nya. Aku yang dulu merasa seperti domba yang hilang telah dituntun Sang Gembala yang baik dan menjadi lebih dekat pada-Nya.

Jika kamu pernah mengalami hal yang sama sepertiku, ada tiga hal yang bisa kamu lakukan ketika melakukan disiplin rohani saat teduh terasa susah buatmu.

1. Kita dapat berkaca pada teladan tokoh Alkitab

Aku teringat pada tokoh Alkitab seperti Daniel yang selalu memprioritaskan relasinya dengan Tuhan. Dalam Daniel 6:11, tertulis bahwa Daniel tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Tuhan. Hal ini menarik mengingat Daniel pada kala itu telah diangkat sebagai salah satu dari tiga pejabat tinggi yang membawahi pemerintahan Raja Darius (Daniel 6:1-4). Dengan jabatan seperti itu, kita dapat mengetahui bahwa Daniel mungkin punya banyak aktivitas. Namun, ia tidak mengabaikan relasi dengan Tuhan.

Tuhan Yesus juga memberi kita teladan yang baik mengenai relasi pribadi-Nya dengan Bapa. Injil Markus 1:35 mencatat demikian, “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.” Yesus memilih waktu pagi hari sebab ketika hari telah terang, Dia harus melayani banyak orang. Teladan doa Yesus juga ditunjukkan-Nya ketika Dia berada di Taman Getsemani. Yesus berdoa mengungkapkan ketakutan hati-Nya namun menyerahkan segala-Nya kepada Bapa agar kehendak Bapalah yang terjadi (Lukas 22:41-44).

Dari dua teladan ini aku tersadar bahwa tekun menjalin relasi dengan Tuhan membuat kita semakin mengenal-Nya, peka mendengar suara-Nya, dan kita pun dapat mengetahui apa yang jadi kehendak-Nya buat kita.

2. Kita dapat mengatur waktu yang tepat buat kita

Menjalankan disiplin rohani di masa kini kupikir adalah hal yang sulit. Kesibukan kita mungkin menggoda kita untuk mengabaikan relasi dengan Tuhan. Untuk mengatasinya, aku belajar untuk menyediakan waktu khusus untuk datang kepada Tuhan. Buatku sendiri, waktu yang paling tepat adalah pagi hari.

Aku bangun lebih awal dan bersaat teduh di tempat yang tenang. Namun, jika semisal aku terlambat bangun, itu tidak berarti aku tidak akan bersaat teduh sepanjang hari. Aku mencari waktu lain yang sekiranya tepat untukku dapat benar-benar menikmati dan mengalami momen perjumpaanku dengan Tuhan.

Yang terpenting sesungguhnya bukanlah soal kapan waktunya, melainkan bagaimana sikap hati kita. Jika kita sungguh ingin mengenal Tuhan, tentu kita akan menyisihkan waktu terbaik kita, bukan memberikan waktu sisa kita untuk-Nya.

3. Kita dapat menggunakan penuntun saat teduh

Untuk menolongku memahami firman Tuhan dengan lebih jelas, aku menggunakan buku renungan yang menuntunku bersaat teduh. Tapi, perlu diingat, bahwa buku renungan ini hanyalah penuntun, bukan materi utama yang harus dibaca. Yang terutama tetap adalah Alkitab, yang adalah firman Tuhan.

Ketika kita memiliki motivasi yang kuat untuk merenungkan firman-Nya dan kasih setia-Nya bagi kita, hasrat kita untuk terus berjumpa dengan Allah secara pribadi akan terus bertumbuh. Tugas kita adalah memberi diri untuk dipimpin oleh Roh Kudus dalam proses perjuangan kita berdisiplin rohani.

“Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu” (Yakobus 4:8a). Kiranya kita senantiasa diingatkan untuk selalu konsisten memprioritaskan relasi kita dengan Tuhan dan bersungguh-sungguh menerapkan disiplin rohani di sepanjang hidup kita.

Di dunia ini, tidak ada yang melebihi sukacita hidup, selain memiliki dan menikmati hubungan yang akrab dengan Sang Pencipta dan meyakini bahwa surga—rumah abadi—adalah tujuan akhir dari perjalanan hidup kita di dunia yang fana ini. Roh kudus menolong kita, terpujilah nama-Nya.

Baca Juga:

Sebuah Doa yang Mengubahkan Hatiku

Jika mengingat kembali doa-doaku dulu, rasanya berdoa itu sudah ada templatenya. Tanpa perlu pikir panjang, aku bisa berdoa dengan singkat. Hingga suatu ketika, aku jatuh ke dalam situasi yang membuatku tak bisa berdoa. Tapi, justru di dalam keadaan inilah aku diajar untuk bagaimana seharusnya berdoa.

Gagal Bukan Berarti Masa Depanku Suram, Inilah Kisahku Ketika Dinyatakan Tidak Lulus SMA

Gagal-Bukan-Berarti-Masa-Depanku-Suram,-Inilah-Kisahku-Ketika-Dinyatakan-Tidak-Lulus-SMA

Oleh Abyasat Tandirura, Toraja

Delapan tahun lalu, tepatnya di tanggal 16 Juni 2009 adalah hari yang tidak pernah bisa kulupakan. Siang itu, aku dan teman-teman seangkatanku sedang was-was menantikan pengumuman kelulusan kami. Seperti peribahasa untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, hari itu aku menerima sebuah amplop pengumuman yang menyatakan bahwa aku tidak lulus SMA.

Aku sangat sedih dan merasa tidak percaya. Tatkala teman-temanku bersukaria menerima kelulusan mereka, aku menangis terisak-isak. Beberapa teman dan guruku datang memelukku. Waktu itu suasana hatiku kacau. Aku merasa bahwa Tuhan berlaku tidak adil kepadaku.

Dalam benakku, aku tidak pernah membayangkan akan kegagalan yang menimpaku. Selama tiga tahun aku telah berusaha dan aku percaya bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia. Tapi, hari itu harapanku untuk lulus menjadi tinggal kenangan. Akupun bertanya-tanya dalam hati. Apakah Tuhan tidak memberkatiku selama tiga tahun belajar? Mengapa harus aku yang mengalaminya? Sebegitu bodohkah aku sehingga tidak lulus? Apa yang harus kulakukan untuk masa depanku?

Di ruangan kepala sekolah, guru-guruku memberiku semangat dan nasihat. Mereka mengatakan kepadaku untuk tetap sabar karena ada hikmah di balik kegagalan ini. Waktu itu, ketua kelasku yang sekarang telah dipanggil Tuhan juga menepuk pundakku dan menyemangatiku. Dukungan dari mereka membuatku sedikit tenang walaupun masih sesekali meneteskan air mata. Di lubuk hatiku, aku berdoa meminta kekuatan supaya aku bisa menghadapi kenyataan yang sulit itu.

Aku pulang ke rumah dengan hati yang remuk redam. Ingin rasanya menyembunyikan diriku dari orang lain. Aku berbaring di kasur, mengurung diri berjam-jam, dan menatap langit-langit kamarku dengan tatapan kosong. Aku kembali menangis. Aku malu kepada keluargaku, guru-guruku di sekolah, teman-temanku, juga kepada guru sekolah mingguku dulu.

Selama dua hari aku merasakan semangatku hilang. Dalam benakku, aku membayangkan masa depanku yang mungkin saja suram karena tidak lulus SMA. Tapi, di tengah kesedihan itu aku teringat perkataan guru sekolah mingguku dulu ketika di gereja. Dia pernah berkata bahwa kita bisa mencurahkan isi hati kita kepada Tuhan Yesus dengan berdoa. Aku sadar bahwa aku terlalu banyak mengeluh dan tidak berdoa kepada Tuhan.

Dalam doaku, aku berdoa bukan supaya Tuhan mengubah ketidaklulusanku menjadi lulus, melainkan supaya aku boleh diberi kekuatan untuk menjalani hari-hariku ke depan. Sekalipun hatiku masih berat untuk menerima kegagalan itu, tapi aku tetap berusaha untuk berdoa. Aku selalu menangis ketika berdoa dan mencurahkan isi hatiku kepada-Nya.

Beberapa hari berlalu. Salah seorang guruku memberiku kabar untuk mempersiapkan diri mengikuti ujian paket C. Mendengar kabar itu, hatiku melonjak gembira. Ternyata, aku masih punya kesempatan untuk lulus. Selain aku, ada beberapa teman dari sekolahku dan juga dari sekolah-sekolah lain yang senasib denganku dan harus mengikuti ujian paket C.

Bagiku, ujian paket C yang kuikuti itu adalah sebuah cara Tuhan untuk membangkitkan kembali semangat hidupku. Lewat kesempatan itu, Tuhan menunjukkan bahwa Ia mengasihiku dan tidak membiarkanku sedih berlarut-larut. Dia memberiku kesempatan satu kali lagi untuk bangkit. Keluarga dan teman-temanku juga memberiku semangat. Ayahku berkata, “Kegagalan itu bukan akhir dari segalanya. Kegagalanmu adalah keberhasilan yang tertunda.”

Sejak saat itu, aku bertekad untuk bangkit dari kekecewaan. Aku belajar untuk menerima kegagalan itu dengan tulus dan tidak lagi membanding-bandingkan diriku dengan teman-teman lain. Setelah ujian paket C itu selesai kuikuti dan aku dinyatakan lulus, aku melanjutkan pendidikanku di perguruan tinggi vokasi selama empat tahun. Aku mengambil Jurusan Teknik Kimia, Program Studi Teknologi Kimia Industri, di sebuah politeknik negeri di kota Makassar. Sekarang, aku telah lulus dan bekerja. Aku tahu bahwa perjalanan hidupku masih panjang dan aku harus memiliki niat dan kerja keras untuk mewujudkan masa depanku.

Kegagalan yang kualami delapan tahun silam membukakan mataku akan penyertaan Tuhan dalam hidupku. Tatkala aku tidak lulus Ujian Nasional, Tuhan mengizinkan hal itu terjadi supaya aku lebih kuat apabila di masa depan ada kegagalan-kegagalan lain yang harus kuhadapi. Lewat proses yang menyakitkan, Tuhan membentuk aku supaya menjadi pribadi yang dewasa dalam iman dan sikap. Pengalamanku akan kegagalan inilah yang menjadi sebuah kesaksian hidupku tentang betapa indahnya karya Tuhan. Kepada teman-temanku yang pernah mengalami kegagalan, aku membagikan kesaksianku dan menguatkan mereka bahwa kegagalan yang mereka alami bukanlah akhir dari segalanya.

Sebagai manusia biasa, kegagalan-kegagalan yang pernah kita alami adalah hal yang wajar. Kita tidak tahu kapan dan kegagalan apa yang akan menimpa kita. Lewat pengalaman kegagalan yang pernah kualami, aku mendapatkan pelajaran hidup bahwa, apapun bentuk kegagalan yang pernah, sedang dan yang mungkin akan menimpa kita, jangan sekali-kali menyalahkan Tuhan. Rancangan-Nya selalu yang terbaik dan indah pada waktunya. Jangan pernah berpikir, jika kita sedang gagal, tidak ada lagi harapan. Tuhan setia dengan janji-Nya, sebagaimana Ia berkata, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibrani 13:5b).

Selalu ada harapan bagi setiap orang yang percaya kepada Kristus. Mengucap syukurlah dalam segala hal. Jangan lupa untuk selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap perjuangan-perjuangan kita.

“Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang” (Amsal 23:18).

Baca Juga:

Sekalipun Aku Tuli, Tetapi Tuhan Tidaklah Tuli

Pernahkah kalian bergumul karena kekurangan fisik yang kalian alami? Aku pernah mendapatkan perlakuan tidak baik, merasa dikucilkan, bahkan juga mengalami diskriminasi karena sebuah cacat fisik yang kualami sejak lahir. Hidup dengan keadaan disabilitas sejatinya tidaklah mudah buatku, namun karena penyertaan Tuhan sajalah aku bisa melewati hari-hariku.

Kisah Orang Majus Keempat

kisah-orang-majus-keempat

Oleh Abyasat Tandirura, Makassar

Natal adalah sebuah momen yang sangat istimewa yang aku nanti-nantikan setiap tahun. Bagiku, itu adalah sebuah momen yang mengingatkanku bahwa ada Pribadi yang mengasihiku tanpa syarat, menerimaku apa adanya, bahkan menyelamatkanku, agar kelak aku beroleh kehidupan yang kekal dan dapat tinggal bersama-Nya selamanya.

Meski Natal dirayakan dengan tradisi yang berbeda di setiap penjuru dunia, sebagai orang percaya, kita percaya bahwa Natal adalah tentang kelahiran Yesus Kristus, Sang Juruselamat dunia.

Apa yang menarik perhatianmu tentang Natal? Apakah tentang perayaannya? Liturginya? Khotbahnya? Ataukah banyaknya kado-kado Natal? Atau baju baru dan sepatu baru?

Sejujurnya, dahulu ketika aku masih mengikuti Sekolah Minggu, aku tertarik pada semuanya. Apalagi mendapatkan kado Natal, itu sangat menyenangkan! Namun, kini Natal menjadi titik balik dalam hidupku untuk merenungkan kasih Bapa yang begitu besar bagiku dan memikirkan bagaimana aku meneruskan kasih itu kepada sesamaku. Ketika aku sulit mengasihi orang lain, aku bercermin pada sebuah kasih-Nya yang tidak pernah bersyarat, kasih yang menerimaku apa adanya.

Ketika aku merenungkan kembali tentang Natal, aku teringat akan sebuah kisah fiksi yang pernah aku baca beberapa tahun lalu tentang kisah orang Majus keempat, yang bernama Artaban. Kisah ini dimuat pada sebuah majalah rohani yang tergeletak di ruangan kelasku di SMA. Aku membacanya beberapa kali dan kemudian menulisnya kembali dalam secarik kertas dan kusimpan baik-baik. Kisah ini mengingatkanku untuk belajar dari teladan yang diberikan oleh Artaban.

Berikut adalah kisahnya (yang aku ceritakan kembali):

Artaban adalah orang Majus keempat yang tidak mendapat kesempatan untuk bisa bertemu dengan Tuhan Yesus, ketika Dia dilahirkan di Betlehem. Padahal sebelumnya Artaban telah menjual sejumlah harta kekayaannya agar dia bisa mempersembahkannya untuk Sang Raja yang akan dilahirkan. Dari hasil tersebut, dia membeli tiga buah batu permata yang sangat berharga antara lain batu permata saphir baru, rubi merah, dan mutiara putih.

Dia telah berjanji untuk bertemu di suatu tempat khusus dengan ketiga orang Majus lainnya, yaitu Caspar, Mekhior, dan Balthasar. Karena waktu sangat mendesak, Artaban akan ditinggal oleh mereka jika terlambat datang.

Dalam perjalanan, Artaban melihat ada orang yang terbaring di tengah jalan. Rupanya orang tersebut sedang menderita sakit berat dan sangat membutuhkan pertolongan. Jika dia tidak menolong orang tersebut, orang itu akan meninggal dunia, sebab dia berada di suatu tempat yang sunyi dan jauh dari tempat penduduk. Tetapi, jika dia menolongnya, dia pasti akan terlambat dan akan ditinggal pergi oleh kawan-kawannya yang lain.

Walaupun demikian, dia meyakini bahwa menolong jiwa orang lain adalah lebih penting. Dia rela ditinggalkan oleh kawan-kawannya. Akibatnya, tidak hanya dia ditinggal teman-temannya, dia juga harus menjual batu permata saphir yang awalnya dia siapkan untuk diberikan kepada Yesus, Sang Raja, sebab dia harus membiayai seluruh biaya karavan mulai dari unta-unta, makanan, minuman, dan pemandu jalan untuk melewati padang pasir. Dia pun merasa sedih karena Sang Raja tidak akan mendapatkan batu saphir itu.

Walaupun dia berusaha mengejar kawan-kawannya secepat mungkin, ternyata setibanya di Betlehem dia terlambat lagi karena Yusuf, Maria, dan bayi Yesus sudah tidak ada di sana lagi.

Pada saat Artaban tiba di Betlehem, prajurit-prajurit raja Herodes sedang dengan ganasnya menjalankan perintah Herodes untuk membunuh para bayi. Di tempat dia menginap, bayi putra pemilik penginapannya hendak dibunuh pula oleh seorang komandan dari pihak Herodes. Artaban melihat dan mendengar ratapan tangis ibu bayi tersebut dan dia merasa tidak tega dan merasa terpanggil untuk menolongnya. Oleh sebab itu, dia memutuskan untuk menukar bayi tersebut dengan batu rubi yang dibawanya. Hal ini membuat Artaban bertambah sedih, karena batu permatanya untuk Sang Raja semakin berkurang bahkan hanya tinggal satu saja.

Sebelum dia tiba di Yerusalem, tiga puluh tahun lebih dia mencari Sang Raja di mana-mana dan dia merasa tercengang ketika mendengar bahwa Sang Raja yang dicarinya selama bertahun-tahun akan disalib di Golgota.

Walaupun demikian, dia masih terhibur, sebab dia masih memiliki batu permata terakhir, yaitu batu mutiara putih yang dia pikir dapat dia gunakan untuk menebus hidup Sang Raja agar Dia tidak disalib, seperti halnya ketika dia menebus hidup sang bayi, pada saat berada di Betlehem.

Dalam perjalanan menuju ke Golgota, dia melihat seorang anak perempuan menangis dan meratap minta tolong kepadanya. “Tuan tolonglah saya, para prajurit akan menjual diri saya sebagai budak karena ayah saya mempunyai banyak utang dan tidak mampu melunasinya. Oleh sebab itulah sebagai gantinya dia mengambil diri saya untuk dijual. Tolonglah saya, Tuan!”

Walaupun Artaban sedang terburu-buru, dia melihat keadaan sangat mendesak. Sebelum anak ini dijual dan dijadikan budak untuk seumur hidupnya, maka lebih baik dia menukar batu mutiaranya untuk menebus anak itu.

Setelah itu, langit menjadi gelap gulita dan terjadi gempa bumi. Artaban jatuh tertimpa puing yang jatuh dari atap, dan terluka. Tiba-tiba dia menggerakkan bibirnya dan berkata, “Tuhan, kapan aku melihat Tuhan lapar dan aku memberi Tuhan makan? Atau ketika Tuhan haus lalu aku memberi Tuhan minum? Kapan aku melihat Tuhan sakit atau di dalam penjara, dan aku mengunjungi Tuhan? Tiga puluh tiga tahun aku mencari Engkau, dan tidak sekali pun aku dapat bertemu dengan Engkau dan melayani Engkau, Rajaku.”

Dan dari jauh terdengar suara sayup-sayup yang sangat lembut menjawab, “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”

Setelah itu meninggallah Artaban. Dia meninggal dengan mulut penuh senyuman, karena dia mengetahui bahwa semua jerih payahnya dan semua hadiah untuk Sang Raja telah diterima oleh-Nya dengan baik.

Kisah Artaban mengajarkanku untuk tidak hanya memperhatikan kebutuhan diriku sendiri saja, tetapi juga memperhatikan kebutuhan orang lain. Seringkali, kita hanya berfokus kepada kebutuhan kita, dan kurang peka melihat kebutuhan orang lain. Begitu pula denganku. Aku melihat diriku masih susah untuk peka pada kebutuhan orang lain. Kalau aku melihat sekitarku, sesungguhnya banyak orang yang perlu ditolong. Namun, aku lebih sering menutup mata terhadap mereka. Aku seolah-olah menganggap dirikulah yang perlu ditolong. Aku berpikir, aku tidak punya harta benda atau uang yang cukup untuk menolong mereka.

Namun, kisah Artaban di atas telah menolongku untuk mengubah cara pandangku tentang kepedulianku kepada orang lain. Sekalipun aku tidak punya banyak harta atau uang untuk menolong mereka, aku juga dapat menolong mereka dengan hadir bagi mereka, mendengarkan keluhan, mendoakan, dan menguatkan mereka. Yang terpenting adalah kita melakukannya dengan penuh kasih. Ketika kita memberi dalam kasih, aku yakin ada rasa bahagia yang terpancar di hati kita.

Peristiwa Natal telah menunjukkan kepedulian dan kasih Allah bagi dunia ini. Dia memberikan Anak-Nya yang tunggal sebagai pemberian istimewa yang akan membawa manusia berdosa kepada jalan keselamatan. Yesus, semasa hidup-Nya, juga memberi diri-Nya untuk taat kepada kehendak Bapa-Nya, bahkan taat sampai Dia mati di kayu salib. Itu sebabnya, di momen Natal, kita punya kesempatan yang terbuka untuk menyatakan kasih Allah lewat tindakan kasih kita kepada orang-orang di sekeliling kita. Apa saja yang sanggup kita berikan, berikanlah dengan senang hati, tanpa paksaan, dan dengan motivasi yang benar.

Aku belajar memberi sesuatu kepada temanku beberapa tahun lalu, sebagai kado ulang tahun. Aku memberikan beberapa buku rohani yang aku pikir bisa bermanfaat untuknya dalam mendukung pertumbuhan rohaninya. Meskipun aku juga sangat menyukai buku itu, namun aku juga tahu bahwa temanku membutuhkannya. Di sinilah aku belajar menanggalkan keegoisanku, belajar peka pada kebutuhan orang lain, dan belajar membangun kehidupan orang lain.

Seperti Yesus yang telah lahir ke dalam dunia, memberikan kehidupan dan keselamatan kepada siapa saja yang mau menerima-Nya, bersediakah kita memberikan hidup kita kepada-Nya, melalui perbuatan kasih kita kepada sesama kita? Kisah Artaban mendorongku melakukannya. Terlebih karena Yesus telah lahir bagiku, dan telah menyempurnakan kasih-Nya di dalamku. Bagaimana denganmu?

Selamat Natal, selamat berbagi kasih, Imanuel!

Baca Juga:

Tak Kusangka, Pelayanan Kecil yang Kulakukan Ternyata Begitu Berarti

Beberapa waktu lalu, aku disibukkan dengan sebuah kegiatan penggalangan dana. Lewat penjualan gelang denim, aku dan kawan-kawan pemuda gerejaku rindu memberikan donasi sebagai sebuah bentuk dukungan bagi sebuah komunitas yang melayani anak-anak punk. Dana terkumpul, dan aku kira cerita telah usai. Ternyata tidak.

3 Hal yang Membuat Kematian Yesus Berbeda

Penulis: Abyasat Tandirura

Kematian-yang-istimewa

Kematian itu menakutkan. Bisa merenggut siapa saja tanpa memandang usia. Dua tahun silam, nenekku meninggal setelah menjalani perawatan di rumah sakit selama beberapa hari. Sebulan setelah pemakamannya, keponakan perempuanku yang masih bayi juga meninggal dunia. Bersama keluarga besar di Toraja, aku mengikuti ritual panjang pemakaman jenazah dengan perasaan campur aduk.

Di Toraja, jenazah tidak dimakamkan begitu saja. Ada ritual panjang yang disebut Rambu Solo’ (Rambu=asap, Solo’=turun) yang meliputi penyembelihan hewan (kerbau dan babi) dengan jumlah yang tidak sedikit. Menurut kepercayaan leluhur orang Toraja (aluk todolo), makin banyak hewan yang dikurbankan, makin cepat roh orang yang meninggal mencapai Puya (dunia arwah, tempat perhentian sejatinya). Biayanya yang fantastis membuat ada yang berkata bahwa “orang Toraja itu hidup hanya untuk mempersiapkan kematian”.

Setelah Injil masuk ke Toraja lebih dari 100 tahun lalu, pandangan orang Toraja sudah banyak berubah. Yang diyakini dapat membawa orang ke tempat perhentian sejati (surga) bukan lagi kurban hewan yang banyak, melainkan Yesus Kristus saja. Yesus telah mati disalib sebagai kurban yang sempurna, sehingga setiap orang yang percaya kepada-Nya dapat memasuki tempat perhentian yang kekal (surga). Kalaupun orang masih menyumbang dan menyembelih hewan, kebanyakan orang Toraja memaknainya hanya sebagai simbol penghormatan dan kasih kepada orang yang meninggal sekaligus wujud empati terhadap keluarga yang berduka. Ritual rambu solo kini menjadi sarana mempererat tali kasih persaudaraan dan semangat kekeluargaan. Di dalamnya ada kebaktian penghiburan bagi segenap keluarga besar yang ditinggalkan.

Mengikuti rangkaian pemakaman kedua anggota keluarga yang sangat kukasihi membuat aku banyak merenungkan kembali tentang kematian. Secara khusus, aku diingatkan pada kematian Yesus Kristus yang sangat berbeda dengan kematian manusia pada umumnya.

1. Yesus memilih untuk memberikan nyawa-Nya sekalipun Dia sebenarnya berkuasa untuk menghindari kematian.

Nenekku meninggal di usia 80-an, sedangkan keponakan perempuanku di usia 42 hari. Tidak seorang pun di dunia ini yang tahu persis kapan kematian akan menjemputnya. Namun, Yesus berbeda. Dia tahu kapan “saatnya tiba” (bandingkan Yohanes 7:30 dengan Markus 14:41-42). Yesus mati bukan karena Dia tidak berdaya menghadapi kematian, namun karena Dia memang memilih untuk menyerahkan nyawa-Nya (Yohanes 10:17-18; 2 Korintus 5:15). Kebangkitan-Nya setelah tiga hari kemudian menegaskan fakta bahwa Yesus berkuasa atas kehidupan dan kematian. Sebab itulah, kita dapat mempercayakan hidup dan mati kita kepada-Nya.

2. Yesus rela mati dalam kehinaan sekalipun Dia adalah Anak Allah yang layak dihormati.

Seringkali besarnya acara pemakaman dianggap menjadi simbol penghormatan dan kasih keluarga kepada orang yang meninggal. Dalam Rambu Solo’ yang aku ikuti bahkan ada yang namanya Ma’badong, suatu tarian kedukaan yang disertai lantunan syair ratapan.

Yesus mati disalib bersama para penjahat, hukuman paling hina pada zaman itu. Tidak ada ritual khusus yang mengantar kematian-Nya, orang-orang yang mengasihi-Nya mungkin hanya bisa melihat dan menangis dari jauh. Dia bahkan dimakamkan secara sembunyi-sembunyi di kuburan milik orang lain (Matius 27:57-60; Yohanes 19:38). Padahal, Yesus adalah Pribadi yang selayaknya mendapat penghormatan tertinggi. Tanda-tanda ajaib menjelang kematian-Nya membuat kepala pasukan dan para prajurit yang berjaga di dekat-Nya mau tidak mau mengakui bahwa Dia sungguh adalah Anak Allah (Matius 27:45-54).

Yesus menunjukkan kepada kita bahwa menaati Allah dan mendapatkan penghormatan-Nya itu jauh lebih penting daripada penghormatan manusia (Yohanes 17:4; Filipi 2:5-11). Melalui kematian-Nya Yesus menunjukkan betapa besar kasih Allah kepada kita (Yohanes 3:16; Roma 5:10).

3. Yesus mati untuk memberikan kehidupan kekal bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya.

Kerinduan leluhur orang Toraja adalah masuk ke dalam tempat perhentian yang sejati. Segala harta diberikan demi bisa mengurbankan banyak hewan yang dipercaya dapat mengantar roh mereka menuju ke sana. Yesus mati untuk menjawab kerinduan orang Toraja dan semua manusia akan tempat perhentian yang sejati (surga) itu. Dia adalah jalan kepada Allah Bapa dan sedang menyediakan tempat kediaman abadi bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya (Yohanes 14:1-7). Kelak, Dia akan datang kembali untuk membawa kita yang percaya tinggal bersama-Nya (ayat 3).

Betapa istimewanya kematian Yesus! Setiap kali mengingat-Nya, aku dihiburkan, karena Yesus menunjukkan kepadaku betapa besar kasih Allah kepadaku. Kematian bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari kehidupan yang baru bersama Allah selamanya. Meski di dunia ini, maut bisa memisahkan kita dengan orang-orang yang kita kasihi, di surga nanti, setiap orang yang percaya kepada-Nya akan kembali bertemu dan tinggal bersama dalam sukacita abadi, sebagaimana yang dinubuatkan nabi Yesaya: “... dan orang-orang yang dibebaskan TUHAN akan pulang dan masuk ke Sion dengan bersorak-sorai, sedang sukacita abadi meliputi mereka; kegirangan dan sukacita akan memenuhi mereka, kedukaan dan keluh kesah akan menjauh” (Yesaya 35:10).

 

Untuk direnungkan lebih lanjut

Apa arti kematian dan kebangkitan Yesus untukmu?
Yuk bagikan dalam kolom komentar di bawah ini…

Bukan Lagi Aku, Melainkan Kristus

Penulis: Abyasat Tandirura
Ilustrator: Galih Reza Suseno

Bukan-Aku-Melainkan-Kristus

Menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi adalah keputusan terbesar dan terpenting yang pernah aku buat dalam hidupku, karena aku yakin, hanya di dalam Yesus saja aku beroleh keselamatan dan hidup yang kekal (Kisah Para Rasul 4:12, Yohanes 3:16). Akan tetapi, dalam menjalani hidup sehari-hari aku sadar bahwa aku tidak lebih baik dari orang lain. Sering aku bertanya pada diri sendiri, apakah aku benar-benar telah menjadi pengikut-Nya?

Salah satu contoh sederhana, aku tahu bahwa ketika aku menyebut Yesus sebagai Tuhan, itu artinya Yesus harus menjadi pusat dari seluruh hidupku, baik itu dalam pikiran, tutur kata, dan perbuatanku. Yesus harus menjadi yang terutama dalam hidupku. Namun, kenyataannya, susah untuk menomorsatukan Tuhan dalam hidup setiap hari. Seringkali, kemalasan mengalahkan niatku untuk bersaat teduh di pagi hari. Sibuk, buru-buru, tidak sempat. Ada saja alasan yang membuatku sulit meluangkan waktu untuk berbicara dengan Tuhan dalam doa secara teratur. Aku bahkan sempat malu jika kelihatan sedang berdoa di tempat umum.

Sebagai pengikut Kristus, aku tahu bahwa aku harus meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama dan mulai bertumbuh serupa Kristus. Namun terus terang, menjadi serupa Kristus itu tidak mudah. Sulit sekali untuk merendahkan hati dan membangun sikap mengampuni saat orang lain menyakitiku. Rasanya hampir mustahil menanggalkan sikap “suka marah-marah” yang sudah begitu lama ada dalam diriku. Menyontek adalah jalan pintas yang jauh lebih menarik daripada bertekun untuk belajar secara teratur dan memohon hikmat dari Tuhan. Berfokus pada diri sendiri dan semua pergumulan pribadiku jauh lebih mudah daripada memperhatikan kepentingan orang lain, apalagi mendoakan mereka.

Aku mulai mengerti mengapa Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Lukas 9:23). Memiliki identitas sebagai seorang Kristen saja ternyata tidak menjamin seseorang menjadi seorang pengikut Kristus sejati. Adakalanya, keakuan kita menggeser Tuhan dari takhta-Nya dalam hidup kita. Kita hanya menganggap-Nya sebagai “tamu” yang datang sewaktu-waktu, bukan “Raja” yang berhak mengendalikan hidup kita sepanjang waktu.

Alkitab memberitahukan bahwa Yesus Kristus mati dan bangkit untuk menjadikan kita sebagai ciptaan yang baru (2 Korintus 5:17). Itu berarti meninggalkan cara hidup kita yang lama dan memulai pola hidup baru. Kita tidak lagi dikuasai oleh keinginan daging kita, tetapi oleh Yesus. Menyangkal diri dan memikul salib setiap hari berarti bersedia meninggalkan zona nyaman kita agar dapat mengikut Yesus. Kita berkata “tidak” pada kehendak pribadi agar dapat berkata “ya” pada kehendak Yesus. Kita berani dan konsisten menerapkan kebenaran yang sudah kita tahu, sekalipun risikonya kita mungkin harus “menderita” seperti Yesus.

Bagiku pribadi, ini adalah proses seumur hidup. Setiap hari adalah perjuangan iman untuk memusatkan diri pada Kristus. Setiap hari adalah proses jatuh bangun untuk sungguh-sungguh mengikut Dia. Kita pasti akan gagal jika hanya mengandalkan kekuatan sendiri. Namun, kita bersyukur ada Roh Kudus yang menyertai dan menolong setiap orang yang percaya kepada Kristus. Bersama Rasul Paulus, kita bisa berkata, “Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Galatia 2:20).

 
Untuk direnungkan lebih lanjut
Kebenaran apa yang sebenarnya sudah kamu tahu, tetapi tidak pernah atau sangat jarang kamu lakukan hingga hari ini? Apa yang membuatmu sulit melakukannya?