<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>WarungSateKaMu.org</title>
	<atom:link href="http://www.warungsatekamu.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.warungsatekamu.org</link>
	<description>Warung Saat Teduh Kaum Muda — Wadah interaktif penuh inspirasi dari firman Tuhan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 22 Feb 2012 17:00:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	
		<item>
		<title>Dibutuhkan Pertolongan</title>
		<link>http://www.warungsatekamu.org/2012/02/dibutuhkan-pertolongan/</link>
		<comments>http://www.warungsatekamu.org/2012/02/dibutuhkan-pertolongan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Feb 2012 17:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[SaTe Kamu]]></category>
		<category><![CDATA[Santapan Rohani]]></category>
		<category><![CDATA[Doa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.warungsatekamu.org/2012/02/sr23-02-2012</guid>
		<description><![CDATA[SANTAPAN ROHANI
Kamis, 23 Februari 2012

Selama Perang Dunia II, wilayah Kepulauan Inggris menjadi garis batas terakhir dari perlawanan menentang penindasan Nazi yang menyapu benua Eropa. Namun karena menerima serangan tanpa henti dan berada di ambang kehancuran, Inggris pun kekurangan sumber daya untuk mengatasi konflik dan meraih kemenangan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kamis, 23 Februari 2012</strong></p>
<p><img class="alignnone" src="http://www.warungsatekamu.org/wp-content/uploads/2012/image-sr/ODB_230212.jpg" alt="" width="520" height="390" /></p>
<p>Baca:  <a href="http://sabdaweb.sabda.org/passages/?p=Ibrani+4%3A9-16&amp;s=on" target="_blank">Ibrani 4:9-16</a></p>
<p><strong><em>Marilah kita dengan  penuh keberanian  menghampiri takhta kasih  karunia, supaya kita  menerima rahmat dan  menemukan kasih karunia  untuk mendapat  pertolongan kita pada  waktunya. —Ibrani 4:16 </em></strong></p>
<p>Selama Perang Dunia II, wilayah Kepulauan  Inggris menjadi garis batas terakhir dari  perlawanan menentang penindasan Nazi yang  menyapu benua Eropa. Namun karena  menerima serangan tanpa henti dan berada di  ambang kehancuran, Inggris pun kekurangan  sumber daya untuk mengatasi konflik dan  meraih kemenangan. Karena alasan itulah,  perdana menteri Inggris, Winston Churchill,  memberikan siaran di radio BBC dan  memohon kepada dunia: “Berilah kami  perlengkapannya, dan kami akan menuntaskan  perjuangan ini.” Ia mengetahui bahwa tanpa  pertolongan dari luar, mereka tidak akan dapat  bertahan terhadap serangan yang mereka  hadapi.</p>
<p>Hidup juga seperti itu. Sering kali, kita  memang tidak mampu menghadapi kesulitan  yang melanda hidup kita dan kita membutuhkan  pertolongan dari luar diri kita.  Sebagai sesama anggota dari tubuh Kristus,  pertolongan terkadang dapat datang melalui saudara-saudara seiman  kita (Rm. 12:10-13), dan itu adalah hal yang sangat indah. Namun,  pada akhirnya kita perlu mencari pertolongan dari Bapa surgawi kita.  Kabar terbaiknya adalah bahwa Allah kita telah mengundang kita untuk  datang kepada-Nya dengan penuh keyakinan: “Sebab itu marilah kita  dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya  kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapatkan  pertolongan kita pada waktunya” (Ibr. 4:16).</p>
<p>Pada saat-saat itulah, sumber daya terbesar kita adalah doa, karena  doa membawa kita masuk ke dalam hadirat Allah. Di sanalah, oleh  kemurahan dan anugerah-Nya, kita akan menemukan pertolongan yang  kita butuhkan. —WEC</p>
<p style="text-align: center;"><em>Allah telah memberimu janji-Nya,<br />
Bahwa Dia mendengar dan menjawab doa,<br />
Dia akan memperhatikan permohonanmu<br />
Jika kepada-Nya, engkau serahkan kekhawatiranmu. —Bernstecher </em></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Di masa-masa sulit, jadikan doa  sebagai pertolongan pertama Anda. </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.warungsatekamu.org/2012/02/dibutuhkan-pertolongan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seorang Pria Biasa</title>
		<link>http://www.warungsatekamu.org/2012/02/seorang-pria-biasa/</link>
		<comments>http://www.warungsatekamu.org/2012/02/seorang-pria-biasa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2012 17:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[SaTe Kamu]]></category>
		<category><![CDATA[Santapan Rohani]]></category>
		<category><![CDATA[Bersaksi]]></category>
		<category><![CDATA[Kesaksian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.warungsatekamu.org/2012/02/sr22-02-2012</guid>
		<description><![CDATA[SANTAPAN ROHANI
Rabu, 22 Februari 2012

Steve adalah seorang pria biasa. Tanpa banyak bicara, ia melayani di gereja di mana saya beribadah bertahun-tahun yang lalu. Ia menolong mempersiapkan perjamuan, membersihkan trotoar gereja dari salju di musim dingin, dan memangkas rumput di halaman gereja pada musim panas.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Rabu, 22 Februari 2012</strong></p>
<p><img class="alignnone" src="http://www.warungsatekamu.org/wp-content/uploads/2012/image-sr/ODB_220212.jpg" alt="" width="520" height="390" /></p>
<p>Baca:  <a href="http://sabdaweb.sabda.org/passages/?p=Yohanes+10%3A31-42&amp;s=on" target="_blank">Yohanes 10:31-42</a></p>
<p><strong><em>Yohanes memang tidak  membuat satu tanda pun,  tetapi semua yang pernah  dikatakan Yohanes tentang  [Yesus] adalah benar.  —Yohanes 10:41 </em></strong></p>
<p>Steve adalah seorang pria biasa. Tanpa  banyak bicara, ia melayani di gereja di  mana saya beribadah bertahun-tahun yang  lalu. Ia menolong mempersiapkan perjamuan,  membersihkan trotoar gereja dari salju di  musim dingin, dan memangkas rumput di  halaman gereja pada musim panas. Ia  menghabiskan banyak waktu bersama para  remaja putra yang sudah yatim. Saya sering  mendengar bahwa dengan gayanya yang  sederhana, ia bercerita kepada orang-orang di  gereja tentang betapa baiknya Tuhan  kepadanya. Selama persekutuan doa, ia tidak  berbicara banyak tentang dirinya sendiri,  tetapi meminta kami untuk berdoa bagi orangorang  yang telah mendengar kesaksiannya  tentang pengampunan dan kasih Yesus.</p>
<p>Satu ayat di Yohanes 10 tentang Yohanes  Pembaptis membuat saya teringat kepada  Steve. “Dan banyak orang datang kepada-Nya  dan berkata: ‘Yohanes memang tidak membuat  satu tanda pun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang  [Yesus] adalah benar’” (ay.41). Yohanes tidak mengadakan mukjizat  seperti yang Yesus lakukan. Dia tidak membicarakan dirinya sendiri,  tetapi datang untuk “memberi kesaksian tentang Terang itu, supaya  oleh dia semua orang menjadi percaya” (1:7). Ia berkata tentang Yesus,  “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia” (1:29).  Teman saya, Steve, juga memberi kesaksian tentang Terang itu juga.</p>
<p>Tujuan kita sebagai pengikut Yesus adalah melakukan hal yang  sama—untuk “memberi kesaksian tentang Terang itu.” Kita hanyalah  orang-orang biasa, melayani Allah di mana pun kita ditempatkan di  dunia ini. Dengan tingkah laku dan perkataan kita yang sederhana, mari  kita bawa orang lain kepada Terang itu! —AMC</p>
<p style="text-align: center;"><em>Terlihat seperti apakah orang Kristen?<br />
Apakah yang membedakan hidup mereka?<br />
Mereka hanyalah orang-orang biasa<br />
Yang mengasihi Allah dengan segenap hati mereka. —D. De Haan </em></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Orang Kristen adalah orang biasa yang mengabdikan  dirinya kepada Kristus, Pribadi yang luar biasa. </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.warungsatekamu.org/2012/02/seorang-pria-biasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengingat Akan Kasih</title>
		<link>http://www.warungsatekamu.org/2012/02/pengingat-akan-kasih/</link>
		<comments>http://www.warungsatekamu.org/2012/02/pengingat-akan-kasih/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2012 08:00:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>WarungSateKamu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Pena Kamu]]></category>
		<category><![CDATA[Kasih]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.warungsatekamu.org/?p=8060</guid>
		<description><![CDATA[Setelah Amerika terlibat di dalam Perang Dunia II di tahun 1941, Estelle mencoba untuk membujuk pacarnya, Sidney, supaya tidak menjadi anggota militer. Namun, Sidney telah mendaftar dan memulai pelatihannya di bulan April tahun berikutnya. Selama tiga tahun selanjutnya, ia menulis surat cintanya kepada Estelle, dan totalnya sebanyak 525 surat. Lalu di bulan Maret 1945, Estelle mengetahui bahwa tunangannya terkasih telah terbunuh di peperangan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.warungsatekamu.org/wp-content/uploads/2012/02/valentines-1.jpg"><img src="http://www.warungsatekamu.org/wp-content/uploads/2012/02/valentines-1.jpg" alt="" title="" width="628" class="alignnone size-full wp-image-8063" /></a></p>
<p><em>Ilustrasi oleh <strong>Shares Yehezky</strong></em></p>
<p><em>Artikel oleh <strong>Anne Cetas</strong></em></p>
<p><em><strong>Allah adalah kasih. —1 Yohanes 4:8</strong></em></p>
<p>Setelah Amerika terlibat di dalam Perang Dunia II di tahun 1941, Estelle mencoba untuk membujuk pacarnya, Sidney, supaya tidak menjadi anggota militer. Namun, Sidney telah mendaftar dan memulai pelatihannya di bulan April tahun berikutnya. Selama tiga tahun selanjutnya, ia menulis surat cintanya kepada Estelle, dan totalnya sebanyak 525 surat. Lalu di bulan Maret 1945, Estelle mengetahui bahwa tunangannya terkasih telah terbunuh di peperangan.</p>
<p>Meskipun Estelle akhirnya menikah dengan orang lain, kenangan-kenangan tentang cinta pertamanya tetap hidup di hatinya. Untuk mengenang kasihnya itu, lebih dari 60 tahun kemudian, ia menerbitkan buku yang berisi surat-surat yang ditulis Sidney di masa perang.</p>
<p>Sama seperti surat-suratnya Sidney, Tuhan memberi kita pengingat akan kasih-Nya, yaitu Alkitab. Dia mengatakan: &#8220;Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu&#8221; (Yer. 31:3).</p>
<p>&#8220;Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu&#8221; (Yoh. 15:9).</p>
<p>Alkitab juga mengatakan kepada kita bahwa &#8220;Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya&#8221; (Ef. 5:25).</p>
<p>&#8220;[Yesus] telah menyerahkan diri-Nya bagi kita untuk membebaskan kita dari segala kejahatan&#8221; (Tit. 2:14).</p>
<p>&#8220;Allah adalah kasih&#8221; (1 Yoh. 4:8).</p>
<p>Bacalah firman Allah secara teratur supaya kita diingatkan bahwa Yesus mengasihi kita dan telah mati bagi kita.</p>
<p><small srtyle="text-align:right;">Artikel ini diadaptasi dari artikel Santapan Rohani 31 Agustus 2009</small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.warungsatekamu.org/2012/02/pengingat-akan-kasih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Orang Yang Enggan?</title>
		<link>http://www.warungsatekamu.org/2012/02/orang-yang-enggan/</link>
		<comments>http://www.warungsatekamu.org/2012/02/orang-yang-enggan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Feb 2012 17:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[SaTe Kamu]]></category>
		<category><![CDATA[Santapan Rohani]]></category>
		<category><![CDATA[Kemalasan]]></category>
		<category><![CDATA[Ketaatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.warungsatekamu.org/2012/02/sr21-02-2012</guid>
		<description><![CDATA[SANTAPAN ROHANI
Selasa, 21 Februari 2012

Ketika mempelajari kitab Amsal dalam kelompok Pemahaman Alkitab kami, pemimpin kami memberi usul untuk mendeskripsikan kata pemalas sebagai orang yang enggan (Amsal 6:6,9). Saya jadi dapat memahami lebih jelas apa maksud kata tersebut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Selasa, 21 Februari 2012</strong></p>
<p><img class="alignnone" src="http://www.warungsatekamu.org/wp-content/uploads/2012/image-sr/ODB_210212.jpg" alt="" width="520" height="390" /></p>
<p>Baca:  <a href="http://sabdaweb.sabda.org/passages/?p=Amsal+6%3A6-11&amp;s=on" target="_blank">Amsal 6:6-11</a></p>
<p><strong><em>Hai pemalas, berapa lama  lagi engkau berbaring?  —Amsal 6:9 </em></strong></p>
<p>Ketika mempelajari kitab Amsal dalam  kelompok Pemahaman Alkitab kami,  pemimpin kami memberi usul untuk  mendeskripsikan kata pemalas sebagai <em>orang  yang enggan</em> (6:6,9). Saya jadi dapat  memahami lebih jelas apa maksud kata  tersebut. Segera saja, saya mulai  membayangkan siapa saja yang saya anggap  sebagai orang yang enggan.</p>
<p>Contohnya, para ayah dan ibu yang gagal  mendidik dan mendisiplinkan anak-anak  mereka. Atau para pria yang menolak untuk  menolong pekerjaan di rumah. Atau para  remaja yang mengabaikan pendidikan mereka  dan memilih untuk bermain di internet  sepanjang hari.</p>
<p>Jika jujur, bisa jadi kita semua terjangkit  sikap enggan ini. Apakah kita adalah “orang  yang enggan berdoa” (1 Tes. 5:17-18), atau  “orang yang enggan membaca Alkitab”  (Mzm. 119:103; 2 Tim. 3:16-17) atau “orang  yang enggan menggunakan karunia rohani” (Rm. 12:4-8), atau “orang  yang enggan bersaksi?” (Mat. 28:19-20; Kis. 1:8).</p>
<p>Jika kita tidak melakukan apa yang kita ketahui dikehendaki  Allah supaya kita lakukan, sudah pasti kita adalah orang-orang yang  enggan rohani. Sebenarnya, ketika kita menolak untuk menaati Allah,  kita <em>berbuat dosa</em>.</p>
<p>Perhatikanlah perkataan yang menantang dan menegur dari kitab  Yakobus ini: “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik,  tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa” (4:17). Marilah kita tidak  menjadi orang yang enggan rohani. —CHK</p>
<p style="text-align: center;"><em>Ketika tahu apa yang dikehendaki Allah untuk kita lakukan,<br />
Namun kemudian kita menolak untuk taat,  Kita mengabaikan suara Tuhan,<br />
Dan dengan berdosa memilih jalan kita sendiri. —Sper </em><em><br />
</em></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Kita mungkin punya alasan untuk tidak menaati Allah, tetapi Dia tetap menyebutnya sebagai ketidaktaatan. </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.warungsatekamu.org/2012/02/orang-yang-enggan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Obat Bagi Ketakutan</title>
		<link>http://www.warungsatekamu.org/2012/02/obat-bagi-ketakutan/</link>
		<comments>http://www.warungsatekamu.org/2012/02/obat-bagi-ketakutan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Feb 2012 17:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[SaTe Kamu]]></category>
		<category><![CDATA[Santapan Rohani]]></category>
		<category><![CDATA[Takut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.warungsatekamu.org/2012/02/sr20-02-2012</guid>
		<description><![CDATA[SANTAPAN ROHANI
Senin, 20 Februari 2012

Dalam pidato pelantikannya sebagai presiden terpilih Amerika yang baru pada tahun 1933, Franklin D. Roosevelt, berpidato kepada suatu bangsa yang masih terpuruk akibat mengalami Depresi Besar.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Senin, 20 Februari 2012</strong></p>
<p><img class="alignnone" src="http://www.warungsatekamu.org/wp-content/uploads/2012/image-sr/ODB_200212.jpg" alt="" width="520" height="390" /></p>
<p>Baca:  <a href="http://sabdaweb.sabda.org/passages/?p=Mazmur+34%3A1-10&amp;s=on" target="_blank">Mazmur 34:2-11</a></p>
<p><strong><em>Aku telah mencari Tuhan,  lalu Ia menjawab aku, dan  melepaskan aku dari  segala kegentaranku.  —Mazmur 34:5</em></strong></p>
<p>Dalam pidato pelantikannya sebagai presiden terpilih Amerika yang baru pada  tahun 1933, Franklin D. Roosevelt, berpidato  kepada suatu bangsa yang masih terpuruk  akibat mengalami Depresi Besar. Dengan  harapan dapat memicu pandangan yang lebih  optimis menghadapi krisis ekonomi tersebut,  ia menyatakan, “Satu-satunya hal yang perlu  kita takuti adalah ketakutan itu sendiri!”</p>
<p>Ketakutan sering muncul dalam hidup kita  ketika kita menghadapi risiko kehilangan  sesuatu—kekayaan, kesehatan, reputasi, kedudukan, rasa aman, keluarga, temanteman  kita. Ketakutan menyingkapkan  keinginan batin kita yang terdalam untuk  melindungi hal-hal yang penting bagi kita,  daripada untuk mempercayakan semua itu  sepenuhnya dalam pemeliharaan dan kendali  Allah. Ketika ketakutan menguasai, ia akan  melumpuhkan emosi kita dan menguras  kekuatan rohani kita. Kita jadi takut  menceritakan tentang Kristus kepada orang lain, memberikan hidup  dan harta kita demi kepentingan orang lain, atau untuk mencoba hal-hal  yang baru. Jiwa yang diliputi ketakutan akan jauh lebih rentan terhadap  si musuh, yang menggoda kita untuk mengkompromikan keyakinan  iman dan menjerumuskan kita untuk bersandar pada diri sendiri.</p>
<p>Obat bagi ketakutan, tentunya, adalah sikap percaya kepada Pencipta  kita. Hanya ketika kita mempercayai bahwa kehadiran, kuasa,  perlindungan, dan pemeliharaan Allah bagi hidup kita itu nyata, kita  baru dapat turut merasakan sukacita Pemazmur yang berkata, “Aku telah mencari Tuhan, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari  segala kegentaranku” (Mzm. 34:5). —JMS</p>
<p style="text-align: center;"><em>Kekuatan serta penghiburan<br />
Diberikan Tuhan padaku.<br />
Tiap hari aku dibimbing-Nya;<br />
Tiap jam dihibur hatiku. —Berg </em><br />
(Kidung Jemaat, No.332)</p>
<p style="text-align: center;"><strong>Sikap percaya kepada Tuhan adalah obat untuk jiwa yang penuh ketakutan.</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.warungsatekamu.org/2012/02/obat-bagi-ketakutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perkataan Dari Tuhan</title>
		<link>http://www.warungsatekamu.org/2012/02/perkataan-dari-tuhan/</link>
		<comments>http://www.warungsatekamu.org/2012/02/perkataan-dari-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Feb 2012 17:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[SaTe Kamu]]></category>
		<category><![CDATA[Santapan Rohani]]></category>
		<category><![CDATA[Alkitab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.warungsatekamu.org/2012/02/sr19-02-2012</guid>
		<description><![CDATA[SANTAPAN ROHANI
Minggu, 19 Februari 2012

Pengkhotbah dan teolog terkemuka, Helmut Thielicke (1908–1986), mengalami perlawanan luar biasa dari rezim Nazi di Jerman selama dekade 1930-an dan 1940-an. Meski demikian, ia tetap tekun memberitakan kehadiran dan kuasa Allah dalam Yesus Kristus pada masa-masa yang sulit dan kacau itu.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Minggu, 19 Februari 2012</strong></p>
<p><img class="alignnone" src="http://www.warungsatekamu.org/wp-content/uploads/2012/image-sr/ODB_190212.jpg" alt="" width="520" height="390" /></p>
<p>Baca:  <a href="http://sabdaweb.sabda.org/passages/?p=1+Samuel+3%3A1-10&amp;s=on" target="_blank">1 Samuel 3:1-10</a></p>
<p><strong><em>Pada masa itu firman  Tuhan jarang.  —1 Samuel 3:1</em></strong></p>
<p>Pengkhotbah dan teolog terkemuka,  Helmut Thielicke (1908–1986),  mengalami perlawanan luar biasa dari rezim  Nazi di Jerman selama dekade 1930-an dan  1940-an. Meski demikian, ia tetap tekun  memberitakan kehadiran dan kuasa Allah  dalam Yesus Kristus pada masa-masa yang  sulit dan kacau itu. Robert Smith, seorang  cendekiawan, mengatakan bahwa ketika  Thielicke membahas isu dan masalah zaman  modern dalam khotbah-khotbahnya, “ia  mencoba mencari jawaban dari pertanyaan,  ‘Apakah ada perkataan dari Tuhan?’”  Bukankah itu juga yang kita cari saat ini?  Apakah yang telah Allah katakan yang akan  menguatkan dan memimpin kita dalam  melalui segala kesulitan dan kesempatan yang  kita hadapi?</p>
<p>1 Samuel 3 menggambarkan suatu masa  ketika “firman Tuhan jarang” (ay.1). Ketika  Allah berbicara kepada Samuel yang masih  muda, ia salah mengira dengan menganggap imam Eli yang sudah tua  itu yang memanggilnya. Eli mengatakan kepada Samuel untuk  menanggapi suara Allah dengan berkata, “Berbicaralah, Tuhan, sebab  hamba-Mu mendengar” (ay.9). Samuel mendengarkan, dan ia kemudian  dikenal sebagai seorang yang hidup dengan setia dan berani, “sebab Ia  menyatakan diri di Silo kepada Samuel dengan perantaraan firman-  Nya” (ay.21).</p>
<p>Kapan pun kita membuka Alkitab, mendengarkan khotbah, atau  berdiam diri untuk berdoa, alangkah baiknya kita untuk punya sikap  yang berkata, “Tuhan Yesus, berbicaralah kepadaku. Aku siap  mendengar dan bersedia untuk taat.” —DCM</p>
<p style="text-align: center;"><em>Allah yang menciptakan dunia dengan kuasa firman-Nya<br />
Berbicara melalui Kitab Suci, kebenarannya harus dinyatakan<br />
Dan jika kita membaca dengan kerinduan untuk taat<br />
Roh-Nya akan menunjukkan jalan-Nya kepada kita. —D. De Haan </em></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Allah berbicara melalui firman-Nya  bagi mereka yang mendengar dengan hati. </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.warungsatekamu.org/2012/02/perkataan-dari-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengundang Pertanyaan</title>
		<link>http://www.warungsatekamu.org/2012/02/mengundang-pertanyaan/</link>
		<comments>http://www.warungsatekamu.org/2012/02/mengundang-pertanyaan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Feb 2012 17:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[SaTe Kamu]]></category>
		<category><![CDATA[Santapan Rohani]]></category>
		<category><![CDATA[Pertanyaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.warungsatekamu.org/2012/02/sr18-02-2012</guid>
		<description><![CDATA[SANTAPAN ROHANI
Sabtu, 18 Februari 2012

Ketika mengajar, terkadang saya memakai moto “Tanyakan pada yang berwenang” untuk mendapatkan perhatian dari para mahasiswa. Saya bukan mengundang mereka untuk menentang kewenangan saya, melainkan mendorong mereka untuk bertanya pada saya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Sabtu, 18 Februari 2012</strong></p>
<p><img class="alignnone" src="http://www.warungsatekamu.org/wp-content/uploads/2012/image-sr/ODB_180212.jpg" alt="" width="520" height="390" /></p>
<p>Baca:  <a href="http://sabdaweb.sabda.org/passages/?p=Keluaran+12%3A1-13&amp;s=on" target="_blank">Keluaran 12:1-13</a></p>
<p><strong><em>Siap sedialah pada segala  waktu untuk memberi  pertanggungan jawab  kepada tiap-tiap orang  yang meminta  pertanggungan jawab  dari kamu tentang  pengharapan yang ada  padamu. —1 Petrus 3:15</em></strong></p>
<p>Ketika mengajar, terkadang saya memakai  moto “Tanyakan pada yang berwenang”  untuk mendapatkan perhatian dari para  mahasiswa. Saya bukan mengundang mereka  untuk menentang kewenangan saya, melainkan  mendorong mereka untuk bertanya pada  saya. Sejumlah ahli pendidikan mengatakan  bahwa pembelajaran lebih banyak terjadi  ketika para guru menjawab pertanyaan  daripada ketika mereka menyampaikan  informasi. Sudah menjadi sifat kita untuk  menilai apa yang ingin kita ketahui lebih  tinggi dibandingkan dengan apa yang orang  lain ingin katakan kepada kita.</p>
<p>Tentu saja kedua tipe pengajaran tersebut  dapat diterapkan bersama, tetapi mengundang  diajukannya pertanyaan merupakan salah satu  hal awal yang kita temukan dalam Kitab Suci.  Bahkan sebelum orang Israel meninggalkan  Mesir, Tuhan memerintahkan kepada Musa  untuk mengadakan suatu ritual yang  mendorong orang untuk bertanya. Perayaan Paskah dirancang untuk  mempunyai dua maksud: mengingatkan orang dewasa tentang  pembebasan yang dikerjakan Allah, dan membuat anak-anak mereka  menanyakan tentang hal tersebut (Kel. 12:26).</p>
<p>Pertanyaan “Mengapa” bisa jadi terdengar menjengkelkan, tetapi  pertanyaan itu juga dapat menjadi suatu kesempatan indah untuk  mempertanggungjawabkan iman kita (1 Ptr. 3:15). Daripada menjadi  tidak sabar ketika orang lain bertanya, kita dapat bersyukur bahwa  mereka memiliki hati dan pikiran yang terbuka untuk belajar.  Pertanyaan yang mereka ajukan memberi kita kesempatan untuk  menjawab dengan penuh kasih dan kecermatan, karena kita mengetahui  bahwa perkataan kita dapat memiliki dampak yang kekal. —JAL</p>
<p style="text-align: center;"><em>Tuhan, kiranya aku menjadi orang yang mudah didekati dan terbuka<br />
untuk mendengarkan pertanyaan orang lain. Kiranya aku tak merasa<br />
terancam, tetapi yakin bahwa Engkau memberiku hikmat untuk tahu<br />
bagaimana menjawab atau di mana menemukan jawabannya. Amin. </em></p>
<p style="text-align: center;"><strong> Pertanyaan yang jujur dapat menuntun  pada jawaban yang membangun iman. </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.warungsatekamu.org/2012/02/mengundang-pertanyaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berdampingan</title>
		<link>http://www.warungsatekamu.org/2012/02/berdampingan/</link>
		<comments>http://www.warungsatekamu.org/2012/02/berdampingan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Feb 2012 17:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[SaTe Kamu]]></category>
		<category><![CDATA[Santapan Rohani]]></category>
		<category><![CDATA[Pengasuhan Anak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.warungsatekamu.org/2012/02/sr17-02-2012</guid>
		<description><![CDATA[SANTAPAN ROHANI
Jumat, 17 Februari 2012

Dalam album foto keluarga saya, ada selembar foto putri saya di usianya yang ke-4 sedang bekerja di samping saya, dengan memakai palu mainan untuk memperbaiki dinding rumah kami.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Jumat, 17 Februari 2012</strong></p>
<p><img class="alignnone" src="http://www.warungsatekamu.org/wp-content/uploads/2012/image-sr/ODB_170212.jpg" alt="" width="520" height="390" /></p>
<p>Baca:  <a href="http://sabdaweb.sabda.org/passages/?p=Ulangan+6%3A1-9&amp;s=on" target="_blank">Ulangan 6:1-9</a></p>
<p><strong><em> Haruslah engkau  mengajarkannya berulang-ulang  kepada anak-anakmu  dan membicarakannya  apabila engkau duduk di  rumahmu, apabila engkau  sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring  dan apabila engkau  bangun. —Ulangan 6:7 </em></strong></p>
<p>Dalam album foto keluarga saya, ada  selembar foto putri saya di usianya yang  ke-4 sedang bekerja di samping saya, dengan  memakai palu mainan untuk memperbaiki  dinding rumah kami. Hari itu kami bekerja  berdampingan; ia menirukan setiap tindakan  saya, dan merasa sangat yakin bahwa ia juga  sedang memperbaiki rumah. Jarang sekali  saya dapat menikmati pekerjaan rumah seperti  ini. Dari foto itu, saya dapat melihat bahwa  putri saya juga menikmatinya.</p>
<p>Foto tersebut mengingatkan saya bahwa  anak-anak kita meniru sebagian besar apa  yang mereka lihat dalam diri kita, baik  perkataan maupun perbuatan kita. Mereka  juga membentuk gambaran mereka tentang  Allah dari gambaran yang mereka lihat dalam  diri kita sebagai orangtua. Jika kita bersikap  keras dan tak berbelas kasihan, kemungkinan  besar mereka akan melihat Allah juga punya  sikap seperti itu. Jika kita bersikap tidak  peduli dan dingin, demikian juga Allah akan terlihat seperti itu di mata  mereka. Menjadi salah satu tugas kita yang terpenting sebagai orangtua  untuk menolong anak-anak kita melihat siapa Allah sebenarnya,  terutama sifat kasih-Nya yang tak bersyarat.</p>
<p>Saya dapat membayangkan bahwa album foto tentang hubungan saya  dengan Allah memiliki gambar yang serupa. Saya belajar dari Allah  tentang bagaimana menjalani hidup, bagaimana mengasihi, dan  bagaimana menjadikan semua itu sebagai bagian yang menetap dalam  diri saya. Dia pun mengajarkan kepada saya bagaimana mengajar  orang lain (Ul. 6:1-7).</p>
<p>Kiranya Tuhan mengaruniakan kepada kita suatu pemahaman tentang  Dia dan hikmat untuk meneruskannya kepada anak-anak kita. —RKK</p>
<p style="text-align: center;"><em>Kita harus mengajar anak-anak kita dengan jelas<br />
Tentang apa yang benar dan apa yang salah;<br />
Hiduplah di hadapan mereka sebagai teladan<br />
Yang saleh, jujur, suci, dan teguh. —Fitzhugh </em></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Untuk mengajar anak-anak Anda dengan baik,  perkenankan Allah mengajar Anda. </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.warungsatekamu.org/2012/02/berdampingan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sedang Terpuruk?</title>
		<link>http://www.warungsatekamu.org/2012/02/sedang-terpuruk/</link>
		<comments>http://www.warungsatekamu.org/2012/02/sedang-terpuruk/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Feb 2012 17:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[SaTe Kamu]]></category>
		<category><![CDATA[Santapan Rohani]]></category>
		<category><![CDATA[Dukacita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.warungsatekamu.org/2012/02/sr16-02-2012</guid>
		<description><![CDATA[SANTAPAN ROHANI
Kamis, 16 Februari 2012

Karena saya telah menulis banyak artikel dan sejilid buku tentang menghadapi kehilangan dalam hidup, saya berkesempatan untuk diperkenalkan dengan sejumlah orang yang bergumul dengan hal serupa di sepanjang perjalanan hidup saya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kamis, 16 Februari 2012</strong></p>
<p><img class="alignnone" src="http://www.warungsatekamu.org/wp-content/uploads/2012/image-sr/ODB_160212.jpg" alt="" width="520" height="390" /></p>
<p>Baca:  <a href="http://sabdaweb.sabda.org/passages/?p=Mazmur+116%3A1-6&amp;s=on" target="_blank">Mazmur 116:1-6</a></p>
<p><strong><em> Allah itu bagi kita  tempat perlindungan  dan kekuatan, sebagai  penolong dalam kesesakan  sangat terbukti.  —Mazmur 46:2 </em></strong></p>
<p>Karena saya telah menulis banyak artikel  dan sejilid buku tentang menghadapi  kehilangan dalam hidup, saya berkesempatan  untuk diperkenalkan dengan sejumlah orang  yang bergumul dengan hal serupa di sepanjang  perjalanan hidup saya. Salah satu dari teman  baru saya adalah seorang ibu yang secara  mendadak kehilangan putri berusia 21 tahun  pada tahun 2009, dan peristiwa itu  membuatnya terguncang. Ia berkata kepada  saya, “Saya merasa seperti orang asing di  tengah dunia ini. Saya merasa remuk redam  dan jiwa saya begitu menderita.”</p>
<p>Memang rasa kehilangan yang melanda  dapat membuat kita terpuruk—apakah itu  kematian dalam keluarga, anak yang menjauh  dari Allah dan keluarga, atau kelemahan fisik  maupun mental.</p>
<p>Namun apa yang saya temukan adalah  sesuatu yang dinyanyikan dengan jelas oleh  seorang musisi, Jeremy Camp, dalam lagu  yang ditulisnya setelah kematian sang istri di tahun 2001: Saat engkau  terpuruk oleh kesulitan hidup, ingatlah bahwa “Allah itu bagi kita  tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan  sangat terbukti” (Mzm. 46:2). Alasan tersebut cukup kuat untuk  membuat kita bangkit lagi. Camp menggambarkan pergumulannya  dalam lagu berjudul <em>Understand (Mengerti)</em>. Ia bertanya, “Mengapa  aku tidak bangkit lagi?” Dan ia menyadari bahwa ia dapat melakukannya  karena “Aku tahu Engkau mengerti segalanya.”</p>
<p>Ketika masalah membuat kita terpuruk, kita dapat memandang ke  atas. Allah ada di sana. Dia mengerti dan peduli. Tentu ini tidak mudah,  tetapi kita dapat mempercayai-Nya untuk menolong kita bangkit  kembali. —JDB</p>
<p style="text-align: center;"><em>Bukalah matamu, engkau yang putus asa,<br />
Tuhanlah yang akan menjadi penolongmu;<br />
Engkau punya Sahabat di surga yang menghibur,<br />
Dan menenangkan laut yang bergelombang. —NN. </em></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Penderitaan dunia paling dirasakan di surga. </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.warungsatekamu.org/2012/02/sedang-terpuruk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lagi, Lagi, Lagi</title>
		<link>http://www.warungsatekamu.org/2012/02/lagi-lagi-lagi/</link>
		<comments>http://www.warungsatekamu.org/2012/02/lagi-lagi-lagi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Feb 2012 17:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[SaTe Kamu]]></category>
		<category><![CDATA[Santapan Rohani]]></category>
		<category><![CDATA[Kepuasan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.warungsatekamu.org/2012/02/sr15-02-2012</guid>
		<description><![CDATA[SANTAPAN ROHANI
Rabu, 15 Februari 2012

Karena kini putri saya sedang belajar berbicara, ia telah mengadopsi satu kata favorit: lagi. Ia akan mengatakan “lagi” sambil menunjuk pada roti bakar yang diolesi selai.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Rabu, 15 Februari 2012</strong></p>
<p><img class="alignnone" src="http://www.warungsatekamu.org/wp-content/uploads/2012/image-sr/ODB_150212.jpg" alt="" width="520" height="390" /></p>
<p>Baca:  <a href="http://sabdaweb.sabda.org/passages/?p=Filipi+4%3A10-20&amp;s=on" target="_blank">Filipi 4:10-20</a></p>
<p><strong><em> Aku telah belajar  mencukupkan diri  dalam segala keadaan.  —Filipi 4:11 </em></strong></p>
<p>Karena kini putri saya sedang belajar  berbicara, ia telah mengadopsi satu kata  favorit: <em>lagi</em>. Ia akan mengatakan “lagi” sambil  menunjuk pada roti bakar yang diolesi selai.  Ia mengulurkan telapak tangannya dan  mengatakan, “Lagi!” ketika suami saya  memberinya sejumlah uang logam untuk  mengisi celengannya. Ia bahkan menjerit,  “Ayah, lagi!” di suatu pagi setelah ayahnya  berangkat kerja.</p>
<p>Seperti putri kecil saya, kebanyakan dari  kita melihat ke sekitar kita dan meminta “lagi”  dan “lagi.” Sayangnya, kita tidak pernah  merasa cukup. Kita memerlukan kuasa Kristus  untuk mematahkan siklus tersebut sehingga  kita dapat berkata seperti Paulus, “Aku telah  belajar mencukupkan diri dalam segala  keadaan” (Flp. 4:11).</p>
<p>Frasa “aku telah belajar” menyatakan  kepada saya bahwa Paulus tidaklah menghadapi  setiap situasi yang ada dengan  senyuman. Belajar mencukupkan diri itu membutuhkan latihan.  Pengalaman Paulus terdiri dari pasang surut kehidupan, mulai dari  digigit ular hingga menyelamatkan jiwa; dari ditimpa tuduhan palsu  hingga membangun jemaat di berbagai kota. Meski demikian, ia  menyatakan bahwa Yesus adalah jawaban yang membawa kepuasaan  bagi jiwanya. Ia berkata, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam  Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (ay.13). Yesus telah memberinya  ketangguhan rohani untuk bertahan di masa paceklik dan menghindari  jerat dosa yang datang dari masa kelimpahan.</p>
<p>Jika Anda merasa bahwa Anda menginginkan “lagi, lagi, lagi,”  ingatlah bahwa kepuasan sejati dialami ketika Anda menikmati Kristus  “lagi dan lagi”. —JBS</p>
<p style="text-align: center;"><em>Janganlah kecewa karena hal-hal duniawi;<br />
Semua itu tak akan pernah memuaskan.<br />
Rahasia kepuasan itu terletak pada<br />
Mempercayai Tuhan akan menyediakan. —D. De Haan </em></p>
<p style="text-align: center;"><strong>Kepuasan yang sejati tak tergantung  pada apa pun yang ada di dunia ini. </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.warungsatekamu.org/2012/02/lagi-lagi-lagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

