04 – April 2017: Anugerah

Surat Kepada Diriku yang Dulu adalah Seorang Gay

Oleh Raphael Zhang, Singapura

Teruntuk Raphael,
Aku adalah dirimu sendiri di 10 tahun yang akan datang. Sebelum aku mulai berbicara tentang banyak hal, aku ingin kamu tahu bahwa Tuhan begitu mengasihimu dan kamu sangat berharga bagi-Nya.
Aku tahu kalau saat ini kamu tidak merasa kalau Tuhan benar-benar mengasihimu karena Dia memintamu untuk berhenti menjalin hubungan sebagai seorang gay. Kamu merasa bahwa satu-satunya kebahagiaanmu telah dihancurkan.

Lanjut baca...

Ketika Aku Tidak Bisa Merasakan Hadirat Tuhan

Oleh Edna Ho, Malaysia

Dalam sebuah aula, ratusan orang dari berbagai daerah di Malaysia telah berkumpul untuk sebuah acara konvensi tahunan yang diselenggarakan oleh gerejaku. Aku begitu bersemangat untuk mengikuti acara ini. Dalam hati aku berkata, “Inilah waktunya. Ada begitu banyak orang yang haus dan lapar akan firman Tuhan di sini. Hadirat Tuhan pasti ada di tempat ini dan aku yakin bahwa ketika Tuhan berbicara kepada jemaat-Nya, maka Dia juga akan berbicara kepadaku.”

Lanjut baca...

Ketika Aku Menjawab Panggilan-Nya untuk Melayani di Gereja

Oleh Lovesa Oktaviana, Bandung

“Telah lama kucari-cari langkah hidup yang lebih pasti,” demikianlah penggalan lirik sebuah lagu yang sepertinya cocok dengan keadaanku. Aku lahir di keluarga Kristen yang menjadikanku otomatis Kristen juga. Namun, sejak kecil aku hanya menjadi simpatisan yang berpindah-pindah gereja mengikuti orangtuaku. Tak pernah terpikir olehku untuk menetap dan melayani di suatu gereja.

Lanjut baca...

Ketika Jumat Agung Menjadi Hari yang Menyedihkan Hatiku

Oleh Laura M., Amerika Serikat

Beberapa tahun yang lalu aku pernah mengalami sebuah peristiwa yang menyedihkan di hari Jumat Agung. Salah seorang teman terdekatku sejak di bangku sekolah dulu, Erica, meninggal dunia secara tiba-tiba karena kecelakaan mobil. Sejak duduk di bangku SD hingga SMA kami sering berada dalam satu grup.

Lanjut baca...

Mengenang Dia

Puji syukur karena penderitaan itu bukanlah akhir.
Karena kematian-Nya, kita beroleh harapan.
Karena kebangkitan-Nya, kita beroleh kehidupan.
Karena kedatangan-Nya kembali, kita beroleh masa depan.

Lanjut baca...

3 Alasan Mengapa Orang Kristen Harus Mendengar Injil Kembali

Oleh Joanna Hor, Singapura

“Selamat pagi! Silakan ambil traktat Injil ini cuma-cuma,” ucap seorang pria paruh baya sambil menyodorkan sebuah traktat yang berjudul “Seandainya” kepada seorang wanita yang berjalan di depanku. Wanita itu menolak dengan menggelengkan kepalanya. Kemudian, pria itu mendekatiku dan menawariku sebuah traktat yang sama.

Lanjut baca...

Ketika Tuhan Menolak Proposal Hidupku

Oleh Listiyani Chita Ellary, Jember

Semua orang tentu bercita-cita untuk memiliki hidup yang damai, aman, semua impian tercapai, dan tentunya tidak ada orang yang ingin hidupnya dipenuhi kerikil-kerikil tajam. Aku pun bercita-cita demikian. Sudah sejak lama aku membuat daftar rencana hidupku ke depan, mulai dari tempat kuliah, target kelulusan, nanti akan bekerja di mana, bahkan menikah di umur berapa. Semua itu telah kurencanakan dengan rapi bahkan sejak aku masih duduk di bangku sekolah.

Lanjut baca...

Wallpaper: Ibrani 4:16

“Marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.” (Ibrani 4:16)

Yuk download wallpaper bulan ini.

Lanjut baca...

Menikmati Anugerah Tuhan dalam Cacat Fisik yang Kualami

Oleh Novianne Vebriani, Bandung

Terdiam sejenak aku menikmati dinginnya malam, ditemani oleh bunyi detik jam di kamarku. Aku sedang mempersiapkan tugas akhirku untuk mendapatkan gelar Sarjana Psikologi. Jika aku mengingat kembali bagaimana akhirnya aku bisa kuliah Psikologi, aku menyadari bahwa itu semua hanya karena anugerah Tuhan. Perjalananku untuk menggapai cita-cita ini tidaklah mudah, terlebih karena sebuah cacat fisik yang kupunya sejak lahir.

Lanjut baca...
 Page 1 of 2  1  2 »