Anthonius Gunawan Agung: Teladan Hidup dari Sang Pahlawan di Tengah Bencana

Info

Oleh Aryanto Wijaya, Jakarta

Bencana alam menyisakan tangis dan pilu. Namun, kadang di balik kisah pilunya, lahir pula kisah-kisah teladan yang mengetuk pintu hati kita.

Ketika gempa bumi melanda kawasan Palu, Donggala, dan Mamuju di Sulawesi Tengah, Anthonius Gunawan Agung (22) sedang menjalankan tugasnya sebagai seorang Air Traffic Controller (ATC) alias pemandu penerbangan pesawat di Bandar Udara Mutiara Sis Al Jufri, Palu. Kala itu Antonius bertugas memandu Kapten Ricosetta Mafella yang menerbangkan pesawat Batik Air dengan nomor penerbangan ID 6231 menuju Makassar.

Pukul 17:55 pintu pesawat telah ditutup. Pukul 18:02 Anthonius mengizinkan pesawat untuk lepas landas. Tapi, belum sempat pesawat itu mengangkasa, gempa bumi berkekuatan 7,7 skala richter mengguncang. Orang-orang segera bergegas menyelamatkan diri, tapi Anthonius bergeming meski sudah diteriaki untuk segera turun dari menara pengawas. Anthonius tidak menghiraukan guncangan gempa yang terjadi, dia fokus dengan tanggung jawabnya memandu pesawat hingga mengudara dengan sempurna.

Safe flight Batik Air, take care,” ucap Antonius untuk menutup komunikasinya dengan Kapten Mafella yang saat itu sudah dalam posisi aman di udara.

Namun, kemalangan pun menimpa Anthonius. Kalimat itu jugalah yang rupanya menjadi kalimat perpisahannya. Sejurus kemudian atap menara tempatnya bertugas ambruk. Anthonius tak punya lagi waktu menyelamatkan diri. Dia gugur dalam tugasnya sebagai seorang ATC.

Apa yang dilakukan oleh Anthonius Agung adalah tindakan yang heroik. Dedikasi Anthonius kala gempa terjadi memberikan kesempatan hidup kepada seluruh penumpang dan awak dalam pesawat. Dalam ungkapan dukacitanya kepada Anthonius, Kapten Mafella menuliskan, “Thank you for keeping me and guarding me till I’m safety airborne… Wing of honor for Anthonius Gunawan Agung as my guardian angel at Palu. Rest peacefully my wing man. God be with you.” Tak terbayangkan apabila saat itu Anthonius memilih lari menyelamatkan diri di saat roda pesawat masih berada di landasan, mungkin Kapten Mafella beserta seluruh awak dan penumpangnya tidak akan sampai mengudara dengan selamat.

Kisah Anthonius ini adalah sekelumit dari kisah-kisah heroik lainnya yang mengetuk pintu hati kita. Pun, kisah ini mengingatkan kita akan dedikasi dan pengorbanan yang juga dilakukan oleh Tuhan Yesus. Kematian Yesus di kayu salib memberikan kesempatan hidup tak hanya bagi satu jiwa, melainkan bagi semua manusia yang mau menerima Dia sebagai Tuhan. Sebagai anak Allah yang mengambil rupa manusia seutuhnya, Yesus bisa saja lari dari panggilan-Nya. Yesus mungkin takut akan apa yang harus Dia hadapi. Tapi, di taman Getsemani, Dia memilih untuk berdoa, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Matius 26:39).

Yesus memilih taat pada Bapa. Yesus tidak melarikan diri dari panggilan-Nya kendati Dia tahu ada penderitaan besar yang harus Dia hadapi. Hingga akhirnya, melalui kematian Yesus kita pun dibayar lunas dari dosa-dosa kita dan melalui kebangkitan-Nya, kita dan orang-orang yang percaya kepada-Nya beroleh jaminan keselamatan berupa kehidupan yang kekal (Yohanes 3:16).

Anthonius telah mengakhiri pertandingan imannya dengan baik. Dan bagi kita yang masih diberi kesempatan di dunia, inilah waktunya untuk kita menghidupi kehidupan dengan sebaik-sebaiknya, dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab sampai tiba waktunya ketika Tuhan memanggil kita pulang kembali kepada-Nya.

Selamat jalan Anthonius, kisah kepahlawananmu adalah setetes madu yang manis di tengah getirnya bencana.

Baca Juga:

3 Alasan Mengapa Aku Menunggu

Ketika segalanya menjadi lebih cepat, kita cenderung menganggap menunggu itu sebagai sebuah proses yang berat. Namun, bukankah sesungguhnya dalam hidup ini kita selalu menunggu sesuatu?

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Aku & Saudara Seiman: Perjalanan untuk Saling Menguatkan, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2018

15 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!