Ketika Aku Mengalami Ketidakadilan di Tempat Kerjaku

Info

Oleh Liu Yang
Artikel asli dalam bahasa Mandarin: “阳仔,在帝都做销售累不累?”(有声中文)

Aku bekerja sebagai seorang sales. Seperti pekerjaan sales pada umumnya, aku pun menghadapi tekanan besar untuk mendapatkan klien dan harus mencapai target penjualan.

Baru-baru ini, manajerku memutuskan untuk mengganti tim kerja kami dengan alasan supaya kami bisa mencapai angka penjualan yang lebih tinggi. Alih-alih menanangani klien kami sendiri, aku dan temanku malah dibagi ke dalam dua tim yang berbeda, dan tiap tim bertanggung jawab atas klien dan proyek masing-masing. Meski kelihatannya kami sekarang memiliki tanggung jawab lebih, sebenarnya ada yang salah dengan pengaturan ini—konflik bisa saja muncul apabila rekan kerjaku dari dua tim yang berbeda menemui klien yang sama di waktu yang sama pula.

Malangnya, tidak butuh waktu lama untuk konflik itu terjadi. Rekan kerjaku dari tim yang lain telah memberitahu supervisor kami tentang proyek yang potensial dengan seorang klien. Aku tidak menyadari bahwa klien yang kudekati itu ternyata sama dengan klien rekanku itu. Lagipula klien itu juga tidak menyebutkan bahwa dia sudah dihubungi lebih dulu oleh rekanku.

Setelah menyusun proposal dengan teliti dan menyerahkannya kepada supervisorku untuk disetujui, dia memberitahuku bahwa rekan kerjaku sudah lebih dulu mendapatkan klien ini. Aku sangat kecewa, aku tidak bisa menyelesaikan proyek ini.

Peristiwa ini bukanlah yang pertama kali terjadi kepadaku. Waktu itu, meski kecewa, aku memilih untuk menyerah karena aku tidak ingin menimbulkan perselisihan di dalam departemenku demi memenuhi target penjualan.

Kejadian serupa pun pernah terjadi empat tahun lalu. Waktu itu aku bekerja di perusahaan lain. Aku sudah bekerja sangat keras demi sebuah proyek hingga kemudian supervisorku masuk dan mengklaim kalau proyek itu miliknya. Aku pun berusaha membantahnya karena sesungguhnya itu adalah proyek yang aku kerjakan sendiri. Aku berusaha mendapatkan proyek itu kembali. Tapi, upayaku ini mengakibatkan kondisi perusahaanku menjadi penuh keresahan.

Aku benar-benar tidak ingin melepaskan proyek itu begitu saja. Aku sudah bekerja begitu keras tanpa mengetahui pembicaraan apa yang berlangsung di antara rekan kerjaku dan klien itu. Risikonya terasa lebih besar kali ini. Jadi, aku pun bersikukuh tidak mau menyerah.

Namun akhirnya, aku memilih untuk menyerah setelah berbicara dengan supervisorku, kemudian aku membawa amarah dan rasa putus asaku ke hadapan Tuhan.

“Ya Tuhan, kalau ini bukan cara yang Engkau kehendaki supaya aku mencapai target penjualan, aku memilih untuk taat kepadamu,” ucapku dalam doa.

Setelah itu, aku pun berpikir: sedemikian pentingkah pengejaran akan sesuatu yang bersifat duniawi? Apakah aku belum memiliki karunia yang paling berharga, yaitu Tuhan Yesus sendiri?

Meskipun aku mendapatkan penghiburan dari berpikir dengan cara seperti itu, aku masih merasa sangat tidak tenang. Aku sudah bekerja sangat keras untuk mencapai target penjualan—meskipun itu harus mengorbankan kesehatanku. Suatu kali, aku bekerja sangat keras hingga tenggorokanku sakit dan aku sulit berbicara. Aku dipaksa untuk beristirahat selama sehari, tapi aku terus saja berpikir tentang target penjualanku hingga aku hampir tidak bisa beristirahat.

Hatiku terasa berat meskipun aku datang ke acara doa dan renungan bersama di gereja malam itu. Di tengah kekhawatiranku, ada banyak ayat Alkitab yang muncul di pikiranku.

Salah satu ayat adalah dari Habakuk 3:17-18, yang berkata: “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.”

Ayat lainnya yang muncul adalah dari Ayub 1:21, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telajang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”

Hatiku mengenal betul ayat-ayat ini—aku pun tahu apa yang ayat ini maksudkan, bahkan konteksnya juga. Tapi, pengetahuanku akan kebenaran Alkitab itu tidak cukup untuk menopangku di masa-masa pencobaan ini.

Ketika acara renungan itu selesai, hatiku masih merasa tidak tenang. Aku duduk di luar gereja dan berdoa: “Ya Tuhan, aku merasa sangat bersalah dan terganggu. Engkau mengetahui betapa seriusnya aku telah bekerja selama dua bulan ini. Aku akan tunduk kepada-Mu apabila memang proyek ini bukanlah untukku. Aku mungkin berkecil hati sekarang, tapi jika ini memang dari-Mu, tolong agar Engkau mempersingkat masa-masa sulit ini. Tolonglah aku untuk mengenal-Mu lebih lagi melalui rasa sakit ini.”

Setelah berdoa, aku berbicara dengan seorang rekan seimanku dan menceritakan masalahku kepadanya. Dia memang tidak menghadapi masalah yang sama denganku, tapi dia setuju bahwa meski kita mengetahui isi Alkitab dengan baik, tapi ketika pencobaan datang, seringkali kita dengan cepat merasa bimbang. Aku mulai melihat bahwa setiap kita memiliki kesusahan dan kelemahannya masing-masing, dan di masa-masa seperti ini, sangatlah penting untuk saling mengingatkan satu sama lain untuk terus mengandalkan Tuhan di masa-masa pencobaan.

Seiring aku merenungkan situasiku, aku jadi teringat akan sebuah wawancara yang pernah dilakukan oleh Jackie Chan, aktor Hong Kong yang terkenal. Pertanyaan pertama yang diajukan si pewawancara adalah, “Jackie, apa kamu merasa lelah bermain film?” Jackie Chan lalu menangis selama 15 menit selanjutnya, membuat si pewawancara tercengang. Jika seseorang menanyaiku pertanyaan yang sama, “Liu Yang, apa kamu lelah bekerja jadi seorang sales?” Kupikir aku akan menangis juga.

Di dalam perjalanan pulangku malam itu, aku meletakkan beban hidupku di hadapan Tuhan. Aku percaya Tuhan yang mengasihiku punya rencana terbaik buatku. Dan, saat aku melakukan itu, aku merasa beban-bebanku seperti terangkat dari pundakku dan hatiku pun dipenuhi kedamaian.

Keesokan harinya, aku merasa dibaharui. Meski aku bekerja, aku tidak lagi dipenuhi oleh rasa khawatir seperti yang aku rasakan beberapa hari sebelumnya. Di hari yang sama, seorang saudara seimanku dalam Kristus mendatangiku dan bertanya tentang sebuah proyek. Aku langsung memberitahu supervisorku tentang proyek yang potensial ini sebelum melakukan persiapan-persiapan yang dibutuhkan, dan komunikasi dengan klien itu pun berjalan mulus. Pada akhirnya, klien itu mempercayaiku untuk menangani proyek ini dan kami segera memutuskan tanggal penyelesaian proyek.

Ini adalah pertama kalinya aku berhasil mengamankan kesepakatan dengan klienku secara cepat dan berhasil. Aku percaya Tuhan menolongku. Dia mengganti kesempatanku yang dahulu hilang dan membuat kerja kerasku menjadi berhasil. Melalui proyek ini, perusahaanku juga mampu memasuki pasar yang baru. Hatiku dipenuhi rasa kagum dan syukur atas bagaimana cara Tuhan mengubah segalanya dalam sehari.

Ketika aku menoleh ke belakang, aku dapat melihat betapa besarnya transformasi yang Tuhan telah kerjakan dalam hidupku sejak aku menerima Kristus empat tahun lalu. Ketika aku mengingat kembali bagaimana responsku dulu ketika supervisorku mencuri proyek yang kukerjakan, hanya oleh anugerah Tuhan sajalah aku mampu merespons dengan cara yang berbeda kali ini.

Permasalahan ini juga menolongku untuk semakin yakin bahwa Tuhan peduli kepada mereka yang mengasihi dan menaati perintah-Nya. Seperti tertulis dalam Yohanes 14:21, “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”

Ketika aku berpikir tentang bagaimana perubahan hidupku selama empat tahun ini, aku menyadari bahwa semuanya ini bukanlah hasil dari kehendak atau perilakuku sendiri. Tuhanlah yang telah mengubahku menjadi pribadiku saat ini.

Aku berdoa supaya Tuhan terus memimpin dan membentukku. Aku mungkin kan menghadapi masalah atau keadaan yang sama kelak, tapi aku percaya bahwa pengalaman-pengalaman inilah yang menjadi alat untuk membentuk karakter di dalam diriku. Aku juga tahu bahwa aku mampu mengatasi masalah-masalah itu dan terus mempercayai kebaikan Tuhan daripada keadaanku sendiri, karena Dialah Satu-satunya yang memimpin dan melindungiku.

Baca Juga:

Ketika Perkataan “Aku Dukung Dalam Doa Ya” Terasa Tidak Berdampak Apa-apa

“Aku dukung kamu dalam doa ya.”

Apakah perkataan itu terasa kosong buatmu? Kadang aku pun merasa begitu. Sepertinya perkataan itu aku ucapkan ketika aku tidak bisa melakukan hal-hal lainnya untuk menolong seseorang.

facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Aku & Dunia: Perjalanan untuk Memberkati Sekitar, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2018

2 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!