Bapa yang Baik

Info

Kamis, 9 Agustus 2018

Bapa yang Baik

Baca: Mazmur 63

63:1 Mazmur Daud, ketika ia ada di padang gurun Yehuda.63:2 Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair.

63:3 Demikianlah aku memandang kepada-Mu di tempat kudus, sambil melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu.

63:4 Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau.

63:5 Demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan tanganku demi nama-Mu.

63:6 Seperti dengan lemak dan sumsum jiwaku dikenyangkan, dan dengan bibir yang bersorak-sorai mulutku memuji-muji.

63:7 Apabila aku ingat kepada-Mu di tempat tidurku, merenungkan Engkau sepanjang kawal malam, —

63:8 sungguh Engkau telah menjadi pertolonganku, dan dalam naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai.

63:9 Jiwaku melekat kepada-Mu, tangan kanan-Mu menopang aku.

63:10 Tetapi orang-orang yang berikhtiar mencabut nyawaku, akan masuk ke bagian-bagian bumi yang paling bawah.

63:11 Mereka akan diserahkan kepada kuasa pedang, mereka akan menjadi makanan anjing hutan.

63:12 Tetapi raja akan bersukacita di dalam Allah; setiap orang, yang bersumpah demi Dia, akan bermegah, karena mulut orang-orang yang mengatakan dusta akan disumbat.

Waktu berbaring di tempat tidur, kuingat pada-Mu; sepanjang malam aku merenungkan Engkau. —Mazmur 63:7 BIS

Bapa yang Baik

Ketika putra kami, Xavier, masih kecil, suami saya kerap kali harus bepergian karena pekerjaannya. Ayahnya sering menelepon, tetapi adakalanya itu tidak cukup bagi Xavier. Untuk membantu menenangkan Xavier yang merindukan ayahnya, biasanya saya mengeluarkan album foto sebelum ia tidur. Saya memperlihatkan foto-foto yang menunjukkan pengalaman mereka bersama dan bertanya, “Kamu ingat ini?” Ingatan itu menghibur anak kami, dan ia pun sering berkata, “Ayahku baik sekali.”

Saya mengerti bagaimana Xavier perlu diingatkan kembali akan kasih ayahnya di saat mereka saling berjauhan. Di saat saya mengalami masa sulit atau merasa kesepian, saya pun rindu untuk diyakinkan bahwa saya sangat dikasihi, terutama oleh Bapa saya di surga.

Daud menyuarakan kerinduannya yang mendalam akan Allah dalam persembunyiannya di padang gurun (Mzm. 63:2). Saat mengingat kembali pengalaman pribadinya dengan Allah yang Mahakuasa dan Mahakasih, Daud pun tergerak untuk memuji Allah (ay.3-6). Di sepanjang malam-malam yang berat, Daud masih tetap bersukacita dalam pemeliharaan Allah Bapanya yang penuh kasih dan yang selalu bisa diandalkannya (ay.7-9).

Di masa-masa yang kelam, ketika kita sulit merasakan kehadiran Allah, kita perlu diingatkan kembali tentang karakter Allah dan karya-karya yang menjadi bukti kasih-Nya. Ketika kita merenungkan pengalaman pribadi kita dengan-Nya dan memperhatikan segala perbuatan-Nya yang tercatat dalam Kitab Suci, kita dapat diyakinkan kembali akan betapa banyaknya cara yang telah digunakan Allah Bapa kita yang baik untuk mengasihi kita. —Xochitl Dixon

Tuhan, terima kasih karena Engkau menunjukkan kasih-Mu yang tak berkesudahan kepada umat-Mu, dalam hidup kami, dan melalui firman-Mu dalam Kitab Suci.

Dengan mengingat-ingat karya Allah, kita melihat karakter-Nya dan diyakinkan kembali akan kasih-Nya.

Bacaan Alkitab Setahun: Mazmur 77-78; Roma 10

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

21 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!