3 Hal yang Harus Orang Kristen Lakukan di Media Sosial

Info

Oleh Jasmin Patterson, Amerika Serikat
Artikel asli dalam bahasa Inggris: How To Disagree on Facebook

Waktu kuliah dulu aku membantu pelayanan di kampus dengan menjadi ketua. Suatu ketika, aku berselisih pendapat dengan ketua lainnya. Entah bagaimana, aku kehilangan kendali dan berteriak padanya. Saat itu, rekan-rekan pelayanan kami dan mahasiswa lainnya menonton kami dari dalam ruangan. (Ya, aku tahu, ini tindakan yang buruk. Aku meminta maaf dan kami menyelesaikan masalah itu. Kami tetap berteman sampai hari ini.)

Aku membayangkan apa yang mahasiswa lainnya pikirkan. Mereka mungkin merasa aneh melihat dua orang berdebat di muka umum. Apa yang mereka pikirkan? Dan teladan apakah yang kami tunjukkan kepada mereka?

Aku pun berpikir hal yang sama ketika aku melihat bagaimana orang-orang Kristen bertindak di dunia maya.

Di dalam budaya kita yang dibuat jenuh oleh media sosial, kita kehilangan kemampuan untuk menyatakan ketidaksetujuan dengan cara yang sopan. Kita kehilangan kemampuan untuk dengan hormat menghargai setiap pendapat yang berbeda. Sebagian besar masyarakat kita tampaknya berpikir bahwa kita tidak bisa mengungkapkan ketidaksetujuan kita kepada seseorang tanpa menggunakan kata-kata dan sikap kita untuk menyerang mereka. Sebagai pengikut Kristus, kita pun bisa saja jatuh ke dalam pemikiran seperti itu.

Media sosial adalah alat dan wadah luar biasa untuk saling terhubung yang aku syukuri. Mungkin kamu pun sama. Media seperti Facebook dan Twitter menolongku tetap terhubung dengan teman-temanku, kelompok musik yang kusukai, dan konten-konten yang membangun imanku. Namun, dengan kita menggunakan media sosial, kita pun bertanggung jawab untuk memastikan bagaimana cara kita berinteraksi di dalamnya itu menghormati orang lain dan menunjukkan Kristus.

Di media sosial, sebuah pendapat publik antara pemimpin-pemimpin dapat disaksikan oleh lebih dari sekadar beberapa pengamat. Lewat apa yang kita lakukan di media sosial, kita mungkin sedang memberi contoh bagi seluruh dunia untuk melihat dan menarik kesimpulan tentang kita ataupun Juruselamat kita. Risikonya cukup tinggi.

Bagaimana kita menjaga karakter Kristen dan kesaksian kita di dalam dunia maya, terutama saat kita merasa tidak setuju? Inilah beberapa hal yang bisa membantu:

1. Hargailah lawan bicaramu

Setiap orang yang kita ajak bicara adalah orang-orang yang diciptakan Allah seturut rupa-Nya, yang dicintai oleh-Nya, dan yang sangat berharga bagi Allah hingga Dia mengutus Anak-Nya untuk mati bagi mereka, untuk memulihkan relasi mereka dengan-Nya.

“Jikalau seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya” (1 Yohanes 4:20).

Ketika kita berbicara dengan orang lain di dunia maya, apakah kita menghargai mereka seperti yang Tuhan lakukan? Apa yang Tuhan rasakan kalau Dia melihat cara kita memperlakukan orang lain yang juga adalah anak-anak-Nya yang dikasihi-Nya? (Tuhan tentu melihat).

Kadang, berada di balik layar memberi kita keberanian untuk mengatakan hal-hal yang tidak akan kita katakan kepada seseorang secara pribadi dan langsung. Sebelum kita mengunggah sesuatu, kita bisa menanyakan diri kita sendiri apakah kita akan mengatakan ini kepada orang itu kalau kita bertemu muka dengannya? Akankah kita memanggil nama mereka? Akankah kita menganggap remeh pandangan mereka? Akankah kita bicara kasar dan merendahkannya?

Ingatlah ini: cara kita memperlakukan orang lain adalah ekspresi kasih kita kepada Tuhan, dan Tuhan dapat menunjukkan kasih-Nya kepada orang lain melalui cara kita memperlakukan mereka. Berinteraksi secara baik dengan orang lain di dunia maya bisa menjadi salah satu tindakan penyembahan kita kepada Tuhan, serta menjadi suatu kesaksian yang berbicara kuat untuk orang lain.

2. Dengar dulu, bicara kemudian

Aku telah memperhatikan hal ini, mungkin kamu juga. Ketika seseorang memiliki pengalaman atau sudut pandang yang berbeda dari orang lain, mereka sering memulai percakapan dengan cara mempertahankan sudut pandang mereka sendiri. Mereka pun mungkin dapat meremehkan pendapat dan pengalaman orang lain bahkan sebelum mereka mendengarkannya.

Berulang kali kita melihat hal ini ketika orang berbicara tentang masalah ras, politik, teologi, dan lain-lain. Daftar ini terus berlanjut.

Alkitab memanggil pengikut Kristus untuk melakukan hal yang sangat berbeda.

“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah” (Yakobus 1:19-20).

Dengarkanlah dulu, bicara kemudian. Dengarkan orang-orang. Pikirkan yang terbaik tentang mereka. Dengarkanlah untuk memahami, bukan sekadar menanggapi. Dengarkanlah tanpa menyela mereka.

Di dalam budaya kita, kita cenderung memutuskan bahwa orang yang kita ajak bicara itu tidak memiliki sesuatu yang penting untuk dibagikan kepada kita, bahkan sebelum kita mendengarkan mereka bicara. Kita segera menyimpulkan bahwa kita tidak peduli dengan mereka. Kita secara tidak sadar berpikir bahwa apa yang harus kita katakan itu lebih penting daripada apa yang mereka katakan. Tetapi, janganlah kita hidup menurut standar budaya kita—mari kita hidup menurut standar Alkitab.

Ketika aku memberikan komentar di dunia maya, aku suka menyebut nama mereka ketika aku membalas komentar-komentar mereka. Aku juga tidak sungkan untuk mengakui apabila aku setuju dengan apa yang mereka katakan atau malah jadi merasa tertantang untuk berpikir lebih lanjut. Aku tetap melakukan hal-hal ini meski kemudian aku mengutarakan apa yang jadi ketidaksetujuanku di komentar. Menjalin relasi secara personal dan memulai dengan meneguhkan orang lain adalah cara untuk menunjukkan kebaikan, kerendahan hati, dan bukti nyata bahwa kita benar-benar membaca dan menghargai komentar mereka.

Kita bisa menghindari banyak amarah di dalam masyarakat kita, di dalam percakapan kita, dan di media sosial kalau saja kita belajar untuk “cepat mendengar, lambat bicara.” Aku percaya Tuhan bisa memakai kita untuk membawa pemulihan dan kedamaian di media sosial jika kita mau belajar merendahkan diri, menghormati sesama kita, mendengarkan terlebih dulu dan berbicara kemudian.

3. Gunakanlah kata-kata yang membangun

“Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia” (Efesus 4:29).

Sebelum kita berkomentar, berkicau di Twitter, atau meng-update status, kita bisa bertanya kepada diri kita: Apakah yang akan aku katakan itu bermanfaat untuk membangun orang lain dan sesuai dengan yang mereka butuh dengarkan? Apakah caraku mengatakannya dapat membawa manfaat buat mereka yang membacanya? Apakah kata-kata ini menunjukkan kualitas diriku bahkan ketika aku mengungkapkan ketidaksetujuanku?

Aku pernah menerima beberapa komentar kasar di postingan blog yang kutulis dan sesuatu yang aku pelajari dari ini adalah untuk memperkatakan hal-hal penuh kasih daripada membalasnya dengan amarah. Ketika seseorang memberi komentar dengan sarkas atau amarah, abaikan saja jika percakapan itu tidak bermanfaat, atau tanggapilah dengan semangat kebaikan. Kalau kita berhenti meletakkan kayu di atas api, api itu perlahan-lahan akan mati.

Sejalan dengan hal itu, ketahuilah juga kapan harus menarik diri dengan penuh kasih. Kadang percakapan kita di grup-grup media sosial melampaui batasan untuk disebut sebagai percakapan yang sehat dan menolong. Dalam kasus ini, cobalah untuk bercakap secara lebih personal, misalkan lewat chat personal atau berdiskusi tatap muka, atau dengan hormat undur diri dari grup itu.

Selama kita melakukan apa yang Alkitab katakan, kita bisa hadir di media sosial, memiliki percakapan bermakna, dan menjaga karakter Kristen kita. Mari kita jadikan kehadiran kita di dunia maya sebagai teladan buat orang lain. Aku siap. Bagaimana denganmu?

Baca Juga:

Doaku untuk Hari Ulang Tahunku

Terima kasih Tuhan untuk 24 tahun yang Kau percayakan kepadaku. Aku tidak tahu berapa tahun lagi yang Kau sediakan bagiku, tapi biarlah Tuhan sampai akhirnya nanti, Kau temukan aku tetap setia.

facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Aku & Dunia: Perjalanan untuk Memberkati Sekitar, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2018

25 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!