Nenekku dan Seorang Perempuan Nepal

Info

Oleh Eugene Seah, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: A Nepali Lady And My Grandmother

Ketika kami duduk mengelilingi api unggun untuk menghangatkan diri dari dinginnya udara pagi di Nepal, temanku yang adalah seorang Nepal membagikan kabar Injil kepada seorang perempuan yang menyiapkan sarapan kami.

Perempuan itu menjawab, “Kalau dengan percaya kepada Tuhanmu aku bisa tidak bekerja, aku akan percaya!”

Bagaimana kamu merespons jawaban itu? Secara pribadi, waktu itu aku tidak bisa meresponsnya dengan jawaban yang tepat. Tapi sekarang, seiring aku mengingat kembali kesaksian nenekku, aku menemukan jawabannya.

Di dekade 1960-an, banyak orang Tionghoa di Singapura lebih memilih untuk punya anak lelaki daripada perempuan. Hasilnya, nenekku sering mendapat perlakuan kejam—secara fisik dan verbal—oleh ayah mertuanya karena dia tidak melahirkan anak laki-laki. Nenekku dikaruniai tiga anak perempuan. Mertuanya pernah meminta suami nenekku untuk mengambil istri lain. Untungnya dia menolak usulan itu. Saat nenekku mengandung anak keempat dan masih terus mengalami penyiksaan fisik, dia didesak oleh tetangganya untuk bunuh diri saja. Namun, dia menolak, dia tidak ingin anak-anaknya tumbuh tanpa seorang ibu.

Suatu ketika, saat dia sedang dalam perjalanan ke toko daging di mana suaminya bekerja, dia berpapasan dengan kegiatan penginjilan yang dilakukan oleh orang Kristen. Dia bergumam, “Kalau Engkau Tuhan yang bisa menyelamatkanku dari segala sakit hatiku dan menjagai anak-anakku, aku akan percaya kepada-Mu!”

Sekarang, nenekku adalah ibu yang luar biasa dari enam anak (tiga anak perempuan dan kemudian dia dikaruniai tiga anak lelaki), dan sangat dicintai oleh hampir selusin cucunya.

Tuhan telah menempatkan harapan di dalam hatinya dan menopangnya melalui tahun-tahun penuh badai. Tuhan kita yang Mahabesar mendengar tangisnya dari surga dan menjawab (Mazmur 55:17)!

Sebagai tanggapan, nenekku menjadikan doa sebagai gaya hidupnya. Dia menceritakan pada Tuhan tentang perjuangannya dan bersyukur kepada Tuhan atas segalanya. Selain itu, dia juga melaksanakan Amanat Agung untuk mencari domba-domba yang hilang dengan membagikan Injil kepada saudara-saudarinya dan orang-orang lain yang belum percaya. Nenekku tidak pernah melewatkan satupun kesempatan untuk membagikan Kristus! Meskipun Nenek tidak bisa membaca, tapi Tuhan memakai dirinya untuk membawa banyak orang kepada keselamatan.

Nenekku sungguh-sungguh ingin memahami Alkitab lebih baik. Dia pun belajar bagaimana membaca Alkitab dalam bahasa Mandarin dan mengikuti seminar-seminar rohani untuk belajar semakin mengenal Tuhan. Semangat nenekku itu membuatku merasa malu, sebab kurasa aku belum pernah sesemangat itu.

Tahun lalu, dia didiagnosis menderita kanker. Seharusnya dia merasa kecewa dan khawatir karena kabar itu. Tapi, keluargaku bisa melihat bahwa saat-saat sedih itu berlalu dengan cepat dan nenekku pun kembali bersukacita.

Seperti yang telah dilakukannya sebelumnya, nenekku tidak pernah melewatkan satupun kesempatan untuk membagikan Injil, kesetiaan Tuhan, dan kebaikan Tuhan, bahkan saat dia bergumul dengan kanker! Memang, Tuhan adalah Tuhan atas segala musim kehidupan kita, kita pun seharusnya menyembah-Nya dalam setiap musim kehidupan kita.

Kembali ke pertanyaan yang diberikan oleh seorang perempuan Nepal tadi, bagaimana aku menjawabnya sekarang?

Menjadi seorang pengikut Kristus tidak berarti bahwa kita bisa berhenti bekerja. Malah, akan ada banyak hal yang harus kita lakukan. Namun, yang jadi pembedanya adalah sekarang kita bekerja dengan jaminan penuh bahwa semua ada dalam kendali Tuhan dan segala jerih payah kita tidak sia-sia.

Melalui kehidupan nenekku, aku melihat kebesaran dan kesetiaan Tuhan. Dia memberikan sukacita yang nyata kepada semua anak-anak-Nya. Kita juga bisa mendapatkan penghiburan dalam pengetahuan bahwa anak-anak-Nya akan menerima upah yang kekal, yang tidak akan rusak ataupun hilang (Wahyu 22:12).

Memang, penyakit dan kesulitan dapat membuat tubuh kita lelah. Namun sebagai anak-anak Tuhan, meskipun dari luar kita terlihat rapuh, tapi di dalam batin kita dibaharui dari hari ke hari. Tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Tuhan.

Jika Tuhan berkehendak, aku berharap bisa kembali ke Nepal dan memberi tahu perempuan itu tentang kebaikan Tuhan kita. Kiranya kasih-Nya yang teguh dalam kehidupan nenekku, yang sedang berjuang untuk pulih, menjadi dorongan yang nyata untuk perempuan itu! Aku akan berbicara tentang kebaikan Tuhan di mana pun Dia menempatkanku. Ayo, kita bersama-sama menyatakan pujian kepada Tuhan ke manapun kita pergi.

Baca Juga:

Aku Gagal Masuk SMA Favorit, Tapi Aku Belajar untuk Tidak Larut dalam Kekecewaan

“Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan,” firman ini menegurku yang merasa kecewa karena impianku masuk ke SMA favorit tidak terwujud. Melalui proses yang Tuhan izinkan terjadi, aku belajar untuk memahami bahwa rancangan yang Tuhan beri padaku adalah yang terbaik.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Aku & Keluargaku: Berjalan Bersama Melewati Berbagai Musim Kehidupan, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2018

4 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!