Tuhan, Lakukanlah Kepadaku Apa Pun

Info

Oleh Jeffrey Siauw, Jakarta

Aku menaruh buku The Imitation of Christ yang ditulis oleh Thomas A. Kempis di atas meja belajarku. Kadang aku mengambilnya, membaca satu bagian singkat, merenung sebentar, kemudian merasa disegarkan atau ditantang olehnya. Hari ini, aku membaca sebuah bagian berupa doa dari seorang murid Kristus. Doa tersebut ditulis dalam bahasa Inggris. Kalau aku terjemahkan secara bebas, kira-kira isinya seperti ini:

Tuhan, perkataan-Mu benar adanya. Pemeliharaan-Mu bagiku melebihi apa pun yang bisa kulakukan untuk diriku sendiri. Karena barangsiapa yang tidak meletakkan segala kehawatirannya kepada-Mu, berdiri dengan sangat tidak aman. Kalau saja kehendakku tetap benar dan teguh terarah kepada-Mu, Tuhan, lakukanlah kepadaku apa pun yang menyukakan-Mu. Karena apa pun yang akan Kau lakukan kepadaku hanyalah kebaikan semata.

Jika Engkau menginginkanku berada dalam kegelapan, aku akan memuji-Mu. Dan, jika Engkau menginginkanku untuk berada dalam terang, juga aku akan memuji-Mu. Jika Engkau membungkuk untuk menghiburku, aku akan memuji-Mu, dan jika Engkau menginginkanku menderita kemalangan, aku akan memuji-Mu selamanya.

Aku membaca doa ini beberapa kali. Ada dua hal yang kemudian terpikir olehku: Pertama, menurutku apa yang penulis tuliskan dalam doa itu sangatlah tepat. Itulah doa seorang Kristen yang mencintai Tuhannya, doa seorang murid Kristus. Tetapi, yang kedua, aku ngeri untuk mengucapkannya dengan sungguh.

Sangat jarang sebetulnya kita berdoa kepada Tuhan dengan sikap hati yang berkata, “lakukanlah kepadaku apa pun juga.” Hampir tidak pernah kita berdoa “Tuhan, berikanlah kepadaku apa pun juga. Kegelapan, terang, penghiburan, penderitaan… apa pun juga… dan aku tetap akan memuji-Mu!” Wow…

Kalau doa ini menyebutkan dua sisi: A dan B, senang dan susah, sehat dan sakit, kaya dan miskin, maka kita selalu minta yang A. Lebih celaka lagi, kalau sikap kita: “Berikan aku yang A, karena itu sudah seharusnya. Berikan aku yang B, maka aku marah.”

Kalau kita perhatikan, penulis berani berdoa seperti di paragraf kedua itu karena ada paragraf pertama. Dia berani berdoa meminta “apa pun juga” karena dia percaya kepada Tuhan. Dia percaya akan kasih dan pemeliharaan Tuhan. Dia percaya Tuhan mampu dan mau memelihara dia, bahkan lebih daripada dirinya sendiri. Apa pun yang baik yang dia inginkan bagi dirinya, Tuhan lebih ingin! Itu sebabnya, dia percaya apa pun yang dilakukan Tuhan kepadanya adalah kebaikan. Maka, “Bring it on, Lord! Lakukanlah kepadaku apa pun! Aku akan memuji-Mu!”

Aku jadi berpikir, betapa bedanya hidup rohani kita kalau kita sering berdoa seperti ini.

Betapa kita, termasuk aku, perlu terus belajar berdoa. Karena bagaimana kita berdoa—berbincang dengan Tuhan, akan menentukan kerohanian kita.

Baca Juga:

Sebuah Aib yang Diubah Allah Menjadi Berkat

Aku pernah dengar sebuah pernyataan berikut, “Orang yang belum melupakan kesalahan orang yang diampuninya belum sungguh-sungguh mengampuninya.” Meskipun tidak sepenuhnya, aku setuju dengan sebagian pernyataan itu.

facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Aku & Diriku: Perjalanan untuk Mengenal Diri, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2018

16 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!