Dalam Kebenaran

Info

Kamis, 7 Juni 2018

Dalam Kebenaran

Baca: Zefanya 1:1-6; 2:1-3

1:1 Firman TUHAN yang datang kepada Zefanya bin Kusyi bin Gedalya bin Amarya bin Hizkia dalam zaman Yosia bin Amon, raja Yehuda.

1:2 “Aku akan menyapu bersih segala-galanya dari atas muka bumi, demikianlah firman TUHAN.

1:3 Aku akan menyapu manusia dan hewan; Aku akan menyapu burung-burung di udara dan ikan-ikan di laut. Aku akan merebahkan orang-orang fasik dan akan melenyapkan manusia dari atas muka bumi, demikianlah firman TUHAN.

1:4 Aku akan mengacungkan tangan-Ku terhadap Yehuda dan terhadap segenap penduduk Yerusalem. Aku akan melenyapkan dari tempat ini sisa-sisa Baal dan nama para imam berhala,

1:5 juga mereka yang sujud menyembah di atas sotoh kepada tentara langit dan mereka yang menyembah dengan bersumpah setia kepada TUHAN, namun di samping itu bersumpah demi Dewa Milkom,

1:6 serta mereka yang berbalik dari pada TUHAN, yang tidak mencari TUHAN dan tidak menanyakan petunjuk-Nya.”

2:1 Bersemangatlah dan berkumpullah, hai bangsa yang acuh tak acuh,

2:2 sebelum kamu dihalau seperti sekam yang tertiup, sebelum datang ke atasmu murka TUHAN yang bernyala-nyala itu, sebelum datang ke atasmu hari kemurkaan TUHAN.

2:3 Carilah TUHAN, hai semua orang yang rendah hati di negeri, yang melakukan hukum-Nya; carilah keadilan, carilah kerendahan hati; mungkin kamu akan terlindung pada hari kemurkaan TUHAN.

Ia membaharui Engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai. —Zefanya 3:17

Dalam Kebenaran

Bertahun-tahun lalu, saya pernah menghadiri pernikahan dari sepasang mempelai yang berasal dari negara yang berbeda. Perpaduan budaya seperti itu memang indah, tetapi perayaan tersebut mencampur unsur tradisi Kristen dengan ritual-ritual dari sebuah kepercayaan lain yang menyembah dewa-dewa.

Zefanya mengutuk keras tindakan mencampur kepercayaan lain dengan iman kepada satu-satunya Allah yang sejati (biasa disebut sinkretisme). Bangsa Yehuda telah menyembah Allah sekaligus mengandalkan Dewa Milkom (Zef. 1:5). Zefanya menyebutkan bagaimana bangsa itu menyerap budaya yang tidak mengenal Allah (ay.8) sembari memperingatkan bahwa sebagai akibat dari perbuatan itu, Allah akan membuang mereka dari tanah air mereka.

Meski demikian, Allah tidak pernah berhenti mengasihi umat-Nya. Penghakiman-Nya dimaksudkan agar mereka menyadari kebutuhan mereka untuk berpaling kepada-Nya. Zefanya pun mendorong bangsa Yehuda untuk mencari keadilan dan kerendahan hati (2:3). Kemudian Tuhan berjanji akan memberi mereka pemulihan di masa mendatang: “Pada waktu itu Aku akan membawa kamu pulang, yakni pada waktu Aku mengumpulkan kamu” (3:20).

Sinkretisme seperti yang terjadi pada pesta pernikahan yang saya hadiri itu memang sangat disesali. Namun pada kenyataannya, kita semua bisa dengan mudahnya mencampuradukkan kebenaran Allah dengan keyakinan-keyakinan lain dalam budaya kita. Kita membutuhkan tuntunan Roh Kudus untuk menguji keyakinan kita dengan kebenaran firman Allah dan memegang kebenaran itu dengan penuh keyakinan dan kasih. Allah Bapa kita menerima siapa saja yang menyembah-Nya dalam Roh dan kebenaran (lihat Yoh. 4:23-24). —Tim Gustafson

Saat ada dalam masalah, ke mana aku berpaling? Krisis menyingkapkan siapa yang sesungguhnya kuandalkan. Apakah aku beriman sepenuhnya kepada Allah? Pergumulan apa yang patut kuserahkan kepada-Nya hari ini?

Allah selalu siap mengampuni dan memulihkan umat-Nya.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Tawarikh 28-29; Yohanes 17

facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

32 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!