3 Hal untuk Kita Pikirkan Saat Kita Selalu Merasa Tidak Cukup Baik

Info

Oleh Karen Kwek, Singapura
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Why Do I Always Think I’m Not Good Enough?
Ilustrasi gambar oleh Barbara Jenjaroentham

“Aku sangat stress,” Anna menghela napas, merebahkan tubuhnya ke kursi di depanku. “Aku perlu berjuang sebaik mungkin di masa percobaan ini, tapi karena atasanku selalu mengkritikku, sepertinya aku tidak bisa melakukannya.”

Anna adalah temanku. Di usia 20-annya, tahun lalu dia mulai bekerja di bidang pendidikan. Dalam pekerjaannya, dia orang yang cakap dan sangat menolong murid-muridnya, jadi aku sedikit kaget ketika tahu kalau pekerjaannya tidak semulus yang kukira. “Mungkin masalah personal?” tanyaku. “Mungkin atasanmu adalah orang yang suka mencari-cari masalah?”

Anna menggeleng. “Tidak, dia memang bersikap keras ke staf baru lainnya. Dan, dia tidak mengizinkan kami berbuat kesalahan. Aku merasa seperti dihakimi setiap saat. Aku harus membuktikan kepada diriku sendiri kalau aku bisa. Aku akan sangat kecewa kalau aku tidak lolos!”

Aku bisa mengerti Anna. Ketika menghadapi situasi yang menantang, aku cenderung khawatir kalau aku akan gagal. Jika aku menghadapi tantangan itu, aku berdoa dan melakukan yang terbaik, tapi tetap saja aku merasa khawatir. Dan, kalau ada seorang lain yang bisa melakukan itu dengan lebih baik, aku malah merasa senang karena aku bisa terhindar dari kesulitan itu. Tidak ada yang salah dengan sedikit meragukan diri sendiri bukan? Bukankah itu alami?

Memikirkan kembali makna “cukup baik”

Ilustrasi oleh Barbara Jenjaroentham (@barbsiegraphy)

Mudah untuk melihat mengapa Anna merasa tidak layak; tekanan eksternal dari pekerjaannya dan tuntutan dari atasannya itu sungguh nyata. Dalam kehidupan kita sebagai pelajar atau pekerja, kita biasanya dinilai berdasarkan kriteria dan standar tertentu. Kalau kita melakukan pekerjaan dengan baik itu artinya kita punya pengetahuan yang cukup dan kompeten, apa pun latar belakang kita. Di negaraku, Singapura, sistem pendidikan yang kompetitif membiasakan siswa-siswi untuk menilai dirinya dengan cara seperti ini sejak mereka masih kecil. Nilai pelajaran yang bagus seolah membuka pintu-pintu kesempatan lebih lebar atau dianggap bisa menyingkirkan tantangan. Seorang anak sering mendapat perkataan, “Kamu kurang baik” atau “Kamu tidak baik”. Kami jadi waspada terhadap setiap potensi kegagalan, yang akhirnya membawa kami pada meragukan diri sendiri sejak usia dini.

Kedua, jika berbicara tentang prestasi, budaya kami itu memiliki dua wajah. Di satu sisi, kami menghargai kesuksesan. Tapi, di sisi lainnya, kami mencurigai hal-hal yang berkaitan dengan mempromosikan diri. Kami diperingatkan untuk tidak melulu memikirkan kesuksesan, jadi kami belajar untuk tidak menonjolkan diri. “Aku tidak cukup baik,” sering terucap meski fakta menunjukkan yang sebaliknya. Itulah yang sering jadi reaksi spontan kita ketika diberi pujian atau pengakuan. Kami seolah percaya bahwa itulah cara yang sehat untuk menangkal kebanggaan diri atau kesombongan. Tapi, apakah itu benar?

Kita mungkin dibesarkan dengan pemahaman dan bias budaya tertentu, tapi Tuhan menantang orang Kristen untuk melihat dunia dari lensa yang baru, sebab sekarang kita adalah milik Kristus (Roma 12:2). Inilah beberapa alasan mengapa meragukan diri sendiri, atau ketakutan merasa diri tidak layak bukanlah cara yang tepat untuk orang Kristen merespons kesulitan atau lingkungan yang menuntut kompetisi.

1. Kita dinilai “cukup baik” oleh Allah, bukan dunia

Dunia tempat kita tinggal ini sering memberikan peringkat atau nilai-nilai hierarkis kepada karakter manusia yang secara objektif itu netral. Dalam perspektif Allah, perbedaan-perbedaan ini nyata namun sebenarnya setara. Contohnya, kaya dan miskin, tinggi dan pendek, cantik dan biasa saja, tua dan muda—karakter-karakter itu adalah titik-titik perbedaan pada skala horizontal yang secara moral adalah sama. Menjadi orang yang tinggi, kaya, muda, dan cantik tidak membuat seseorang menjadi lebih baik dari orang lain yang pendek, miskin, tua, dan biasa saja. Namun, dunia kita bersikukuh membuat perbedaan-perbedaan itu, dengan memberi imbalan lebih kepada beberapa karakter daripada yang lainnya. Sistem penilaian seperti itulah yang menimbulkan rasisme, seksisme, dan berbagai prasangka lain terhadap mereka yang sebenarnya hanya berbeda dari kita, bukan lebih buruk dari kita.

Di dalam suratnya, Yakobus mengingatkan orang-orang percaya bahwa Allah punya standar yang berbeda dan Dia mau supaya kita mengasihi semua orang (Yakobus 2:1-8), karena kita semua adalah pendosa, yang telah menerima anugerah di hadapan Allah. Karena itu, satu-satunya standar yang penting adalah Allah telah menilai kita “baik” karena Yesus telah mati untuk menyelamatkan kita.

2. Apa yang “cukup baik” menurut dunia itu tidak pasti

Masalah keduanya adalah ketika kita berpikir “cukup baik” saat meraih keberhasilan atau kesepakatan, pemikiran itu kandas saat kita menghadapi rintangan lainnya.

Beberapa minggu setelah obrolanku dengan Anna berlalu, dia memberitahuku kalau dia tidak termasuk di antara lima orang yang ditawari kontrak untuk lanjut bekerja. Dia merasa tersakiti dan kecewa. Dia merasa belum cukup baik, belum maksimal berkarya untuk tempatnya bekerja itu. “Kalau kamu lolos dan ditawari kontrak kerja, kamu akan merasa puas?” tanyaku. “Tentu,” dia menjawab dengan berminat sebelum akhirnya menambahkan, “Setidaknya… sampai babak penilaian selanjutnya…”

Apa yang baik menurut dunia itu bisa berubah-ubah. Kalau kita meletakkan harapan kita dengan menjadi “cukup baik” untuk dunia ini, kita akan selalu merasa terancam dengan orang lain yang “lebih baik”, atau menjadi subjek dari standar dan tren dunia yang berubah.

3. Mengatakan “Aku tidak cukup baik” itu bukan sungguh-sungguh ekspresi kerendah hati

Mungkin aku merasa sudah rendah hati ketika aku menolak suatu tantangan atau permintaan yang coba diberikan kepadaku karena kupikir aku tidak bisa sungguh-sungguh melakukannya. Tentu, ada batasan nyata, dan ada saat-saat ketika mengatakan tidak itu bukan melulu tentang bersikap rendah hati, tapi hanya sekadar belajar bijaksana tentang batasan-batasan itu, seperti ketika aku memutuskan untuk tidak bergabung dengan tim pendaki Gunung Everest, atau ketika aku memutuskan untuk tidak mengemudi karena aku sudah minum beberapa gelas anggur.

Tapi, jauh lebih sering, ketika aku berpikir tak cukup baik untuk melayani Tuhan sesuai dengan yang dibutuhkan, itu bukan karena aku benar-benar bersikap rendah hati, malah sebaliknya; itu karena aku mengandalkan usahaku sendiri daripada mengandalkan Tuhan dan apa yang bisa Dia lakukan melalui diriku atau tanpa diriku. Aku tidak melihat pada Tuhan, tetapi pada diriku sendiri. Dan melalui cara pandang dunia, aku jadi takut dan berpikir kalau dunia akan mengharapkan “lebih banyak” dariku.

Di saat itulah aku teringat tentang Musa di dalam Keluaran 3-4, bagaimana kesadaran diri Musa bahwa dia “tidak pandai bicara” membuatnya berkata pada Tuhan, “Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kau-utus”. Tuhan murka kepada Musa, karena pemikiran bahwa dia “tidak cukup baik” itu berasal dari penghakiman manusia dan ketidakmampuan Musa untuk percaya Tuhan yang bekerja melalui kelemahannya. “Aku tidak cukup baik” adalah kerendahan hati yang salah, suatu bentuk kebanggaan diri.

Adakah cara yang lebih baik?

Ilustrasi oleh Barbara Jenjaroentham (@barbsiegraphy)

1. Sadari bahwa kita berharga di hadapan Tuhan lebih daripada sekadar nilai yang dunia berikan

Ketika kita dicobai untuk berpikir bahwa kita tidak cukup baik, penting untuk bertanya standar manakah yang kita gunakan. Roma 5:6-8 mengingatkan kita bahwa kita sesungguhnya tidak cukup baik—kita hanya pendosa yang jauh dari standar Allah, namun “Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Itulah yang menunjukkan betapa bernilainya kita bagi Allah.

Orang-orang di sekolah atau tempat kerja kita mungkin saja menilai kita hanya berdasarkan penampilan, pengetahuan, atau kemampuan kita. Tapi, yang terpenting adalah penilaian Allah sendiri. Kita hanya perlu mempercayai penilaian Allah atas diri kita.

2. Bukan tentang “seberapa baik” tapi “seberapa mengasihi”

Jika kita mendapati diri kita kewalahan menghadapi tekanan untuk melakukan “yang terbaik”, mungkin pengejaran kita akan sesuatu (nilai, pekerjaan, gaya hidup, atau gengsi) menjadi lebih penting buat kita daripada mempercayai Allah untuk menempatkan kita di mana kita dapat melayani-Nya. Anna menyadari hal ini ketika dia mulai mencari pekerjaan lainnya. “Aku sangat terpukul karena harus melepaskan pekerjaanku, sampai akhirnya aku sadar kalau obsesiku untuk mempertahankan pekerjaan itu telah membuatku jadi orang yang sibuk, stres, penuh persaingan.”

Mungkin kita seharusnya tidak terlalu berfokus tentang “berhasil” atau “gagal”, tapi bergantung pada pertolongan Tuhan, supaya dalam keadaan kita, kita bisa menjadi seorang yang mengasihi orang lain. Dalam kata lain, aku sebagai orang percaya—mengasihi, bersukacita, mempunyai damai sejahtera, sabar, murah hati, baik, setia, lemah lembut, dapat menguasai diri—lebih penting buat Tuhan daripada aku ada di sekolah ini atau sekolah lain, satu pekerjaan atau lainnya.

Kerendahan hati yang sejati mengajari kita bahwa kita tidak akan selalu sukses di mata dunia ini, atau selalu mendapatkan apa yang kita inginkan. Dan, ini bukanlah masalah. Jika Tuhan mau sesuatu yang lain buat kita, maukah kita merendahkan hati untuk menerima bahwa Dia tahu yang terbaik?

3. Bukan tentang kita

Ilustrasi oleh Barbara Jenjaroentham (@barbsiegraphy)

Terakhir, Kristus datang untuk membebaskan kita dari belenggu diri kita sendiri. Tetap berpikir kalau “Aku tidak cukup baik”, atau selalu berandai-andai dapat mengalihkan fokus kita dari kekuatan dan tujuan Tuhan. Anna mengakui, setelah dia sadar bahwa selama ini dia tidak percaya Tuhan sepenuhnya, kemudian dia jadi merasa bersalah karena “mengecewakan Tuhan”. Ini adalah bentuk lainnya dari merasa tidak cukup baik! Penting untuk mengetahui bahwa kita telah menerima pengampunan penuh dari Kristus ketika kita mengakui dosa kita kepada Tuhan—Tuhan itu Mahabesar, dan karya Kristus di kayu salib itu cukup; itu bukan tentang kita.

Dalam bukunya yang berjudul The Freedom of Self-Forgetfulness, pendeta dan penulis Timothy Keller mengamati bahwa “Inti dari kerendahan hati menurut Injil adalah tidak lagi meninggikan atau merendahkan diri sendiri. Kerendahan hati yang sejati itu berarti tak lagi menghubungkan pengalaman kita, percakapan kita dengan diri sendiri. Saat tak lagi memikirkan tentang diri sendiri, aku bisa merasakan kelegaan dari menyangkal diri.”

Dan juga, aku belajar bahwa cara pandang kita yang benar adalah terletak di salib, pada Juruselamat kita. Seperti yang Rasul Paulus katakan:

“Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing. Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita” (Roma 12:3-6a).

Daripada prestasi, kemampuan, atau penerimaan dari dunia, Paulus berkata bahwa iman adalah ukuran yang seharusnya menjadi dasar kita berpikir tentang diri kita. Hal ini sangatlah penting, sebab iman tidak pernah berbicara tentang kita; itu adalah pemberian Allah, jadi tidak ada seorang pun yang bisa memegahkan diri. Paulus berkata bahwa di dalam Kristus kita semua berbeda karena kita diciptakan untuk saling melayani satu sama lain. Ayat ini sungguh nyata. Paulus berkata: Tuhan menciptakan kita dan menyelamatkan kita, dan kita sekarang adalah milik-Nya; ada pekerjaan Kerajaan-Nya yang harus diselesaikan, jadi marilah kita lakukan apa yang Tuhan sudah berikan pada kita, tanpa membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain, atau mencoba menjadi sesuatu yang sebenarnya bukanlah kita.

Aku merasa gembira melihat bagaimana para penulis Perjanjian Baru pada akhirnya mengingat Musa bukan dari sisi kelemahannya saja, melainkan sebagai orang yang “kuat dalam ucapan dan tindakan” (Kisah Para Rasul 7:22) dan “setia di seluruh rumah Allah” (Ibrani 3:2), karena dia dengan setia melakukan seperti yang Tuhan minta. Apa yang dapat kita lihat dari transformasi Musa dalam Keluaran 2-3? Tuhan bekerja di dalam dan melaluinya, terlepas dari ketakutannya! Selalu berpikir kalau aku tidak cukup baik adalah kebiasaan yang sulit dilepaskan, tapi berdoalah supaya kebenaran Tuhan—bahwa hidup ini adalah tentang-Nya, dan Dia menolongku untuk mengasihi orang lain—menggerakkanku untuk tidak hanya memperhatikan diriku sendiri.

Apakah kamu cenderung merasa kurang baik? Maukah kamu membiarkan firman Tuhan menghibur, mendorong, dan menginspirasimu?

Baca Juga:

Tuhan Memakai Pengalaman Tidak Menyenangkanku untuk Memberkati Orang Lain

Tuhan memang tidak berjanji untuk menghilangkan rasa sakit yang datang dari pengalaman-pengalaman tidak menyenangkan yang kita alami, tapi Dia berjanji untuk terus bekerja melalui diri kita yang berdosa.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Personal

8 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!