Sampai Bertemu Lagi

Info

Rabu, 7 Maret 2018

Sampai Bertemu Lagi

Baca: 1 Tesalonika 4:13-18

4:13 Selanjutnya kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan.

4:14 Karena jikalau kita percaya, bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit, maka kita percaya juga bahwa mereka yang telah meninggal dalam Yesus akan dikumpulkan Allah bersama-sama dengan Dia.

4:15 Ini kami katakan kepadamu dengan firman Tuhan: kita yang hidup, yang masih tinggal sampai kedatangan Tuhan, sekali-kali tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal.

4:16 Sebab pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga dan mereka yang mati dalam Kristus akan lebih dahulu bangkit;

4:17 sesudah itu, kita yang hidup, yang masih tinggal, akan diangkat bersama-sama dengan mereka dalam awan menyongsong Tuhan di angkasa. Demikianlah kita akan selama-lamanya bersama-sama dengan Tuhan.

4:18 Karena itu hiburkanlah seorang akan yang lain dengan perkataan-perkataan ini.

Kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. —1 Tesalonika 4:13

Sampai Bertemu Lagi

Saya dan cucu saya, Allyssa, memiliki kebiasaan yang kami lakukan saat kami berpisah. Kami akan berpelukan dan berpura-pura menangis terisak-isak selama kurang lebih 20 detik. Lalu kami pun memisahkan diri sambil berkata dengan santai, “Sampai jumpa!” Terlepas dari kebiasaan konyol itu, kami berharap bahwa kami akan segera bertemu kembali.

Namun, terkadang kepedihan yang dialami karena berpisah dengan orang-orang yang kita kasihi dapat terasa menyesakkan. Ketika Rasul Paulus mengucapkan selamat tinggal kepada para tua-tua dari Efesus, “Menangislah mereka semua tersedu-sedu dan sambil memeluk Paulus. . . . Mereka sangat berdukacita, terlebih-lebih karena [Paulus] katakan, bahwa mereka tidak akan melihat mukanya lagi” (Kis. 20:37-38).

Akan tetapi, duka terdalam yang kita rasakan adalah saat kita dipisahkan oleh kematian dan mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya dalam kehidupan ini. Perpisahan seperti itu rasanya tak terbayangkan. Kita berduka. Kita meratap. Bagaimana hati kita tidak hancur karena tidak lagi dapat memeluk orang yang kita cintai?

Meski demikian . . . janganlah kita berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan. Paulus menulis tentang pertemuan kembali di masa mendatang bagi mereka yang percaya “bahwa Yesus telah mati dan telah bangkit” (1Tes. 4:13-18). Ia menyatakan, “Pada waktu tanda diberi, yaitu pada waktu penghulu malaikat berseru dan sangkakala Allah berbunyi, maka Tuhan sendiri akan turun dari sorga,” dan mereka yang telah meninggal dunia, bersama mereka yang masih hidup, akan dipersatukan dengan Tuhan kita. Pertemuan kembali yang sangat indah!

Yang terbaik dari semuanya: kita akan selama-lamanya bersama dengan Tuhan Yesus. Itulah pengharapan yang abadi. —Cindy Hess Kasper

Tuhan, terima kasih untuk jaminan bahwa dunia ini bukanlah segala-galanya, melainkan ada kekekalan terindah yang menanti semua yang percaya kepada-Mu.

Saat meninggal dunia, umat Allah tidak berkata, “Selamat tinggal,” tetapi “Sampai jumpa lagi.”

Bacaan Alkitab Setahun: Ulangan 3-4; Markus 10:32-52

Desain gambar oleh WarungSaTeKaMu & Priska Sitepu

facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

40 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!