3 Hadiah yang Bisa Kuberikan kepada Allah

Info

Oleh Cindy Wang, Australia
Artikel asli dalam bahasa Mandarin: 新的一年,我决定献给天父三份礼物(有声中文)

Di pagi hari menjelang Natal, aku menemukan tiga lembar kertas kuning diletakkan di pucuk sebuah pohon Natal. Setelah kulihat lebih dekat, ternyata tulisan-tulisan di atas kertas itu ditulis oleh tiga orang putriku; setiap mereka menuliskan lima hadiah Natal yang paling mereka inginkan dan kertas itu ditujukan untukku dan suamiku. (Aku menduga kalau mereka sudah menulis kertas itu di malam sebelumnya dengan harapan supaya keinginan mereka bisa terwujud di hari Natal).

Memberi dan menerima hadiah adalah hal yang wajar dilakukan pada masa Natal. Dari sekian banyak hadiah yang pernah kuterima di masa lalu, hadiah yang terbaik adalah pengorbanan yang Allah lakukan 2000 tahun yang lalu. Aku pun jadi berpikir: bukankah seharusnya aku juga memberi-Nya hadiah?

Dan inilah beberapa hadiah yang terpikir olehku.

1. Hadiah berupa puji-pujian

Suatu pagi aku berdoa kepada Allah. Aku bertanya bagaimana seharusnya aku memuji Dia, dan Allah kemudian menuntunku kepada Mazmur 100. Ayat ketiganya berkata demikian:

“Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.”

Membaca ayat ini membuatku dipenuhi sukacita dan pujian kepada-Nya. Bapa Surgawi itu luar biasa, Dia pencipta alam semesta dan aku adalah karya-Nya yang agung, anak-Nya yang berharga, domba-Nya yang dikasihi-Nya. Dia tidak pernah meninggalkan maupun mengabaikanku. Ayat kelima dari Mazmur ini mengatakan demikian:

“Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun temurun.”

Mazmur ini menjadi kesukaanku, dan aku aku membacanya kembali setiap kali aku merasa lemah dan sedih. Kapan pun aku menghadapi tantangan atau pencobaan, aku akan selalu memuji Allah dengan lantang dengan kata-kata di dalam Mazmur ini supaya melalui puji-pujian inilah aku mendapatkan kekuatan dan perlindungan di dalam Dia.

Desember yang lalu adalah masa-masa yang cukup sulit buatku. Aku dan suamiku mengalami kegagalan. Kami menginvestasikan uang kami ke sebuah kafe, namun karena diterpa berbagai masalah dengan pemilik tempat, kafe itu pun terancam tutup. Aku ingat, setelah membuat keputusan, kami pun pulang ke rumah. Tapi, kala itu pikiranku benar-benar hampa. Aku sudah lelah karena pekerjaan ini dan pikiranku pun menjadi bingung dan kehilangan arah.

Namun, saat itu juga, aku tiba-tiba teringat akan Ayub dan apa yang dia katakan: “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN” (Ayub 1:21). Aku tidak mau menjadi putus asa karena masalah ini. Jadi, aku pun kembali merenungkan Mazmur 100 dan berkata kepada diriku sendiri bahwa aku adalah milik Allah dan aku akan menyerahkan segala perkaraku kepada-Nya.

Walaupun aku mungkin tidak akan pernah mengerti secara utuh mengapa masalah ini terjadi, tapi aku tahu bahwa ini bukanlah beban yang harus kubawa terus menerus. Yang perlu aku lakukan adalah mempercayakan segala hal kepada Allah yang baik dan setia, serta menerima damai yang hanya bisa ditemukan di dalam-Nya.

2. Hadiah berupa penghormatan

Aku ingat suatu hari di mana dua kakak perempuanku bersembunyi di dalam kamar mereka dan melakukan sesuatu. Beberapa jam kemudian, mereka keluar dari persembunyiannya dan dengan bangga menunjukkan kepadaku ‘mahakarya’ yang baru saja mereka kerjakan. Tapi, apa yang kulihat itu justru membuatku marah dan akhirnya menangis—mereka memegang sebuah blus bermerek yang mahal (pemberian dari bibi mereka), yang mereka jadikan eksperimen dengan menjahit dan mengguntingnya. Hasil akhirnya, blus itu sama sekali tidak terlihat seperti aslinya. Mereka tidak tahu harga sebenarnya dari pemberian itu sehingga mereka tidak tahu memperlakukannya. Pemberian itu telah menjadi bahan percobaan dari keingintahuan mereka. Seandainya saja mereka tahu berharganya pemberian itu, mungkin mereka akan memperlakukannya dengan lebih baik.

Peristiwa ini membuatku bertanya-tanya: Apakah kita juga bersikap seperti itu terhadap Allah? Bagaimana cara kita memperlakukan Allah dan berelasi dengan-Nya? Kita memiliki hak istimewa yang luar biasa, karena anugerah-Nya kita bisa datang kepada Allah dengan bebas, kapan pun kita mau (seperti seorang anak terhadap ayahnya). Namun, pernahkah kita memikirkan hal ini dengan sungguh-sungguh? Bapa Surgawi telah membayar harga yang paling mahal dengan mengutus anak-Nya yang tunggal untuk menggantikan kita di atas salib, supaya relasi kita dengan-Nya bisa dipulihkan dan supaya kita bisa menjadi anak-anak Allah.

Saat kita mengetahui nilai sebenarnya dari suatu benda, kita akan memperlakukan benda tersebut sesuai dengan harganya. Sama halnya, ketika aku dan kamu benar-benar mengerti berapa harga yang telah Allah bayarkan untuk menyelamatkan kita, maka kita dapat menghormati-Nya melalui kata-kata yang kita ucapkan, pikiran-pikiran yang timbul di dalam hati kita, dan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh tangan kita.

3. Hadiah berupa komitmen

Kadang aku merasa begitu sibuk dengan urusan keluarga dan pekerjaanku yang tiada habisnya. Hal ini membuatku bertanya-tanya, apakah aku menempatkan kepentingan duniawiku di atas kepentinan rohaniku. Aku sadar bahwa aku memerlukan sebuah perubahan dalam hidup: melangkah ke luar dari zona nyamanku, sama seperti yang Petrus lakukan ketika dia memberanikan diri untuk berjalan di atas air.

Selama beberapa waktu ini, aku sedang mempertimbangkan kesempatan untuk membantu melayani di gereja. Awalnya, aku cukup ragu, karena walau hanya dua kali seminggu tapi persyaratannya lumayan berat. Namun, baru-baru ini pendetaku memberiku masukan, dan aku rasa ada yang mendorong hatiku. Aku tahu bahwa ini adalah pekerjaan Roh Kudus yang sedang mengingatkanku dengan lembut. Jika kamu merasa tidak yakin dengan bagaimana kamu mengatur hidupmu, pandanglah pada Allah dan Dia akan menunjukkanmu jalan. Yang harus kamu lakukan hanyalah taat. Jadi, aku pun mengambil sebuah keputusan yang berani untuk terlibat dalam pelayanan di gerejaku. Tentu, bekerja di gereja bukanlah satu-satunya cara untuk melayani. Ini hanyalah caraku untuk menaati Allah dalam tahapan hidupku yang sekarang ini, dan aku cukup bersemangat dengan pilihan yang kubuat ini.

Memberi diri untuk pekerjaan Allah selalu membawa sukacita terbesar dalam hidup. Ketika kita memilih untuk berjalan seturut dengan kehendak dan rencana-Nya bagi kita, kepuasan yang akan kita terima itu tidak sebanding dengan apa pun yang ditawarkan dunia. Sembari kita berjalan bersama Tuhan di sisi kita, kita akan mengalami secara langsung petualangan yang luar biasa dengan-Nya. Siapa yang pernah berkata kalau hidup sebagai orang Kristen itu membosankan? Hidup dalam Kristus adalah hidup yang berkelimpahan!

Inilah hadiah-hadiah yang bisa aku tawarkan kepada Allah. Aku mau menikmati setiap detiknya dan menikmati sukacita kehadiran Allah, tidak peduli situasi apapun yang datang dalam hidup. Aku percaya bahwa ketika aku menawarkan tiga hadiah ini kepada Allah, Dia akan tersenyum lebar.

Hadiah apa yang ingin kamu berikan kepada Allah?

Baca Juga:

Pergumulanku untuk Memahami Jawaban “Tidak” dari Tuhan

Ketika Tuhan memberikan jawaban “tidak” atas doaku, rasanya berat bagiku untuk menerimanya. Aku merasa Tuhan itu seperti tidak peduli kepadaku dengan membiarkan hal-hal buruk terjadi menimpa hidupku.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Aku & Allah: Perjalanan untuk Bertumbuh Semakin Mengenal-Nya, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2018

4 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!