Saat Hidup Terasa Begitu Hambar

Info

Oleh Aryanto Wijaya, Jakarta
Ilustrasi gambar oleh Galih Reza Suseno

Kecewa. Jenuh. Hambar.

Tiga kata itu adalah gambaran dari masa-masa kelam yang sempat kulalui di awal tahun 2017. Sebagai seorang sarjana fresh graduate yang baru diwisuda beberapa bulan sebelumnya, aku memimpikan hidup yang signifikan dan penuh petualangan. Aku punya mimpi besar ingin menjelajah ke banyak tempat dan menaklukkan tantangan baru. Namun, mimpi itu seolah sirna begitu saja ketika akhirnya aku mendapati diriku bekerja sebagai seorang editor yang notabene adalah pekerja kantoran yang pergi-pagi-pulang-petang setiap hari.

Sebagai seorang anak muda yang punya mimpi meletup-letup, pekerjaan ini membuat hidupku begitu hambar, biasa saja. Tidak ada peristiwa-peristiwa dramatis yang terjadi. Tidak spektakuler. Dan, kalau boleh jujur, terasa amat membosankan. Aku tidak melihat ada keistimewaan di balik memelototi layar komputer, berkutat dengan kata-kata, dan terus menerus setiap hari seperti ini.

Yang ada dalam benakku hanyalah weekend, weekend, dan weekend supaya aku bisa melarikan diri dari pekerjaan dan jalan-jalan menghibur diri. Bahkan, karena merasa begitu bosan dengan pekerjaan ini, aku sempat terpikir untuk dipecat saja oleh atasanku supaya nanti bisa kembali ke Yogyakarta dan mencari pekerjaan lain di sana.

Namun, ketika dihadapkan pada keadaan di mana aku nyaris “dipecat”, aku merasa hidupku mulai terguncang. Setelah sekitar 3 bulan bekerja, direkturku datang menemuiku. Mulanya pertemuan kami berlangsung hangat dan ceria hingga akhirnya dia bicara serius denganku. Katanya, kinerjaku belum memenuhi ekspektasinya. Sepenangkapanku, jika aku ingin tetap bekerja di sini, mulai dari saat itu aku diberi waktu 3 bulan untuk memperbaiki kinerja.

Jika sebelumnya aku sempat berpikir untuk dipecat, seharusnya kejadian hari itu membuatku senang. Tapi, malam harinya aku pulang dengan perasaan gugup. Aku berpikir keras, jika sampai aku dipecat, mau kerja apa? Lagipula pengalamanku pun belum banyak. Malam itu aku merasa ada yang salah dengan diriku dan aku berusaha mencari tahu apa salahnya.

Aku menangis dan berdoa. “Tuhan, aku gak tahu lagi mau gimana. Aku jenuh. Aku stres. Aku gak suka dengan kerjaanku. Tapi aku juga gak mau kalau sampai kehilangan pekerjaan ini. Tolong aku.”

Sebuah teguran keras dari Tuhan

Suatu ketika, saat aku sedang melakukan perjalanan di atas kereta ekonomi, aku membuka catatan harianku pada tahun 2015. Di halaman keduanya, terdapat sebuah artikel dari Arie Saptaji yang berjudul “Di Balik yang Biasa-biasa Saja”. Dalam salah satu paragrafnya, dia mengutip sebuah tulisan dari Mark Galli yang berjudul “Insignificant is Beautiful”. Isinya adalah sebagai berikut:

“Pencarian akan signifikansi, khususnya bila berkaitan dengan mengubah dunia ini, dapat membutakan kita terhadap aktivitas keseharian, tugas remeh, dan pekerjaan kotor yang merupakan bagian tak terpisahkan dari hidup dalam pemuridan.”

Apa yang kubaca begitu menamparku. Aku mendambakan kehidupan yang signifikan di mana aku bisa melakukan hal-hal luar biasa dan mewujudkan mimpi-mimpiku. Namun, tanpa kusadari, obsesi berlebihan pada keinginan itulah yang membuatku kehilangan makna dari setiap aktivitas rutin yang kulakukan. Aku menganggap pekerjaanku terlalu remeh. Keinginan untuk mewujudkan hidup yang luar biasa tanpa disertai hikmat telah membuatku buta akan hal-hal yang seharusnya kulakukan sebagai tanggung jawabku.

Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus menuliskan demikian: “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1 Korintus 10:31). Ayat ini juga menamparku dengan keras. Paulus tidak menyebutkan bahwa untuk memuliakan Allah kita harus berkhotbah di hadapan ribuan jemaat, bekerja sebagai direktur, bertulalang ke tempat-tempat jauh, atau memiliki ribuan followers di Instagram. Paulus hanya menuliskan jika kita makan, atau minum, atau lainnya, lakukan semuanya untuk kemuliaan Allah! Artinya, segala aktivitas sederhana dan remeh-temeh yang kita lakukan pun sejatinya bisa dipakai-Nya sebagai sarana untuk memuliakan-Nya.

Akhirnya, aku menyadari bahwa di sinilah letak kesalahan yang kupelihara selama beberapa bulan pertama. Aku lupa untuk memuliakan Allah di balik pekerjaan yang kulakukan. Selama ini aku hanya berfokus pada diriku sendiri. Aku berfokus untuk mengejar mimpi, tapi aku lupa bahwa sesungguhnya Tuhanlah yang memiliki kuasa untuk mewujudkan mimpi itu atau tidak.

Jika makan dan minum saja bisa digunakan untuk memuliakan Allah, maka seharusnya pekerjaanku memelototi layar komputer pun bisa dipakai untuk memuliakan-Nya. Ketika aku melakukan pekerjaanku untuk Tuhan, itu berarti aku menjadikan Tuhan sebagai saksi dan penonton utama dari setiap pekerjaanku. Aku percaya bahwa ketika tulisan-tulisan yang kuedit berhasil ditayangkan dan memberkati banyak orang, di situlah Tuhan menepuk pundakku dan berkata, “Good job.” Atau, ketika aku merasa lelah dan buntu ide, di situ jugalah Tuhan merangkulku dan berkata, “Ayo semangat, kamu pasti bisa!

Memaknai hidup dari perspektif yang baru

Sekarang, sudah setahun aku berkutat dengan pekerjaan di balik layar komputer. Tuhan telah mengubahku memandang pekerjaan yang pada mulanya terasa hambar buatku menjadi sebuah pekerjaan yang banyak rasa. Dalam bekerja dan kehidupan keseharianku, rasa jenuh memang tidak terhindarkan. Namun, alih-alih kecewa, sedih, dan terpuruk, aku mengalihkan rasa jenuh itu dengan karya yang lain. Jika dahulu aku menjadikan bepergian sebagai pelarian, kini aku menjadikannya sebagai kesempatan untuk berkarya dan mengembangkan kapasitasku sebagai seorang editor. Dari tiap-tiap perjalananku, aku menuliskannya dalam sebuah blog perjalanan yang kukelola sendiri.

Ada sebuah kutipan bijak dari Bunda Teresa yang selalu kuingat.

“Not all of us can do great things. But we can do small things with great love”—Tidak semua dari kita bisa melakukan hal-hal besar. Tapi, kita bisa melakukan hal kecil dengan kasih yang besar.

Pada intinya, hambar atau tidak kehidupan ini tergantung dari bagaimana cara kita memaknainya. Jika kita memaknai hidup ini hanya sekadar rutinitas menuju akhir hayat, maka kita takkan mampu mengecap banyak rasa darinya. Akan tetapi, ketika kita menyadari bahwa tiap-tiap aktivitas yang kita lakukan adalah untuk kemuliaan-Nya, maka tak ada lagi hal-hal yang terkesan terlalu biasa untuk kita lakukan.

Ketika kita setia dengan hal-hal kecil atau remeh-temeh yang Tuhan berikan sebagai bagian dari tanggung jawab kita, percayalah bahwa Dia akan memberikan kepada kita tanggung jawab yang lebih besar.

“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar” (Lukas 16:10).

Baca Juga:

7 Doa untuk Korban Bencana Alam

Teruntuk korban bencana alam, kami mengingat kalian, dan menyebut nama kalian di dalam doa kami. Mari kita berdoa memohon tujuh hal berikut ini kepada Tuhan untuk mereka yang menjadi korban bencana alam.

facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Artikel, Kesaksian, Pena Kamu, Tema, Tema 2017

20 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!