Natalku yang Berpohon

Info

Oleh Frans Hot Dame Tua, Tangerang

Si pohon cemara beserta ornamen bandul-bandulnya tegak berdiri. Kapas-kapas putih pun memberi kesan salju di sekujur tubuh pohon itu. Tunggu…kapas? Kesan? Ya, itu bukan pohon sungguhan. Itu hanyalah pohon buatan yang menyerupai aslinya. Hadirnya pohon itu menandakan dimulainya sebuah masa yang disebut Natal.

Ya, Natal adalah sebuah masa. Euforianya tidak hanya terjadi satu hari, tapi selama berminggu-minggu dan banyak orang sangat menanti-nantikan masa ini. Bahkan, mungkin bisa juga dikatakan kalau Natal seakan membuat hari-hari lain di dalam setahun itu dianaktirikan karena Natal diperingati dengan meriah, sedangkan hari-hari lainnya biasa saja.

Di usiaku yang dulu sedang beranjak remaja, aku hanya berpikir tentang hal-hal yang membahagiakan hatiku. Dan, hal-hal penuh kebahagiaan tersebut banyak kutemukan saat masa Natal. Kebahagiaan bagiku waktu itu adalah ketika aku bisa lepas dari rutinitas sekolah seperti bangun pagi, fokus belajar di kelas, dan hal-hal menjemukan lainnya.

Pohon cemara yang dipasang lengkap dengan segala perniknya memberiku harapan bahwa sebentar lagi musim liburan akan segera datang. Artinya, aku bisa bangun tidur lebih siang, menonton kartun di televisi, dan tentunya tidak harus pergi sekolah. Sebagai seorang anak berusia 14 tahun, itulah secuplik kesan tentang Natal yang pernah kurasakan: Natal adalah masa yang penuh dengan kebahagiaan.

Tapi, semakin usiaku yang bertambah, semakin banyak pula masa Natal yang kulalui. Aku pun jadi mulai mengerti apa makna dan tujuan hidupku, terutama saat aku duduk di bangku kuliah. Dan, di tahap inilah aku akhirnya mengenal Yesus, nama yang tentunya sangat familiar di telinga kita.

Sesungguhnya, sebelum aku mengenal-Nya di bangku kuliah, nama itu tidaklah asing dalam pendengaran masa kecilku. Tiap minggu aku pasti menyebut nama itu. Nama itu selalu ada di nyanyian yang aku nyanyikan tiap hari Minggu. Tidak heran jika nama itu memang tidak asing bagiku. Tapi, di masa itu, aku belum mengenal betul siapa nama itu.

Namun, ada satu fakta yang sebenarnya kuketahui betul sewaktu aku masih kecil, yaitu bahwa masa Natal ada karena nama itu ada! Masa Natal itu ada untuk memperingati kelahiran-Nya. Hal itulah yang kuketahui waktu kecil. Dan, seiring berjalannya waktu, pemahamanku tentang nama itu pun semakin bertumbuh ketika aku mulai mengenal-Nya lebih jauh lagi.

Inilah yang membuatku merenung dan mengingat kembali tentang apa makna dari masa Natal yang sedang kita jalani hari ini. Ketika aku masih kecil dulu, aku bersukacita di masa Natal karena liburan dan pohon Natal yang indah. Tapi, waktu itu aku sama sekali tidak peduli tentang Yesus yang sesungguhnya menjadi alasan utama di balik hadirnya masa Natal. Kala itu, gemerlap hiasan Natal dan pohonnya, beserta liburan dan banyak hiburan telah menggeser Yesus sebagai fokus utama dalam masa Natal. Euforia Natal ini menutup mataku dan membuatku berpikir bahwa Natal tidak perlu ‘terlalu banyak’ Yesus, cukuplah menyebut nama-Nya dalam puji-pujian saja, pikirku. Aku seolah menyaksikan Natal sebagai sebuah pentas yang penuh dengan gemerlap keindahan “bintang tamu”, tanpa aku menyadari bahwa sebenarnya ada Yesus, sang bintang utama, yang menanti di belakang panggung hingga pentas berakhir.

Sepertinya, tidak hanya aku saja yang pernah merasakan ini. Mungkin juga ada beberapa orang, ataupun bisa jadi pembaca yang terkasih juga pernah merasakan hal yang sama. Kita terbuai oleh keindahan pohon cemara. Kita terlena oleh liburan dan diskon belanja. Bahkan, kita terobsesi untuk mendekorasi gereja ataupun rumah semeriah mungkin supaya orang-orang tahu bahwa kita sedang bersukacita merayakan Natal.

Namun, Natal yang kita rayakan hari ini sesungguhnya amatlah kontras dengan Natal yang pertama kali terjadi. Alkitab tidak mencatat ada gegap gempita dan kemeriahan menyambut kelahiran sang Juruselamat. Alkitab justru menyajikan kisah Maria yang tengah mengandung harus menempuh perjalanan jauh hingga tibalah saatnya untuk bersalin. Tidak ada rumah penginapan bagi Maria untuk bersalin. Akhirnya hanya palungan sederhana lah yang menyambut kelahiran sang Juruselamat. Dan dari tempat makan ternak itulah, sukacita besar dicurahkan bagi seluruh umat manusia (Lukas 2:1-7).

Sejak awal, kelahiran Yesus di dunia memang sepertinya sulit untuk dimengerti oleh logika manusia. Mengapa Juruselamat yang katanya adalah Raja harus lahir dengan cara yang hina? Bukankah Juruselamat itu adalah Pribadi yang perkasa dan sanggup menumpas segala kejahatan di muka bumi? Kok, Juruselamat itu malah hadir dalam wujud bayi mungil yang tidak berdaya?

Kelahiran Yesus seolah-olah menjungkirbalikkan logika manusia. Tajuk kelahiran Juruselamat yang seharusnya menggemparkan dunia, hanya ditunjukkan dengan kelahiran seorang bayi di dalam palungan.

Mungkin, inilah yang membuatku dulu sulit untuk melihat Yesus dalam masa Natal hingga aku pun berusaha membuat Natal yang sesungguhnya dulu terjadi dalam kesederhanaan kini diperingati dalam kemeriahan. Aku memperingati kelahiran Sang Juruselamat itu dengan menghadirkan pohon cemara dan berbagai pernak-perniknya, hingga aku lupa akan siapa yang sesungguhnya sedang aku rayakan.

Di masa Natal ini, aku ingin belajar dari Maria yang teladannya bisa kita ikuti untuk menyongsong masa Natal ini. Ketika para gembala memberitakan keajaiban yang mereka lihat, Maria menyimpan segala perkara itu dalam hatinya dan merenungkannya (Lukas 2:17-19). Dengan rendah hati, Maria menerima kelahiran Yesus Kristus sebagai rencana Allah yang agung. Bukan rencana yang indah dan menyenangkan mata, melainkan rencana yang begitu mulia bagi mereka yang hatinya miskin di hadapan Allah.

Yesus Kristus, Juruselamat yang lahir adalah bukti dari Allah yang amat setia dan tidak pernah meninggalkan perbuatan tangan-Nya. Kelahiran Yesus merupakan awal dari karya-Nya yang begitu agung untuk menyelamatkan umat manusia melalui kematian dan kebangkitan Yesus kelak. Kelahiran hingga kebangkitan Yesus adalah rentetan peristiwa yang tak boleh dipisahkan satu dengan yang lain.

Dan, pada akhirnya, Natal adalah sebuah masa tentang Yesus. Sebuah masa yang membuktikan kasih Allah kepada manusia. Oleh karena itu, kiranya masa ini pun dapat menjadi pengingat bagi kita untuk berpaling dari pesona gemerlap pohon cemara kepada makna kedatangan Yesus ke dunia yang begitu berharga.

Kar’na kasihNya padaku Yesus datang ke dunia
Ia t’lah memb’ri hidupNya gantiku yang bercela
O, betapa mulia dan ajaib kuasaNya!
Kasih Jurus’lamat dunia menebus manusia.

Kidung Jemaat 178 – Kar’na Kasih-Nya Padaku

Baca Juga:

Catatan Natal di Tanah Rantau

Tahun ini adalah kali ketika aku tidak merayakan Natal bersama keluarga. Kadang, ada rasa rindu dan sepi ketika harus merayakan Natal tanpa kehadiran orang terkasih. Namun, ada dua pengalaman di tanah rantau yang mengajariku untuk memaknai Natal dari perspektif yang berbeda.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 12 - Desember 2017: Natal, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2017

3 Komentar Kamu

  • pohon cemara, pohon yang tidak mengugurkan daunnya dan tetap bertahan di musim dingn..
    melambangkan kasih Allah yang kekal bagi manusia.

    bintang melambangkan sang bintang timur yang harusnya menjadi yang terutama dalam hidup kita

    dan lampu natal yang betkelap-kelip melambangkan manusia yang hidupnya sering menyala dan redup kembali, begitu seterusnya..

  • Kiranya di Natal ini bukan hanya kita sekedar merayakan hari kedatangan Yesus, tetapi bgmana kita menerima Dia sbgai Tuhan dan Juruselat kita. Masuk ke dalam hati kita dan menguasai hati dan pikiran kita utk melakukan apa yg Tuhan kerjakan dlm hidup kita masing2. Mari kita bersorak dan bersukacita atas kedatangan Tuhan kita. God bless us …

Bagikan Komentar Kamu!