Kasih yang Besar

Info

Selasa, 14 November 2017

Kasih yang Besar

Baca: 1 Yohanes 3:1-8

3:1 Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.

3:2 Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.

3:3 Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.

3:4 Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah.

3:5 Dan kamu tahu, bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa.

3:6 Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia.

3:7 Anak-anakku, janganlah membiarkan seorangpun menyesatkan kamu. Barangsiapa yang berbuat kebenaran adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar;

3:8 barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu.

Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. —1 Yohanes 3:1

Kasih yang Besar

Baru-baru ini, kami menjemput Moriah, cucu perempuan kami yang berusia 22 bulan, untuk bermalam pertama kalinya tanpa kakak-kakak lelakinya. Kami mencurahkan kasih sayang dan perhatian total kepada Moriah. Kami ikut melakukan semua aktivitas yang ia sukai. Keesokan harinya, setelah mengantar Moriah pulang, kami pamit dan melangkah menuju pintu. Saat itu juga, tanpa mengucapkan apa-apa, Moriah meraih tas yang dibawanya menginap (yang masih tergeletak di dekat pintu) dan kembali mengikuti kami keluar.

Gambaran itu terpatri dalam ingatan saya: Moriah yang masih mengenakan popok dan sandal kebesaran bersiap untuk menikmati waktu bersama nenek dan kakeknya. Saya tersenyum setiap kali mengingat peristiwa itu. Moriah ingin sekali pergi bersama kami, karena ia sangat ingin dimanjakan oleh kami.

Meski Moriah belum bisa mengungkapkan perasaannya, saya yakin ia merasa dikasihi dan dihargai. Kasih yang kami tunjukkan kepada Moriah merupakan gambaran sederhana dari kasih Allah yang besar bagi kita, anak-anak-Nya. “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah” (1Yoh. 3:1).

Ketika mempercayai Yesus sebagai Juruselamat kita, kita menjadi anak-anak Allah dan mulai memahami kebesaran kasih yang dilimpahkan-Nya atas kita dengan jalan menyerahkan nyawa Anak-Nya untuk kita (ay.16). Kita pun rindu menyenangkan-Nya lewat segala perkataan dan perbuatan kita (ay.6)—dan mengasihi-Nya dengan ingin selalu menghabiskan waktu bersama-Nya. —Alyson Kieda

Tuhan, terima kasih karena Engkau begitu mengasihi kami sehingga rela mati bagi kami dan bangkit lagi agar kami dapat hidup kekal bersama-Mu. Tolong kami menjadi teladan dari kasih-Mu kepada semua orang yang kami temui.

Sungguh dalam kasih Allah Bapa kepada kita!

Bacaan Alkitab Setahun: Ratapan 3-5; Ibrani 10:19-39

facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

37 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!