Akhir yang Baik

Info

Kamis, 9 November 2017

Akhir yang Baik

Baca: Wahyu 22:1-5

22:1 Lalu ia menunjukkan kepadaku sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir ke luar dari takhta Allah dan takhta Anak Domba itu.

22:2 Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang-menyeberang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali; dan daun pohon-pohon itu dipakai untuk menyembuhkan bangsa-bangsa.

22:3 Maka tidak akan ada lagi laknat. Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya,

22:4 dan mereka akan melihat wajah-Nya, dan nama-Nya akan tertulis di dahi mereka.

22:5 Dan malam tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka, dan mereka akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya.

Takhta Allah dan takhta Anak Domba akan ada di dalamnya dan hamba-hamba-Nya akan beribadah kepada-Nya, dan mereka akan melihat wajah-Nya. —Wahyu 22:3-4

Akhir yang Baik

Ketika lampu dipadamkan dan kami siap-siap menyaksikan film Apollo 13, teman saya tiba-tiba bergumam, “Sayang sekali mereka semua mati.” Saya pun menonton film tentang penerbangan ke luar angkasa di tahun 1970 itu dengan berdebar-debar, sambil menanti terjadinya tragedi. Ketika film sudah tamat dan daftar nama pemain mulai tertampil di layar, saya baru sadar telah dibohongi teman saya. Saya memang tidak tahu atau tidak ingat tentang akhir dari kisah nyata para astronaut itu. Meski menghadapi banyak kesulitan, mereka dapat pulang ke bumi dengan selamat.

Dalam Kristus, kita mengetahui akhir dari kisah kita—kita juga akan pulang ke rumah kita yang sejati dengan selamat. Artinya, kita akan hidup selamanya bersama Allah Bapa kita di surga, seperti yang kita baca dalam kitab Wahyu. Tuhan akan menciptakan “langit yang baru dan bumi yang baru” karena Dia menjadikan segala sesuatu baru (Why. 21:1,5). Di kota yang baru itu, Tuhan Allah akan menyambut umat-Nya untuk hidup bersama-Nya. Di sana, kita akan hidup tanpa ketakutan dan tanpa kekelaman. Kita memiliki pengharapan karena kita mengetahui akhir dari kisah kita.

Mengetahui akhir kisah dapat mengubah cara pandang kita terhadap masa-masa yang dirasakan begitu sulit untuk dijalani, misalnya ketika seseorang menghadapi kepergian orang yang dikasihinya atau bahkan kematiannya sendiri. Walaupun kita ngeri membayangkan kematian, kita tetap dapat merasakan sukacita dari janji kekekalan yang akan dijelang. Kita merindukan sebuah kota di mana tidak akan ada lagi kutukan—di sanalah kita akan menjalani hidup selamanya dalam terang Allah (Why. 22:5). —Amy Boucher Pye

Tuhan Yesus Kristus, berilah kepadaku pengharapan yang tak terpadamkan, agar aku terus memegang janji-Mu dan masuk dalam hidup kekal bersama-Mu.

Allah menjanjikan umat-Nya akan mengalami akhir kisah yang baik.

Bacaan Alkitab Setahun: Yeremia 46-47; Ibrani 6

facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

40 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!