3 Hal Tentang Bersyukur yang Harus Kamu Ketahui

Info

Oleh Stacy Joy, Amerika Serikat
Artikel asli dalam bahasa Inggris: Thank God I’ve got Fingers and Toes

Pengalaman bertemu dengan orang-orang kusta di India Selatan pada musim panas tahun 2013 adalah kenangan yang tidak akan pernah kulupakan. Waktu itu aku baru berumur 13 tahun dan baru saja membantu keluargaku melaksanakan ibadah bagi beberapa orang Kristen di sana.

Saat mobil yang kutumpangi berguncang di sepanjang jalan pegunungan yang mengerikan, aku memperhatikan jari-jari tanganku dengan detail. Kemudian tatapanku jatuh ke kaki, dan ke jari-jariku. Selama beberapa saat aku berdiam diri dan membiarkan diriku larut dalam lamunan. Aku berbisik lirih, “Terima kasih Tuhan, aku mempunyai jari-jari di tangan dan kaki”

Hari itu, pandanganku tentang bersyukur berubah secara drastis.

1. Bersyukur adalah sebuah cara hidup

Bersyukur kepada Allah bukanlah sekadar doa sebelum makan; mengucap syukur adalah cara hidup. Aku menyadari bahwa di dalam hidup ini tidak ada sesuatu yang benar-benar terjamin, termasuk juga kedua lenganku. Ketika kami berjalan di antara orang-orang kusta di India, pandanganku tertuju kepada orang-orang yang masih hidup walaupun banyak anggota badannya membusuk. Apa yang kulihat itu menyadarkanku bahwa selama ini aku telah berpikir terlalu sempit. Aku menyadari bahwa aku tidak pernah bersyukur kepada Allah atas hal-hal sederhana, dan berkat-berkat-Nya yang mengelilingiku setiap hari.

Kita bisa mengucap syukur kepada Tuhan atas hal-hal sederhana, seperti: angin sepoi-sepoi, pepohonan, sinar matahari, kaki untuk berjalan, juga mata untuk melihat. Rasa syukur kita atas hal-hal sederhana ini adalah disiplin spiritual. Akan tetapi, sayangnya kita dapat dengan mudah mengabaikan ini. Chuck Swindoll, seorang pendeta yang cukup dikenal di Amerika berkata bahwa mengucap syukur adalah sebuah keputusan yang harus diambil seseorang, dan keputusan ini membutuhkan usaha.

Allah menciptakan kita untuk menghidupi kehidupan yang penuh ucapan syukur. Rasul Paulus dalam tulisannya di 1 Tesalonika 5 memanggil orang-orang percaya untuk mengucap syukur dalam segala keadaan. Panggilan ini bukan sekadar gagasan untuk menolong diri sendiri. Paulus tahu bahwa rasa syukur memiliki dampak yang besar untuk jiwa kita. Secara psikologis maupun spiritual, rasa syukur dapat mengurangi stres, kegelisahan, dan juga kekhawatiran.

2. Bersyukur dapat menghilangkan ketakutan dan kekhawatiran

Saat ini aku sedang berusaha untuk meraih gelar yang lebih tinggi dalam bidang konseling. Semakin aku belajar, semakin aku menyadari bahwa melatih diri untuk menjalani kehidupan yang penuh rasa syukur adalah salah satu cara terbaik untuk menghilangkan kekhawatiran, ketakutan, dan kegelisahan. Rasa syukur bukanlah sekadar alat psikologis. Akan tetapi, rasa syukur adalah sebuah realitas spiritual yang dibahas oleh Rasul Paulus dalam Filipi 4:6: “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”

Ayat tersebut tidak berakhir berakhir begitu saja. Setelah kita menyatakan segala keinginan dan kekhawatiran kita kepada Allah, serta menunjukkan kepercayaan kita akan kedaulatan Allah, maka damai sejahtera yang melampaui segala akal akan diberikan kepada kita! (Filipi 4:7). Ini adalah janji yang indah, janji yang begitu kuat.

3. Bersyukur mengubah cara kita memaknai tantangan hidup

Dietrich Bonhoeffer, seorang pendeta dan teolog Jerman yang dibunuh di kamp konsentrasi Nazi karena melawan Hitler pernah berkata, “Hanya oleh rasa syukur saja kehidupan ini menjadi kaya.” Jika seorang seperti Bonhoeffer yang hidup dan disiksa di kamp penyiksaan bisa berkata-kata demikian, maka terlebih lagi kita semua. Kita diminta untuk mengingat semua hal—baik itu besar ataupun kecil—yang telah Allah berikan kepada kita, dan mengucap syukur kepada Allah atas segala hal tersebut.

John MacArthur, seorang pendeta dan penulis merangkumnya dengan tepat: “Hati yang bersyukur…sangat berbeda dengan kebanggaan, keegoisan, dan kekhawatiran. Hati yang bersyukur itu menolong orang-orang percaya untuk bersandar sepenuhnya pada Tuhan, bahkan dalam masa-masa yang paling berat sekalipun. Tak peduli seberapapun berombaknya lautan, hati orang percaya dapat tetap tenang karena pujian dan rasa syukur yang tulus kepada Tuhan.”

Di bulan ini, maukah kamu bergabung denganku untuk mengucap syukur kepada Allah atas hal-hal yang berbeda setiap harinya? Cobalah ikuti tantangan ini sejenak. Aku percaya bahwa dengan mengucap syukur kamu dapat melihat keindahan di tengah rasa sakit, penderitaan, bahkan dalam hidup sehari-hari yang terasa membosankan.

Baca Juga:

Aku Merasa Cacat Karena Kelainan Mata, Namun Inilah Cara Tuhan Memulihkan Gambar Diriku

Tumbuh besar sebagai seorang perempuan dengan kelainan mata sempat membuatku minder dan bertanya-tanya: Jika Tuhan mengasihi anak-Nya, apakah mungkin Dia memberikan sesuatu yang begitu pahit untuk ditelan?

facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 11 - November 2017: Hikmat, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2017

22 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!