Menulis Surat

Info

Minggu, 10 September 2017

Menulis Surat

Baca: 2 Korintus 3:1-6

3:1 Adakah kami mulai lagi memujikan diri kami? Atau perlukah kami seperti orang-orang lain menunjukkan surat pujian kepada kamu atau dari kamu?

3:2 Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang.

3:3 Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.

3:4 Demikianlah besarnya keyakinan kami kepada Allah oleh Kristus.

3:5 Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup untuk memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah.

3:6 Ialah membuat kami juga sanggup menjadi pelayan-pelayan dari suatu perjanjian baru, yang tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh, sebab hukum yang tertulis mematikan, tetapi Roh menghidupkan.

Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang. —2 Korintus 3:2

Menulis Surat

Ibu saya dan saudari-saudarinya masih suka menulis surat—suatu seni yang semakin ditinggalkan orang. Setiap Minggu mereka saling bertukar cerita tentang kehidupan mereka melalui surat; begitu konsistennya hingga ada seorang tukang pos yang merasa khawatir apabila ia tidak membawa surat untuk dikirimkan! Surat mereka berisi kisah tentang seluk-beluk dan suka-duka kehidupan, serta peristiwa sehari-hari yang dialami teman-teman dan keluarga.

Saya senang memikirkan kegiatan Mingguan yang dilakukan oleh para wanita itu. Lewat kegiatan tersebut, saya didorong untuk semakin menghargai perkataan Rasul Paulus yang menyatakan bahwa mereka yang mengikut Yesus disebut sebagai “surat Kristus”, yang “ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup” (2Kor. 3:3). Dalam menanggapi guru-guru palsu yang ingin mendiskreditkan berita yang dibawanya (lihat 2 Kor. 11), Paulus mendorong jemaat di Korintus untuk senantiasa mengikut Allah yang hidup dan sejati seperti yang diajarkannya. Dalam pesannya, ia menggambarkan orang percaya sebagai surat Kristus. Hidup mereka yang telah diubahkan merupakan kesaksian tentang karya Roh yang bekerja dalam pelayanan Paulus yang lebih kuat daripada surat tertulis apa pun.

Alangkah indahnya ketika Roh Allah yang diam di dalam kita menuliskan kisah tentang anugerah dan penebusan Allah! Meskipun sama pentingnya dengan kata-kata yang tertulis, hidup kita menjadi saksi kebenaran Injil yang terbaik, karena hidup kita berbicara begitu banyak lewat belas kasih, pelayanan, ucapan syukur, dan sukacita yang kita tunjukkan. Melalui perkataan dan perbuatan kita, Tuhan dapat menyebarkan kasih-Nya yang menghidupkan. Jadi, pesan apa yang kamu sampaikan lewat hidupmu hari ini? —Amy Boucher Pye

Tuhan Allah, tulislah kisah hidupku agar aku dapat mencerminkan kasih dan kebaikan-Mu kepada siapa saja yang kutemui hari ini.

Kita adalah surat-surat Kristus.

Bacaan Alkitab Setahun: Amsal 8-9 dan 2 Korintus 3

facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

25 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!