Aku Bergumul Karena Kehilangan Papa, Namun Jawaban Allah Membuatku Tertegun

Info

Oleh Lidya Corry, Jakarta

16 Mei 2017 adalah hari yang tidak akan pernah kulupakan seumur hidupku. Tepat pukul 08:52, ketakutan terbesarku terjadi. Aku kehilangan Papa untuk selama-lamanya. Di dalam ruang ICU, di tengah deru mesin ventilator dan alarm monitor jantung, di samping ranjang tempat Papa terbaring, pikiranku kosong. Yang aku tahu, selepas peristiwa ini, hidupku takkan lagi pernah sama.

Ketika momen yang menyakitkan itu datang, aku bertanya-tanya mengapa Allah mengizinkan ini semua terjadi? Di awal kepergian Papa, aku berjuang untuk percaya bahwa Tuhan sungguh bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagiku sekeluarga. Tapi, tetap saja aku belum dapat memahami seutuhnya mengapa Dia memanggil Papa secara mendadak di saat masih banyak hal yang ingin kami lakukan bersama.

Dalam hati, aku sempat bertanya, “Tuhan, belasan tahun sudah Papa melayani Engkau dengan setia, tanpa mengeluh sedikit pun dalam kondisi apapun. Tuhan, keluarga kami begitu giat mendekatkan diri kepada-Mu, setiap hari berdoa dan bersaat teduh. Bahkan, aku telah mengabdikan masa mudaku untuk melayani Engkau di kampus dan gereja. Tapi, mengapa ini harus terjadi pada kami?” Walaupun aku berjuang untuk tidak menaruh rasa kecewa pada Tuhan, rasa sakit dan kehilangan memaksaku untuk berpikir demikian.

Seiring waktu berjalan, banyak orang datang untuk menghibur dan mendoakanku. Aku pun berusaha untuk melanjutkan hidupku dan menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan. Walaupun aku masih menyimpan rasa kecewa, tapi aku tetap berusaha mendekatkan diri pada Tuhan dengan berdoa, saat teduh, dan membaca buku atau artikel yang menguatkanku. Semua itu kulakukan dengan harapan supaya Tuhan memberiku alasan yang jelas mengapa Dia begitu cepat mengambil papa dari kami sekeluarga. Aku juga berharap supaya Tuhan menghiburku dan membantuku melupakan segala kesedihanku. Tapi, hari demi hari berlalu, perasaanku tidak bertambah baik. Aku masih sering menangis dan meratapi kepergian Papa.

Dalam kesedihanku itu, aku teringat akan kisah Ayub, seorang yang hidup berkelimpahan namun kehilangan segalanya dalam sekejap. Ayub kehilangan hartanya, anak-anaknya, istrinya, bahkan kesehatannya. Dalam kondisi Ayub yang mengenaskan, seharusnya Ayub bertanya-tanya kepada Tuhan mengapa Dia menimpakan malapateka ini. Ayub tidak pernah berbuat jahat, bahkan Tuhan sendiri pun menyatakan bahwa tidak ada orang lain di bumi yang saleh, jujur, dan takut akan Allah seperti Ayub (Ayub 1:8). Tetapi, karena kesalehan dan kejujurannya itu, Allah malah membiarkan Ayub dicobai oleh Iblis. Apakah ini berarti berarti Allah kejam?

Jika aku melihat dari perspektif manusia pada umumnya, maka aku akan menjawab “ya” bahwa Allah itu kejam. Allah adalah Allah yang kejam karena membalas kesalehan dan keujuran Ayub dengan kemalangan dan malapetaka. Namun, sekali lagi, itu jika aku hanya melihat dari perspektif manusia saja. Sebagai manusia, seringkali aku berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan kepastian dan ketenangan dalam hidup. Salah satu caranya adalah dengan cara merasionalkan Allah dan memasukkan-Nya ke dalam kerangka berpikirku sendiri. Jika aku melayani Allah, maka Allah akan baik padaku. Jika aku setia dan taat, maka Allah akan melimpahiku dengan berkat. Begitu pula sebaliknya. Cara pikir seperti ini membuatku menganggap bahwa apa yang Allah lakukan atau berikan kepadaku itu tergantung dari sikap dan perbuatanku. Dengan demikian, sebenarnya aku sendirilah yang menentukan bagaimana Allah harus bersikap atau bertindak.

Kisah Ayub yang tertulis dalam Alkitab menyatakan bahwa Allah bekerja di luar kendali manusia. Pikiran Allah berada jauh di luar jangkauan pemikiran manusia. Dalam Ayub 38, Allah menjawab pertanyaan Ayub dengan menyatakan kedaulatan-Nya atas semesta.

Kisah Ayub membuatku tertegun. Siapakah aku sehingga aku dapat menerka-nerka jalan pikiran Allah yang begitu ajaib menciptakan alam semesta ini? Dalam perenunganku atas pertanyaan itu, aku jadi teringat akan penggalan lirik sebuah lagu yang berjudul “Behold Our God”. Baitnya yang kedua berkata demikian:

Who has given counsel to the Lord
Who can question any of His words
Who can teach the One who knows all things
Who can fathom all his wondrous deeds

Dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti:

Siapakah yang dapat menasihati Allah
Siapakah yang dapat mempertanyakan perkataan-Nya
Siapakah yang dapat mengajari Dia yang mengetahui segalanya
Siapakah yang dapat menghitung segala perbuatan-Nya yang ajaib

Lirik lagu ini menamparku. Aku begitu terbatas untuk mengerti pikiran Allah yang tidak terbatas. Allah adalah Allah yang berdaulat atas alam semesta untuk selama-lamanya. Cara kerja dan cara berpikir Allah tidak mungkin bisa diselami olehku, seorang manusia yang terbatas.

Ada begitu banyak hal dalam kehidupan ini yang sulit untuk dimengerti, termasuk mengapa Allah memanggil pulang Papa begitu cepat. Tetapi, satu hal yang aku tahu dengan pasti yaitu Allah itu baik dan penuh kasih. Allah itu baik bukan hanya karena Dia memberikan keberhasilan atau kesuksesan, tetapi karena Dia memang baik. Allah penuh kasih bukan hanya karena Dia memberikan berkat, tetapi karena Dia adalah kasih. Oleh karena itu, aku belajar menerima bahwa di balik kepergian Papa, Allah melakukannya dalam hikmat dan kasih-Nya bagiku sekeluarga.

Ketika aku memahami kebenaran ini, aku bisa mengerti dan mendapatkan kekuatan untuk melewati hari-hariku. Seperti penggalan lagu “Trust His Heart” yang berkata:

God is too wise to be mistaken
God is too good to be unkind
So when you don’t understand
When you don’t see His plan
When you can’t trace His hand
Trust His heart

Aku percaya bahwa Allah begitu bijaksana dan Dia tidak mungkin salah. Allah begitu baik dan tidak mungkin berlaku jahat. Jadi, ketika aku tidak mengerti rencana-Nya, ketika aku tidak mampu melihat tangan-Nya, aku dapat mempercayai hati-Nya.

Soli Deo Gloria.

Baca Juga:

Kamu Pernah Minder Karena Penampilanmu Diejek Teman? Aku Pernah. Inilah Kisahku.

Aku terlahir dengan rambut yang keriting, kasar, dan terkadang kusut seperti kabel telepon yang jarang dipakai. Sewaktu duduk di SD, teman-teman sering mengejekku karena kondisi rambutku. Akibatnya, aku tumbuh menjadi seorang yang begitu minder.

facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 09 - September 2017: Tantangan, Artikel, Kesaksian, Pena Kamu, Tema, Tema 2017

19 Komentar Kamu

  • Benar-benar sangat memberkati atas kesaksian dari Lidya Corry. Saya sebelumnya kondisi hati hamper mirip dengan dia. Bingung dan sempat kesal ke Tuhan, karena saya dipisahkan dengan sesok Ibu yang sangat dekat dengan saya dan keadaan ekonomi saya yang dapat dibilang kurang dari cukup. Dan saya pun tinggal dengan bapa saya dan adik-adik saya yang masih kecil dan yang butuh kasih sayang dari seorang Ibu. Dan saya pun hubungan dengan bapa saya cukup buruk, sering berantem dan kacau balau. Tetapi saya diubah pola pikir saya untuk lebih dewasa dan menjadi abang dan ibu bagi adik-adik saya. Saya sangat berterimakasih atas kesaksian yang lebih menguatkan saya lagi. God Bless You~

  • @Lydia Corry @Cristian Stevanus dan saudara-saudari lainnya yg ditinggalkan orang yg dicintainya, saya bisa merasakan sedihnya ditinggalkan apalagi disaat kita masih ingin dekatnya. Sebenarnya Tuhan Yesus juga tidak ingin kematian jadi pemisah 2 dunia antara kehidupan di bumi dan kehidupan di surga, semua itu bermula dari murka Tuhan atas manusia pertama yg berbuat dosa sehingga Tuhan menghukum manusia dengan pemisah-pemisah yg membuat penderitaan bagi manusia. Tapi semua penderitaan kematian ini tidak akan lama lagi, Tuhan Yesus sedang mempersiapkan kedatanganNya untuk kedua kalinya, masa kejayaan iblis sudah mau habis, Tuhan Yesus akan mengambil kembali anak-anakNya yg dikasihiNya, mungkin kurang lebih 500 tahun lagi semua akan kembali seperti dulu lagi, manusia tidak akan mengalami kematian, iblis di hukum dan Tuhan mengenapi janji keselamatanNya. Kematian yg kita alami sekarang hanya sementara, tidak ada yg hilang dari orang-orang yg kita cintai, mereka masih bisa mengingat kita di surga, Tuhan Yesus hanya menghilangkan kuasa dosa atas dirinya, tapi semua ingatan yg baik akan tetap ada. Jika kita rindu kepada orang-orang yg kita cinta yg telah meninggalkan dunia, kita bisa berdoa kepada Tuhan Yesus. Sampai akhirnya kita pun akan mengalami kematian dan kembali kepadaNya, kita pun bisa bertemu kembali dengan orang-orang yg kita cintai di surga nanti. Buat saudara-saudari tetap semangat ya, tetap bersandar dalam kuasa Tuhan, dalam pengharapan ada sukacita, setiap masalah dalam hidup buatlah sebagai pembelajaran supaya semakin dekat dengan Tuhan Yesus. Bapa di surga akan selalu ada buat anak-anakNya yg mengasihiNya.

  • Terimakasih buat kesaksiannya Lidya Corry, saya juga merasakan hal yg sama baru saja 2 bulan yg lalu saya kehilangan sahabat saya, dimana saya sudah 2 tahun tidak berjumpa dengannya,. kepergiannya yg mendadak benar2 membuat saya sangat sakit hati, bahkan saat pertama sekali saya mendengar kabar itu saya memohon dengan sangat memohon kepada Tuhan Yesus agar tidak mengambil sahabat saya, tapi ternyata memang dia sudah pergi, semenjak itu dan sampai sekarangpun saya masih merasa hampa terkadang bertanya kepada Tuhan, mengapa harus sahabat saya mengapa bukan teman orang lain saja, terkadang saya tersadar betapa jahatnya saya berfikiran demikian, tapi saya juga selalu berusaha meyakinkan diri bahwa dia sekarang sudah berbahagia bersama Bapa di surga, dan itulah rencana Tuhan akan jalan hidupnya, terimakasih untuk kesaksian ini semoga saya semakin bisa bangkit dan tetap berpengharapan kepada Tuhan.

  • Pelayan Tuhan tertulis dalam 2 Korintus 6 ayat 4:6 Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu : dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran, dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa, dalam kemurahan hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati, dalam Roh Kudus dan kasih yang tidak munafik. Seperti itu seorang pelayan Tuhan dalam melayani kepentingan Tuhan. Asal usul manusia berasal dari tanah yg tidak kekal kemudian diberi hembusan nafas Tuhan sebagai rohnya. Tanah akan kembali kepada tanah. Roh akan kembali kepada Roh. 2 Korintus 3 ayat 17 berbunyi sebab Tuhan adalah Roh, dan dimana ada Roh Allah disitu ada kemerdekaan. Setiap manusia pasti mengalami sakit dan kematian. Tidak ada yg kebal terhadap penyakit, saya juga pelayan Tuhan. Saya juga baru saja berobat ke klinik, saya tidak mau menyalahkan Tuhan kenapa bisa sakit, saya malah tau diri karena kesalahan sendiri saya jadi sakit, saya malah bersyukur saya masih diberi umur untuk melayani Tuhan. Saya pernah hampir mati karena kecelakaan, saya tidak pernah menyalahkan Tuhan kenapa saya pelayan Tuhan bisa terluka parah, saya malah bersyukur masih diberi nafas untuk hidup. Saya juga pernah mau dibunuh iblis, saat saya lemah iblis datang dan menyerang saya, saya tidak pernah menyalahkan kemana pengamanan Tuhan kok iblis bisa masuk, saya lawan iblis itu dan saya berdoa masih diberi umur untuk melayani Tuhan. Pelayan Tuhan memang miskin, tapi pelayan Tuhan yg memperkaya orang banyak dengan firman Tuhan, jika ada pelayan Tuhan yg menggunakan uang jemaat untuk kepentingan pribadi, apalagi menyuruh-nyuruh bayar perpuluhan yg jelas-jelas Tuhan Yesus tidak menyuruhnya untuk bangsa non israel, maka upahnya ada di neraka. Tuhan Yesus lemah lembut penuh kasih kepada anak-anakNya, tapi untuk pelayan-pelayanNya Tuhan Yesus tegas, karena ujung tombak pelayanan firman Tuhan ada di gembala-gembalanya, jika gembalanya gak mengajarkan hal yg benar malah maki-maki orang dalam teks khotbahnya, upahnya ada di neraka. Kematian memang menyakitkan, semua orang pernah merasakan sedihnya ditinggal orang yg dicintainya. Ini adalah upah dari pemberontakan manusia pertama/Adam yg membuat seluruh keturunannya merasakan kematian dan kutukan terhadap tanah di bumi. Kita akan menantikan kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya, ketika hari itu tiba kematian tidak lagi jadi pemisah antara dunia dan surga. Tuhan Yesus memperbaharui kasihNya, Tuhan Yesus menghentikan kuasa iblis dan kuasa dosanya. Manusia kembali kepelukan Tuhan Yesus, hidup ditempat yg bernama Yerusalem Baru, kemudian menempatkan anak-anakNya ke surga. Kita harus terus memperkuat iman, jadikanlah pengertian Tuhan Yesus sebagai pegangan hidup. Tuhan Yesus memberkati

  • hari ini hatiku sangat kecewa utk bberapa hal yg ga bisa aku perbaiki. saatku kecewa, saat ini juga aku dihiburNya melalui kesaksian ini. Terimakasih.

  • kesaksian ini persis sama seperti yang terjadi dalam hidupku. 6 bulan yang lalu Tuhan memanggil ayah dari keluargaku. Sosok ayah yang begitu aku kasihi dan berharga untukku. Yang aku sesali, karena tak ada yang terbaik yang mampu ku berikan hingga akhir hidupnya. Namun,rencana Tuhan bukanlah rencana ku. Sekalipun air mata belum berhenti namun Tuhan Selalu menghiburku lewat hari-hari yang kulalui.

  • T
    erimakasih Yesus kisah yang sama dan sangat menguatkan saya

  • terimakasih untuk sharingnya, sangat memberkati. semoga kita semakin mengenal Tuhan lebih dalam lagi. Amin

  • Terimakasih Lidya Corry atas kesaksiannya, kisah yang sama juga menimpa saya (bahkan sampai saat ini) hampir 5 tahun ketika Tuhan memanggil Ayah saya. Yang ada di pikiran saya saat itu adalah kalau Ayah saya pergi saya dengan siapa ? My father is my hero. Ketika Ayah saya sakit dan setiap saat saya berdoa untuk kesembuhannya, jawabannya malah diluar dari yang saya bayangkan. Kecewa, hancur dan segala kesedihan membuat saya terpuruk. Sampai akhirnya saya sadar, ada 2 hal yang Tuhan ingin untuk saya bisa mengerti :
    1. Tuhan ingin saya mengandalkan Dia dalam hidup saya, bukan Ayah saya seperti yang saya lakukan selama ini, mengandalkan seorang manusia. Ketika akhirnya Tuhan memanggil pulang Ayah saya, tidak ada yang dapat dilakukan baik oleh saya maupun Ayah saya.
    2. Tuhan menjawab doa saya (walaupun bukan ini jawaban yang saya inginkan), ketika saya meminta kesembuhan dan permohonan agar Ayah saya terbebas dari penyakitnya. Dan benar saat ini Ayah saya sudah tidak lagi merasakan sakit dan Ayah saya telah sembuh. Dan saya percaya Ayah saya sudah lebih bahagia tinggal di rumah Bapa di sorga (walaupun meninggalkan saya sendiri dengan kesedihan yang mendalam).
    Setiap mengingat Ayah saya, yang saya minta hanya kekuatan dari Tuhan untuk bisa menerima setiap rencanaNya yang telah Ia tetapkan buat saya dan keluarga, walaupun terkadang rencana Tuhan jauh dari apa yang saya harapkan tapi pasti itu yang terbaik. Tuhan memberkati.

  • pengalaman yg mungkin serupa. papah saya meninggalkan kami, disaat saat saya masih berjuang sekolah. saat kepergian beliau, dosen saya Dtg menemui saya. perkataan yg selalu saya ingat sampai skrng, bahwa mungkin Tuhan mengizinkan saya untuk mengalami hal itu disaat skrng pasti ada alasannya. Beliau juga blg, tidak semua anak di dunia ini diberikan kesempatan untuk bisa merawat org tuanya saat sakit, kamu harus bersyukur bahwa Tuhan mengizinkan kamu untuk bisa merawat org tua mu sampai di pemberhentian akhir.

  • thanks Lidya untuk kesaksian nya. ini menguatkan saya.

  • Sungguh sebuah kesaksian yg bagus..
    Saya sendiri pernah mengalami hal ini..
    Saya kehilangan sosok Ayah tahun 2005.. Saat itu saya masih kuliah,masih sangat membutuhkan sosok Ayah tapi Tuhan memanggilnya pulang dgn cara yg tidak pernah keluarga duga.. Belum lagi melihat mama yg setiap hari menangis rasanya hati saya sangat hancur.. Kehidupan kami berubah drastis tapi puji Tuhan, saya dan adik saya bisa menyelesaikan kuliah.. Tapi sampai saat ini terkadang kalau sedang mengalami situasi yg berat, saya selalu ingat dgn papa.. Dan mulai mempertanyakan 1000 “why?” kepada Tuhan..
    Ya,kadang mungkin kita bisa menyalahkan Tuhan, mengapa Ia membuat kita harus mengalami semua ini.. Bukan hal yg mudah utk melewatinya tapi saya tau Tuhan mengasihi saya dan keluarga, ketika Ia mengambil sesuatu dari kehidupan kita, Ia pasti menggantikan dukacita itu dgn sukacita lainnya..
    Tetaplah percaya dan setia kepadaNya krn Ia tidak pernah memberi cobaan melebihi batas kemampuan kita..
    Semoga sedikit share dr saya bisa memberkati kita semua..

  • Buat saudara-saudari yg sharing disini, saya bisa merasakan kepedihan di tinggal orang yg kita cintai, Tuhan Yesus sudah menyediakan tempat yg layak di surga, suatu saat nanti kita akan bertemu kembali dengannya. Janji Tuhan Yesus adalah kekal, saya percaya kita yg ada disini adalah anak-anakNya yg mengasihi Tuhan Yesus dalam ucapan dan perbuatan. Saya juga tidak lepas dari masalah hidup, saya dituduh memfitnah dan mengatakan yg tidak benar. Padahal saya hanya menjawab apa yg ditanyakan, kemudian bertanya apa jawabanNya lalu menulisnya. Kenyataan memang pahit, tapi cobalah menerima kenyataan. Kenapa ya apa yg kita katakan benar tapi ketika ada orang yg tidak sepaham malah dituduh memfitnah. Padahal saya hanya bantu nuliskan dan jelaskan, kadang saya sedih juga kenapa orang terlalu fanatik dengan apa yg dipercayainya tanpa mencari kebenaran dari apa yg dipercayainya. Saya percaya 100% kebenaran Kristus, tapi bukan artinya saya percaya 100% doktrin gereja saya. Bukan artinya saya percaya 100% apa kata gembala-gembala gereja. Saya terus pelajari Alkitab/Bible, saya terus cari dan belajar apa yg Tuhan Yesus kehendaki. Saya percaya 100% kata Tuhan Yesus. Seperti itulah saya beriman, saya tidak mau makan mentah-mentah doktrin dari orang tanpa mencari kebenaranNya dalam Alkitab/Bible. Karena tubuh dan roh kita adalah bait sucinya Roh Kudus, kita diselamatkan bukan karena aliran gereja, bukan karena alat musik gereja, bukan karena tata ibadah gereja. Kita diselamatkan itu karena iman kita yg berisi sesuai kehendakNya. KehendakNya adalah doktrin yg tertulis di dalam Alkitab/Bible. Saya hanya sedih saja, tapi saya tetap akan berdiri di depan untuk menerjemahkan apa yg Tuhan Yesus kehendaki, sampai akhir hidup saya akan tetap jadi pelayan Tuhan Yesus, saya akan berikan segalanya buat Tuhan Yesus.

  • @Elly Anggriani Ang kematian adalah sesuatu yg tidak bisa dihindari manusia. Karena tubuh manusia berasal dari tanah maka akan kembali ke tanah. Sedangkan Roh akan kembali ke asalnya Roh. Mungkin pertanyaannya kenapa disaat butuh tapi Tuhan Yesus ambil. JawabNya ada dalam pertanyaan ini. Manusia itu mengalami kematian yg menghendaki Tuhan Yesus Bapa kita di surga atau manusia. Jika kita yg ada disini satu suara katakan itu karena kehendak Tuhan Yesus, mengapakah kita tidak percaya kepadaNya? Kenapa kita hanya mau menerima kuasa-kuasa yg baik sedangkan kejadian yg tidak baik kita mempertanyakan keputusanNya. Tuhan Yesus itu baik, Tuhan Yesus mengetahui apa yg dibutuhkan anak-anakNya, tapi disatu sisi Tuhan Yesus juga sadar telah menciptakan manusia yg tidak kekal, hanya dibentuk dari tanah. Sedangkan Tuhan Yesus adalah kuasa roh. Tidak akan lama lagi hari Tuhan akan terjadi, Tuhan Yesus akan datang untuk kedua kalinya, tidak akan ada lagi pertanyaan kenapa sekarang diambil saat dibutuhkan? Karena setelah hari kiamat tidak ada lagi kematian, semua kembali seperti awal manusia diciptakan, amarah Tuhan Yesus kepada manusia pertama telah hilang dan kita beserta orang-orang yg telah duluan meninggalkan kita akan berkumpul bersama-sama di surga, tempat yg Tuhan Yesus janjikan buat anak-anakNya yg mengasihiNya. Semoga jawaban ini bisa menguatkan iman saudara-saudari dan tetaplah selalu menjadikan Tuhan Yesus sebagai tempat pengharapan karena setiap waktu Tuhan Yesus akan selalu ada disamping kita anak-anakNya. Tuhan Yesus memberkati

  • Kesaksian ini mengingatkan saya akan papa saya yang di panggil Tuhan pada 18 mei 2017. keadaan saya saat itu persis seperti di kesaksian ini karena saya belum bisa memberikan yang terbaik untuknya dan mewujudkan keinginannya. Kekecewaan pada Tuhan saat itu ada apalagi papa jatuh sakit dan koma disaat saya ulang tahun. Betapa hancurnya saya saat itu. Tapi saya sadar Tuhan punya rencana indah dibalik semua kejadian ini yaitu perdamaian antar saudara yang bertengkar sejak lama dan sekarang malah makin dekat dan saling membantu juga saat saya mendengar kabar papa saya meninggal tepat dijam yang sama saya mendapat kabar bahwa beasiswa saya diterima. Saya juga senang sekarang papa tidak menderita lagi di rumah sakit namun sudah senang disurga bersama Tuhan Yesus.

  • Thx bgt kak. Superduper diberkati sama kesaksiannya

  • Aku juga gitu usia ku baru 18 tahun aku di tinggal papa tanpa penyebab pastinya papa meninggal karena papa meninggal dalam keadaan tidur dan hariku emang berubah semua ga sama lagi. Dimana setelah papa pergi 2 bulan kemudian adikku kecelakaan dan koma. Semua berantakan di kepala ku. Bersamaan dengan kecelakaan warung kami di bongkar dan uang yang cukup untuk biaya RS hilang gt aja karena udah di ambil dan bingung mau cari darimana lagi. Tetapi semua ada hikmahnya. Aku yakin Tuhan sudah mempersiapkannya untuk kita semua. Tapi emang kadang suka nggak ngerti rencana Tuhan. Yang pasti kita harus percaya.

  • kesaksian ini mirip seperti yg sy alami, Desember 2016 sy juga kehilangan ayah yg sangat sy kasihi, bagi sy dia adalah orang terpenting dalam hidup sy, sy mengabdikan seluruh hidup sy utk kebahagiaan kami berdua, karena dia sudah lama sakit2an, sy berjuang utk memenuhi segala hal utk dia, banyak rencana yg ingin sy lakukan utk dia di thn 2017 ini, tp Tuhan sdh lebih dahulu mengambil dia,
    sebelum itu Tuhan menunjukkan kpd sy utk membaca ayat di 1 Tesalonika 4 : 13-15 Tuhan tdk ingin sy bersedih hati seperti org yg tidak punya pengharapan.
    tp bbrp bulan kemudian sy msh merasakan kehilangan akan sosoknya, ayah yg slalu menyanyangi sy, tp Tuhan mengatakan bahwa dibandingkan ayah sy yg di bumi dahulu, Ia lebih menyanyangi sy, dan rencanaNya atas hidup sy lbh besar drpd rencana sy sndiri, dan bhw sy akan ketemu lg dgn ayah sy pada saatnya nanti. Amin
    jika Tuhan masih memberikan waktu di bumi utk di habiskan bersama dgn orang2 terkasih yg ada di samping kita saat ini, hal itu adalah berkah kasih karunia Tuhan, yg belum tentu akan terulang lagi nanti.
    Gbu all. Amin.

Bagikan Komentar Kamu!