Bolehkah Orang Kristen Mendengar Musik Sekuler?

Info

bolehkah-orang-kristen-mendengar-musik-sekuler

Oleh Ruth Lidya Panggabean, Depok

Kita hidup di tengah dunia yang telah jatuh ke dalam dosa. Oleh karenanya, kita tidak perlu heran ketika menemukan musik-musik, buku-buku, maupun tontonan yang tidak sesuai dengan standar Alkitab. Lalu, apakah itu berarti kita hanya boleh mendengarkan dan menyanyikan lagu-lagu rohani saja? Apakah semua musik yang kita labeli sebagai musik sekuler akan membawa kita ke dalam dosa?

Sebelum menjawab pertanyaan itu, ada 3 ayat Alkitab yang perlu kita cermati ketika mempertimbangkan sebuah lagu, buku, film, atau hal-hal lainnya.

1. “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu” (Filipi 4:8).

Ada sebuah cara yang baru-baru ini aku terapkan kepada diriku sendiri. Sebelum mendengarkan suatu lagu, aku akan membaca keseluruhan liriknya tanpa diikuti musik terlebih dahulu, lalu aku akan bertanya kepada diriku sendiri. Apakah aku setuju dengan pesan yang diangkat dalam lagu itu? Apakah tidak masalah jika aku mengucapkan lirik lagu itu ke dalam percakapan sehari-hari?

Sebelumnya, aku bukan orang yang terlalu peduli pada lirik lagu. Selama aku menyukai melodinya, terlebih jika lagu tersebut berada di urutan tangga lagu teratas dan didengarkan oleh banyak orang, aku tidak mau ketinggalan untuk menyanyikannya. Aku juga suka menggunggah video nyanyianku ke media sosial.

Baru ketika aku mengikuti sebuah kamp penulisan lagu setahun yang lalu, aku belajar bahwa setiap penulis lagu memiliki cerita di balik karya-karyanya dan bertujuan untuk membagikan pesan-pesan tertentu. Musik mempengaruhi hati, jiwa, dan pikiran kita lebih dari apa yang kita sadari. Tidak hanya mempengaruhi mood, musik juga bisa mempengaruhi cara pandang kita mengenai sesuatu. Sebagai pendengar, kita memerlukan kepekaan rohani untuk meneliti apakah pesan dan cerita tersebut berpadanan dengan Injil atau tidak.

Dulu, ketika aku pernah mengalami patah hati, ada beberapa lagu sekuler yang kuputar terus menerus karena liriknya persis dengan kisahku. Bukannya menguatkan, lagu tersebut hanya membuatku semakin larut dalam pusaran kesedihan. Belakangan aku baru tahu bahwa Amsal 25:20 sudah pernah mencatat hal ini: “Orang yang menyanyikan nyanyian untuk hati yang sedih adalah seperti orang yang menanggalkan baju di musim dingin, dan seperti cuka pada luka.” Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan lagu yang aku nyanyikan itu. Hanya, di tengah perasaan sedih yang kualami, aku terlalu meresapi liriknya yang puitis dan nadanya yang melow. Bukannya menjadi semangat, aku malah semakin larut dalam kesedihan.

Seringkali, dengan cepat kita segera larut oleh musik yang apik dan kalimat-kalimat puitis hingga kita mengabaikan apa yang jadi pesan utama dari lagu tersebut. Kita mesti jeli menelisik konsep-konsep apa yang terkandung dalam sebuah musik. Di sisi lain, dengan menggunakan prinsip ini, kita juga bisa menemukan lagu-lagu sekuler yang mengandung pesan dan cerita yang tidak bertentangan dengan firman Tuhan. Lagu-lagu semacam ini biasanya memberikan inspirasi dan nuansa positif untuk hati kita.

2. “‘Segala sesuatu diperbolehkan.’ Benar, tetapi bukan segala sesuatu berguna. ‘Segala sesuatu diperbolehkan.’ Benar, tetapi bukan segala sesuatu membangun” (1 Korintus 10:23).

Alkitab memang tidak melarang kita mendengarkan jenis musik tertentu, tapi alangkah baiknya apabila kita mampu bersikap bijak untuk memilih lagu-lagu mana yang akan kita dengarkan. Kekristenan bukanlah sekadar rangkaian peraturan mengenai mana yang boleh dan mana yang tidak. Lebih dari itu, Kekristenan adalah tentang relasi Allah dengan manusia. Setiap pilihan dalam keseharian kita, termasuk dalam memilih lagu, mencerminkan kedekatan kita dengan Allah.

Analoginya seperti berikut. Alkisah, hiduplah dua ekor serigala. Serigala pertama melambangkan kegelapan dan dosa. Serigala kedua melambangkan iman dan kasih. Suatu hari, kedua serigala itu berkelahi. Menurutmu, serigala manakah yang akan menang?

Jawabannya adalah serigala yang paling banyak diberi makan.

Pilihannya tetap kembali kepada kita, bagian mana dari hidup kita yang hendak kita bangun.

Ketika aku mengalami patah hati, kuakui bahwa kesedihanku bertambah bukan akibat kesalahan pihak penulis lagu, penyanyi, atau industri musik. Aku sendirilah yang mestinya lebih mencari kebenaran mengenai kasih Allah lewat pendalaman firman Tuhan.

Setiap hari waktuku untuk mendengarkan musik tidaklah terlalu banyak. Oleh karena itu, aku menyadari bahwa aku lebih membutuhkan musik yang dapat terus mengingatkanku akan Allah di tengah padatnya rutinitas dan aktivitas.

Saat ini, dengan berkembangnya teknologi, kita bisa dengan mudah menikmati lagu-lagu yang kita inginkan tanpa harus bersusah payah membeli CD atau kasetnya di toko. Ada lagu-lagu rohani dan juga lagu sekuler yang bisa kuputar di ponselku untuk sesekali kudengarkan. Lagu rohani favoritku saat ini adalah lagu-lagu dari tim pelayan musik asal Indonesia, Symphony Worship. “Kunyanyi Haleluya” adalah salah satu lagu mereka yang menguatkanku di saat banyak kekhawatiran melanda jiwaku. Sedangkan, lagu sekuler yang sedang kunikmati adalah lagu-lagu Monita Tahalea di album Dandelion. Lagunya yang berjudul “Tak Sendiri” selalu bisa mengangkat semangat karena mengingatkanku akan sahabat-sahabat yang kukasihi dan mengasihiku.

3. “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna” (Roma 12:2).

Orang Kristen memang perlu meng-update dirinya dengan informasi terbaru sehingga bisa menjadi relevan dengan lingkungan sekitar. Untuk itulah kita diutus, yakni menjadi garam dan terang dunia, termasuk di sudut-sudut tergelap dalam industri musik sekalipun. Hanya saja, kita tidak harus selalu setuju pada apa yang kita tahu.

Jangan takut dianggap tidak keren hanya karena menolak satu-dua hal yang bertentangan dengan kehendak Allah. Bukan keserupaan dengan dunia yang harus kita kejar, tetapi keserupaan dengan Kristus. Pedoman kehidupan kita di dunia ini bukanlah dari musik rohani atau musik sekuler, tetapi dari firman Tuhan sendiri. Musik hanyalah sebuah sarana untuk kita bisa mencurahkan emosi ataupun membangkitkan semangat. Kepekaan kita terhadap firman Tuhan tentu dapat membantu kita untuk bijak dalam memilih musik mana yang hendak kita dengarkan.

Sampai saat ini, aku masih menggeluti minatku di bidang musik, termasuk menyanyikan lagu-lagu sekuler di acara tertentu, menggungah video-video cover di media sosial dan sesekali menonton konser untuk memperoleh referensi bermusik. Khusus teman-teman pegiat musik, aku tahu sulitnya mempertahankan idealisme Kristiani kita di lingkungan pergaulan, tapi itulah kesempatan bagi kita untuk membagikan nilai-nilai Kristus yang memang berbeda dari yang dunia tawarkan.

Bukan kesukaan dan penerimaan dari manusia yang kita cari, tetapi kesukaan dan pujian dari Allah ketika Dia melihat kita memaksimalkan karunia yang Dia berikan kepada kita. Dengan mengingat bahwa talenta kita berasal dari Dia, oleh Dia, dan untuk Dia, kita dapat tetap berkarya dengan cara yang bertanggung jawab.

Pada akhirnya, baik itu musik rohani ataupun sekuler, kita perlu peka untuk meneliti apakah lirik dan pesan yang ingin disampaikan oleh pengarang lagu itu selaras dengan firman Tuhan atau tidak. Apakah dengan mendengarkan lagu itu kita diingatkan lagi tentang kebaikan Tuhan dalam hidup kita? Setiap pilihan yang kita ambil dalam keseharian kita, termasuk dalam pilihan lagu, mencerminkan relasi kita dengan Allah.

Soli Deo Gloria!

Baca Juga:

Di Balik Potret Bahagia Media Sosial

Tatkala jariku asyik menjelajah Facebook atau media sosial lainnya, terkadang aku merasa iri terhadap teman-temanku. Aku pikir hidup mereka tampak amat berbahagia. Kemudian, aku membandingkannya dengan diriku sendiri: Mengapa hidupku begitu membosankan?

facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 06 - Juni 2017: Tren, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2017

18 Komentar Kamu

  • Samuel San Parulian

    Saya sangat suka dengan analogi ini.

    ‘Analoginya seperti berikut. Alkisah, hiduplah dua ekor serigala. Serigala pertama melambangkan kegelapan dan dosa. Serigala kedua melambangkan iman dan kasih. Suatu hari, kedua serigala itu berkelahi. Menurutmu, serigala manakah yang akan menang?

    Jawabannya adalah serigala yang paling banyak diberi makan.

    Pilihannya tetap kembali kepada kita, bagian mana dari hidup kita yang hendak kita bangun.’

    Terima kasih..

  • pelajari lirik dan sound efek tambahan juga perlu diperhitungkan.

  • Good writing, Ka Ruth!

    Untukku pribadi yang memang sedang “membatasi” diri dengan lagu-lagu sekuler, ini benar-benar berasa banget sih. Mengingat hari-hari ini lagu-lagu yang marak di pasaran justru lagu dengan lirik yang bermakna negatif, instead of membangun atau menguatkan.

    Dengan membaca ini, i know hal yang sedang kulakukan adalah hal yg memang harus “diawasi” dengan sangat hati-hati. Karena yg aku yakini, bernyanyi sama dengan berkomunikasi, jadi emang harus mencerminkan kebenaran.

  • thanks sharenya,nanti saya bisa share ke anak saya yg masih remaja, Jbu

  • Thanks buat tulisannya, membuka pemikiran dan hati untuk semakin bijak dalam memilih & mendengarkan lagu yang benar, berguna & memuliakan Tuhan.

  • betul2… mana yg lebih bnyk di kasih “makan”

  • Sekuler itu kan suatu pandangan bahwa pemerintahan harus dipisahkan dari agama. Ada pembatasan jelas antara urusan publik dengan privat. Negara diharapkan tidak mengintervensi urusan agama apapun kecuali jika suatu kelompok agama sudah merugikan masyarakat. Lah kalau begitu istilah lagu sekuler maksudnya gimana nih? Jujur saya ngerasa ga pas aja sama istilah lagu sekuler. Nyambungnya gatau dimananya.

  • Johanes Marcelino Matmey

    Setuju sama keselektifan kita dalam hal kita ingin atau akan mendengarkan sebuah lagu. Usahakan suatu lagu yg kita dengar memiliki makna dan pesan bermakna buat kita, bahkan menjadi standar untuk kita hidup. Bahwasannya lagu itu tidak menyesatkan, yg menyesatkan itu diri kita, ketika kita menerima lagu yg sesat maka kita pun akan terjerumus dalam kesesatan itu sendiri. Tapi buat aku pribadi, mari kita bentuk, kita bangun iman kita dengan sering seringlah dan bahkan punyalah waktu untuk memuji Tuhan setiap hari . Ingat, setiap hari loh, jangan sekali kali .. AMEN ..

  • Ruth Lidya Panggabean

    @Renanda Halo Renanda, salam kenal. Terima kasih untuk tanggapannya. Istilah “sekuler” yang saya pakai di sini merujuk pada musik yang digunakan di luar gereja. Tepat seperti konteks sejarah yang kamu kutip dimana terjadi pemisahan antara gereja dan negara, di masa tersebut muncullah istilah musik sekuler dan musik sakral (sacred musik). Sebelumnya, bentuk awal musik di Western yang ditulis dan diwariskan dari generasi ke generasi adalah sepenuhnya musik rohani.

    Istilah sekuler dan rohani di sini tidak secara langsung berkaitan dengan genre tertentu, tapi intensi dimainkan/dinyanyikannya lagu atau musik tersebut. (Dalam atau luar gereja, kepada Tuhan atau kepada manusia).

  • Very nice sharing.. Thnx

  • Q suka dgn pembahasannya.
    Jujur aja q lbh suka & lagu2 rohani.

  • Jonathan Parhusip

    Saya suka analogi serigala tersebut

  • terimakasih sangat memberkati & mengingatkan kembali untuk lebih bijak dan berhikmat.

  • Thanks buat tulisannya. Tuhan memberkati…

  • Analogi tentang serigala sangat bagus, dan mudah di pahami. Terimakasih. Saya akan lebih sering mendengarkan lagu rohani yang membangum dan memiliki lirik yang lebih bermakna, dibandingkan mendengarkan lagu lagu yang saya tidak tahu artinya..

    Misalnya.. Despacito

  • Yustinus Jefri Mangunsong

    amin

  • Menurut saya boleh. Pertanyaan ini sama dengan pertanyaan orang farisi yg berusaha mencobai Tuhan Yesus. Matius 22:17 Katakanlah kepada kami pendapatMu : Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?
    Jawaban Tuhan Yesus sangat bijaksana
    Ambil suatu uang dinar. Gambar dan tulisan siapakah ini? Berikanlah kepada Kaisar apa yg wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Tuhan apa yg wajib kamu berikan kepada Tuhan Yesus. Jawabnya sama, kamu manusia, terdiri dari apakah kamu? jika kamu menjawab dari tubuh dan roh. maka berikanlah apa yg wajib kamu berikan ke tubuh duniawimu dan berikanlah apa yg wajib kamu berikan jadi makanan roh imanmu. Contoh misalnya kamu suka seni, paduan suara, dunia musik, itu adalah wajar karena kamu punya tubuh duniawi, atau ketika kamu sedih putus dari pacar kamu suka dengar lagu sedih, itu wajar karena itulah yg kamu butuhkan saat itu. Kamu memiliki hubungan dengan seorang pria juga merupakan usaha kamu memberikan kewajiban apa yg diminta tubuh duniawi. Kamu butuh seseorang disampingmu, itulah kenyataannya. Sedangkan urusan dengan Tuhan adalah sesuatu yg berbeda. Di Sorga nanti tidak ada namanya putus dengan pacar, tidak ada keinginan duniawi. Kewajiban kita untuk memberi apa yg diminta tubuh rohani kita yaitu dengan berdoa, melakukan persekutuan doa, juga bernyanyi memuji Tuhan Yesus. Juga yg paling penting mengasihi sesama manusia. Itulah kewajiban yg harus kita lakukan kepada Tuhan Yesus. Jika 2 serigala dengan 2 kepribadian jahat dan baik berantam maka serigala yg menang adalah serigala yg mengasihi musuhnya. Ini pandangan Tuhan, kasihilah musuhmu, jika kamu ditampar pipi kiri beri pipi kanan. Sekalipun serigala jahat ini punya puluhan gigi runcing dan sangat beringas, sampai serigala baik ini mati. Tapi di mata Tuhan Yesus pemenangnya adalah serigala yg mempunyai kasih. Semua tergantung kita, kamu mau memandang masalahmu dengan cara duniawi/keinginan daging atau memandang dengan iman Kristen kamu. Saya berharap penjelasan ini bisa menguatkan imanmu, bukan seberapa sering kita dengar musik rohani ataupun beribadah, tapi iman itu berisi ketika dalam hidup di dunia ini kita wujudkan iman dalam pikiran, tindakan dan perkataan kita, jadilah firman Tuhan yg hidup. Tuhan Yesus memberkati

  • Ruth Lidya Panggabean

    @Dan Wah terimakasih tanggapannya, Dan. Poin yang baik sekali untuk melengkapi tulisan ini. Bener, bahwa manusia adalah makhluk holistik yang punya tubuh, jiwa, dan roh. Tuhan Yesus memberkati! 🙂

Bagikan Komentar Kamu!