Bunga yang Tak Layu

Info

Senin, 15 Mei 2017

Bunga yang Tak Layu

Baca: Yesaya 40:1-8

40:1 Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu,

40:2 tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya, bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan TUHAN dua kali lipat karena segala dosanya.

40:3 Ada suara yang berseru-seru: “Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk TUHAN, luruskanlah di padang belantara jalan raya bagi Allah kita!

40:4 Setiap lembah harus ditutup, dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran;

40:5 maka kemuliaan TUHAN akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama; sungguh, TUHAN sendiri telah mengatakannya.”

40:6 Ada suara yang berkata: “Berserulah!” Jawabku: “Apakah yang harus kuserukan?” “Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan semua semaraknya seperti bunga di padang.

40:7 Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, apabila TUHAN menghembusnya dengan nafas-Nya. Sesungguhnyalah bangsa itu seperti rumput.

40:8 Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita tetap untuk selama-lamanya.”

Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita—tetap untuk selama-lamanya. —Yesaya 40:8

Bunga yang Tak Layu

Ketika masih balita, putra saya Xavier suka memberi saya bunga. Saya menghargai setiap rumput segar yang dipetiknya atau bunga mekar yang dibelinya dari toko bunga bersama ayahnya. Saya menikmati setiap pemberiannya sampai bunga-bunga itu menjadi layu dan harus dibuang.

Suatu hari, Xavier memberi saya rangkaian bunga palsu yang indah. Ia menyeringai saat menata bunga bakung yang terbuat dari sutera putih, bunga matahari yang berwarna kuning, dan bunga hydrangea yang berwarna ungu di dalam vas kaca. Ia berkata, “Mami, bunga-bunga ini tak akan pernah layu. Seperti sayangku padamu.”

Bocah mungil itu kini telah menjadi seorang pemuda. Bunga-bunga sutera itu juga sudah usang. Warnanya telah memudar. Meski demikian, bunga yang tak layu itu senantiasa mengingatkan saya akan kasih sayangnya. Dan itu juga mengingatkan saya tentang satu hal lain yang benar-benar abadi, yaitu kasih Allah yang tak terbatas dan tak pernah berakhir, seperti yang dinyatakan dalam firman-Nya yang sempurna dan kekal (Yes. 40:8).

Ketika bangsa Israel terus-menerus menghadapi pencobaan, Yesaya menghibur mereka dengan keyakinan pada firman Allah yang tetap selama-lamanya (40:1). Ia menegaskan bahwa Allah telah mengampuni dosa-dosa orang Israel (ay.2), menjamin pengharapan mereka akan Mesias yang akan datang (ay.3-5). Umat Israel mempercayai sang nabi karena pandangannya tetap kepada Allah dan bukan pada situasi mereka.

Di dunia yang penuh dengan penderitaan dan ketidakpastian ini, opini dari orang lain dan perasaan kita sendiri akan selalu berubah-ubah dan terbatas karena kita adalah makhluk fana (ay.6-7). Meski demikian, kita dapat mempercayai kasih dan sifat Allah yang tak pernah berubah, sebagaimana dinyatakan oleh firman-Nya yang teguh dan benar untuk selama-lamanya. —Xochitl Dixon

Allah meneguhkan kasih-Nya melalui firman-Nya yang teguh dan tak berubah, yang tetap ada sekarang sampai selama-lamanya.

Bacaan Alkitab Setahun: 2 Raja-Raja 22-23; Yohanes 4:31-54

facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

32 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!