Ingatlah Salib-Nya

Info

Jumat, 14 April 2017

Ingatlah Salib-Nya

Baca: Markus 15:19-20, 33-39

15:19 Mereka memukul kepala-Nya dengan buluh, dan meludahi-Nya dan berlutut menyembah-Nya.

15:20 Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah ungu itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya.

15:34 Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eloi, Eloi, lama sabakhtani?”, yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?

15:35 Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata: “Lihat, Ia memanggil Elia.”

15:36 Maka datanglah seorang dengan bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum serta berkata: “Baiklah kita tunggu dan melihat apakah Elia datang untuk menurunkan Dia.”

15:37 Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya.

15:38 Ketika itu tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah.

15:39 Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat mati-Nya demikian, berkatalah ia: “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!”

“Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!” —Markus 15:39

Ingatlah Salib-Nya

Di gereja tempat saya beribadah, sebuah salib besar berdiri di bagian depan dari ruang kebaktian. Salib itu menggambarkan salib tempat Yesus mati—tempat dosa kita bersinggungan dengan kekudusan-Nya. Di salib itu, Allah mengizinkan Anak-Nya yang sempurna untuk mati demi setiap kesalahan dan dosa yang kita lakukan, katakan, atau pikirkan. Di salib itu, Tuhan Yesus menyelesaikan karya yang diperlukan untuk menyelamatkan kita dari kematian yang selayaknya kita terima (Rm. 6:23).

Melihat sebuah salib mengingatkan saya pada apa yang telah Yesus tanggung bagi kita. Sebelum disalibkan, Dia dicambuk dan diludahi. Para prajurit memukul kepala-Nya dengan tongkat dan berlutut sambil berpura-pura menyembah-Nya. Mereka memaksa Yesus untuk memikul sendiri salib-Nya ke tempat penyaliban, tetapi tubuh-Nya terlalu lemah setelah dicambuk habis-habisan. Di Golgota, mereka menancapkan paku yang menembus daging-Nya agar Yesus dapat tetap tergantung di kayu salib saat mereka menegakkan salib itu. Tangan dan kaki-Nya yang penuh luka itu menahan berat tubuh-Nya selama Dia tergantung di sana. Enam jam kemudian, Yesus menghembuskan napas-Nya yang terakhir (Mrk. 15:37). Seorang kepala pasukan yang menyaksikan kematian Yesus pun berseru, “Sungguh, orang ini adalah Anak Allah!” (ay.39).

Ketika kamu melihat simbol salib, pikirkanlah arti salib bagimu. Anak Allah telah menderita dan mati disalib untuk kemudian bangkit kembali demi menyediakan hidup yang kekal. —Jennifer Benson Schuldt

Ya Tuhan Yesus, tidak habis-habisnya aku bersyukur kepada-Mu karena Engkau telah menanggung dosaku saat Engkau mati di kayu salib. Aku menerima pengorbanan-Mu dan aku percaya pada kuasa kebangkitan-Mu.

Salib Kristus menyingkapkan keburukan dosa kita sekaligus keagungan kasih Allah.

Bacaan Alkitab Setahun: 1 Samuel 25-26; Lukas 12:32-59

WarungSaTeKaMu kini hadir di LINE. Add akun kami dengan klik di sini atau cari melalui ID @warungsatekamu

Add Friend

facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

23 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!