Tak Kusangka, Pelayanan Kecil yang Kulakukan Ternyata Begitu Berarti

Info

pelayanan-kecil-yang-berarti

Oleh Claudya Elleossa, Surabaya

Beberapa waktu lalu, aku disibukkan dengan sebuah kegiatan penggalangan dana. Lewat penjualan gelang denim, aku dan kawan-kawan pemuda gerejaku rindu memberikan donasi sebagai sebuah bentuk dukungan bagi sebuah komunitas yang melayani anak-anak punk. Dana terkumpul, dan aku kira cerita telah usai. Ternyata tidak.

Dengan badan kekar, ripped jeans dan tato gambar Yesus di lengannya, pemimpin komunitas itu naik ke panggung. Suasana langsung berubah, suaranya mulai bergetar menahan tangis. Saat itu, dia menyatakan syukur karena ada sebuah komunitas yang mengadakan penggalangan dana untuk mendukung pelayanan mereka. Dengan nada yang makin lirih, dia berkata bahwa ini adalah pertama kalinya hal demikian dilakukan bagi mereka. Tanpa diminta.

Seketika aku menangis. Ternyata perkara menjualkan beberapa gelang seharga Rp. 15.000 telah menjadi berkat yang besar bagi komunitas ini. Aku merasa mendapatkan sebuah kepuasan yang sejati.

Setiap orang mungkin memiliki standar kepuasan yang beragam. Ada yang menomorsatukan keseimbangan relasi, ada yang mengutamakan jenjang karir, ada pula yang menjadikan deretan Rupiah sebagai indikator kebahagiaan, dan tak sedikit yang menjadikan pemenuhan hobi sebagai definisi utama kepuasan. Namun, sesaat setelah lelaki kekar itu mengucapkan terima kasih dengan penuh ketulusan pada kami, aku memahami sebuah kebenaran yang dapat membawa kita kepada sebuah kepuasan yang sejati: Hidup ini bukan hanya untuk diri kita sendiri.

Apapun yang kita kejar, entah itu uang, hobi, atau karir, akan membuat kita jenuh pada satu titik jika semua itu kita kejar hanya untuk diri kita sendiri. Menjadikan diri kita sebagai pusat segala sesuatu juga tidak sesuai dengan teladan yang diberikan Yesus. Hidup Yesus adalah hidup yang melayani orang lain. Itulah alasan Dia—Pencipta alam semesta dan segala isinya—membasuh kaki murid-murid-Nya (Yohanes 13:1-15). Dia ingin memberikan teladan bagi kita agar kita bisa saling melayani (ayat 14-15).

Kepuasan yang sejati didapat ketika kita melayani Tuhan, ketika kita yang jauh dari sempurna ini dapat dipakai Tuhan untuk menjadi berkat bagi sesama. Kebahagiaan yang kita dapatkan dalam berbagi berkat sungguh setimpal dengan pilihan kita untuk mengorbankan kenyamanan diri kita semata.

Tidak semua orang mau mengorbankan dirinya untuk melayani Tuhan dan sesama. Bagi sebagian orang, menjadi orang baik saja sudah cukup. Bagi sebagian yang lain, yang terpenting adalah hidup yang mapan dan cukuplah dengan tidak menjadi beban bagi orang lain. Namun, ada pula orang-orang yang melakukan hal-hal yang lebih. Ada yang mengurangi waktu bersantai demi melayani orang-orang di sekitarnya. Ada pula yang memberi hidupnya untuk menolong banyak orang. Ada yang memilih untuk mengurangi gaya hidup mereka demi dapat berbagi. Mereka melayani sesama mereka dengan penuh kerendahan hati.

Beberapa orang mungkin berpikir, apa untungnya mereka melakukan hal-hal yang lebih tersebut? Bukankah kenyamanan mereka berkurang? Waktu santai menipis, dompet juga kembang kempis. Lagipula, tidak semua orang mengapresiasi apa yang mereka lakukan. Jadi, apa untungnya bagi mereka? Izinkan aku menjawab pertanyaan ini.

Bagiku, adalah sebuah kebahagiaan ketika aku mengetahui bahwa Tuhan telah memakai diriku yang super cemar untuk dapat menjadi berkat bagi orang lain. Selain itu, ketika aku melayani Tuhan, fokusku terpaut pada Tuhan, misi-Nya bagi dunia ini, dan jiwa-jiwa yang kulayani. Aku dapat melihat betapa kerennya Tuhan berkarya dalam dunia ini, dan itu membukakan begitu banyak hal lain yang dapat aku syukuri selain tentang hidupku sendiri. Itulah bedanya orang yang melayani dan yang tidak melayani. Ketika orang yang tidak melayani hanya mensyukuri apa yang dia miliki, orang yang melayani dapat mensyukuri apa yang Tuhan kerjakan bagi dunia ini.

Tidak ada kepuasan sejati yang lahir dari sebuah keegoisan mengutamakan kenyamanan. Jika Dia yang adalah Pencipta alam semesta mau melawan kenyamanan surga demi menyelamatkan kita, masakan kita terlampau jijik merangkul mereka yang dianggap hina?

Aku ingin menutup tulisanku ini dengan sebuah kutipan dari Ezra Taft Benson berikut ini: Jika kamu benar-benar ingin mendapatkan sukacita dan kebahagiaan, layanilah orang lain dengan segenap hatimu. Angkatlah beban mereka, dan bebanmu akan menjadi lebih ringan.

Baca Juga:

5 Alasan Lebih Berbahagia Memberi daripada Menerima

Ayat ini mungkin terdengar tidak asing bagi kita, “Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kisah Para Rasul 20:35). Namun, pernahkah kita memikirkannya? Bukankah kalimat itu terdengar kurang masuk akal?

facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 12 - Desember 2016: Mengalami Bahagia Memberi, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2016

4 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!