Tuhan Merombak Kriteria Pacar Idamanku

tuhan-merombak-kriteria-pacar-idamanku

Oleh Yong Xin, Malaysia
Artikel asli dalam bahasa Simplified Chinese: 上帝打碎了我的择偶标准

Tidak banyak hal menarik yang dimiliki oleh pria ini. Dia bukanlah seorang yang tinggi, dia tidak memperhatikan penampilannya, dan dia juga seperti tipe pria yang membosankan. Dia bukanlah tipe pria yang dikagumi banyak wanita.

Namun akhirnya, dia menjadi pacarku.

Setahun sebelum aku bertemu dengannya, aku membuat sebuah komitmen dengan Tuhan. Tahun itu kondisi rohaniku sedang mengalami penurunan. Aku juga tidak mempunyai banyak teman-teman seiman yang baik di sekitarku. Jadi aku berdoa kepada Tuhan dan memutuskan bahwa aku akan menggunakan tahun itu untuk benar-benar mengenal Dia dan bertumbuh semakin dekat dengan Dia. Aku ingin kasih Tuhan memenuhi diriku, Roh-Nya tinggal di dalamku, dan aku ingin berhenti hidup dengan cara dunia.

Saat itu, aku dikelilingi beberapa pria yang luar biasa. Namun Tuhan mengatakan kepadaku untuk menjaga hatiku dan jangan menganggap enteng untuk masuk ke dalam sebuah hubungan. Aku memutuskan untuk menggunakan waktu itu untuk berpikir secara serius tentang kriteria-kriteria dari pasanganku di masa depan.

Di antara banyak hal lainnya, aku ingin seorang pasangan yang tampan, lebih tinggi daripadaku, dewasa, mengasihi, dan lembut. Dia juga harus memiliki keluarga yang baik, lebih cerdas daripadaku, dan lain sebagainya. Intinya, aku ingin seorang pasangan yang hebat dalam segala aspek. Jadi aku berdoa kepada Tuhan untuk mengaturkan yang terbaik bagiku, dan memberkatiku dengan seorang pasangan yang “sempurna”.

Lalu aku bertemu dengan pria ini ketika kami sedang sama-sama melayani di sebuah persekutuan kampus di sebuah gereja. Saat itu, aku tidak memiliki kesan yang positif terhadap dirinya. Aku merasa dia adalah seorang yang tidak peduli, tidak berpendirian, tidak dapat melakukan banyak hal dalam satu waktu, dan tidak memperhatikan perasaan orang lain.

Setelah melayani bersama selama beberapa waktu, kami mulai bercakap-cakap satu sama lain. Awalnya, topik yang kami bicarakan adalah seputar pelayanan gereja; kami mendiskusikan kesulitan-kesulitan yang kami hadapi dalam melayani Tuhan dan saling menguatkan satu sama lain. Kemudian, kami mulai lebih banyak menceritakan tentang kehidupan kami. Seiring waktu, kami bercakap-cakap setiap malam sebelum tidur.

Pelan-pelan, aku menyadari bahwa dia tidak seburuk yang aku bayangkan sebelumnya. Berlawanan dari apa yang aku pikirkan, dia bukanlah seorang yang tidak peduli. Sebaliknya, dia adalah seorang yang bertanggung jawab, penuh perhatian, dan teliti.

Contohnya, ketika kami membuat sebuah acara, dia akan memastikan semua hal dipersiapkan dengan baik—termasuk pembagian tugas untuk setiap orang dan pengaturan transportasi. Aku juga dapat melihat kerendahan hatinya. Dia bukanlah seseorang yang suka tampil di hadapan banyak orang; sebaliknya, dia selalu melayani di balik layar. Ketika orang-orang bercakap-cakap dan bersenda gurau di meja makan, dia adalah seseorang yang menuangkan air ke dalam gelas-gelas mereka. Namun lebih dari segalanya, dia adalah seseorang yang mengasihi Tuhan. Selama dia diberikan kesempatan untuk melayani Tuhan, dia akan—tanpa banyak bertanya-tanya—melakukan yang terbaik yang dia bisa lakukan untuk Tuhan.

Pelan-pelan, aku menjadi tertarik dengannya. Kami lalu memutuskan untuk meminta petunjuk dari Tuhan ketika kami bersama menggumulkan untuk memiliki hubungan yang lebih dalam. Kami menjadi rekan rohani—kami membaca firman Tuhan dan saling berbagi pelajaran yang kami dapatkan. Semakin banyak kami belajar tentang Tuhan, semakin banyak kami mengenal satu sama lain. Kami berkomitmen untuk membaca seluruh Alkitab bersama-sama, dan saling mengingatkan satu sama lain untuk semakin bertumbuh secara rohani.

Dalam bulan-bulan ini, Tuhan memimpin hubungan kami; kami mengalami banyak berkat Tuhan, dan semakin yakin bahwa hubungan kami berkenan bagi Tuhan. Kami juga yakin bahwa kami dapat saling mengasihi karena Tuhan lebih dahulu mengasihi kami (1 Yohanes 4:19).

Tuhan telah merombak “kriteria-kriteria pacar idaman” yang aku buat, untuk membuatku sadar bahwa Dia telah merencanakan yang terbaik bagi diriku, dan agar aku tidak mengandalkan kepandaianku semata dalam mengambil keputusan. Dengan kata lain, aku seharusnya tidak mencari pasangan yang menyenangkan bagiku. Yang kucari seharusnya adalah seseorang yang menyenangkan Tuhan.

Memang pacarku mungkin bukanlah orang yang terhebat di mata banyak orang. Tapi aku tahu bahwa dia adalah seseorang yang mengasihi Tuhan, dan yang menebarkan keharuman Kristus. Dan yang terpenting, dia mengutamakan Tuhan lebih daripada segalanya, termasuk diriku. Dia menyadari kedaulatan Tuhan atas hidupnya, dan percaya akan kuasa-Nya.

Aku tidak percaya akan cinta pada pandangan pertama, karena bagiku cinta adalah sebuah keputusan yang dibuat secara sadar dan membutuhkan komitmen dari kedua belah pihak. Ketika aku memutuskan untuk menjalin hubungan bersama dengan pacarku, aku mengambil keputusan untuk mengasihi pria ini setiap hari, apa pun keadaannya. Dia bukanlah seseorang yang aku harapkan pada awalnya, namun aku melihat bagaimana tangan Tuhan telah memimpin kami berdua hingga bagaimana kami ada saat ini.

Amsal 3:5-6 berkata, “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Marilah berhenti bersandar pada keinginan dan pengertian kita sendiri, dan percayalah bahwa Tuhan tahu apa yang terbaik bagi kita.

Baca Juga:

Lebih dari Optimisme, Inilah yang Harus Kita Lakukan untuk Menghadapi Realita Kehidupan

Seiring waktu, aku sadar bahwa akar dari ketidaksenangan kita—tidak peduli apakah kita seorang yang pesimis atau optimis—biasanya adalah hal yang sama: kita menginginkan sesuatu, tapi kita tidak mendapatkannya. Jadi bagaimana kita harus menyikapi akar masalah ini?

Bagikan Konten Ini
29 replies
  1. alfansius
    alfansius says:

    Amsal 3:5-6 berkata, “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” 

  2. Sharen Celisya
    Sharen Celisya says:

    artikelnya sangat menguatkan.. berserah kepada Tuhan.. percaya Tuhan telah menyediakan pasangan yang terbaik.. jangan bersandar pada pengertian kita sendiri.. Just believe God knows everythings the best for us.
    God has a plan.. Trust it, live it and enjoy it. GBU and me.

  3. Berly
    Berly says:

    Saya menangis waktu baca artikel ini.
    Sama persis dengan apa yang harus saya hadapi sekarang.
    Tetapi saya masih harus banyak belajar untuk merendahkan hati di hadapan Tuhan & percaya yg Tuhan pilih itu lebih baik daripada pilihan sendiri. Terima kasih untuk sharingnya!

  4. Fenny Yuanita
    Fenny Yuanita says:

    saya berharap dan berdoa agar Tuhan memberkati ku dengan hal yang sama karena saya yakin dan percaya bahwa mereka yang mengasihi Tuhan adalah orang yang baik dan bisa membimbing kita menjadi orang yang lebih baik tiap-tiap hari

  5. Nada
    Nada says:

    terima kasih buat artikelnya:))))) sangat menyentuh. dan semoga saua juga diberi Tuhan pasangan sesuai kehendakNya karna ku percaya itu yg terbaik dariNya.

  6. Hana
    Hana says:

    Tuhan memberikan pasangan hidup untuk kita yaitu yang kita butuhkan, agar dapat saling melengkapi, bukan yang kita inginkan, karena yang kita butuhkan pasti tepat untuk kita, Amin.

  7. Susie
    Susie says:

    Bukan kehendak kita dalam memilih pasangan tapi kehendak Tuhan
    Dan yg paling penting dia yg takut akan Tuhan. Haleluyah

  8. Yulia Jovika Walone
    Yulia Jovika Walone says:

    saya merasa Tuhan benar benar menegur saya. apapun yang Tuhan sediakan untuk kita itu baik adanya. God bless

Bagikan Komentar Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *