Kisahku Berjumpa dengan Beberapa Pelaku Prostitusi

Info

kisahku-berjumpa-dengan-beberapa-pelaku-prostitusi

Oleh M. Tiong, Malaysia
Artikel dalam bahasa Inggris: What If Your Neighbor Is A Prostitute?

Beberapa wanita berpakaian minim terlihat sedang menggoda pejalan kaki yang lewat di sebuah jalan yang remang-remang. Beberapa dari mereka memulai percakapan dan melakukan tawar-menawar dengan calon pelanggan potensial, sedangkan yang lain menunggu pelanggan datang menawar mereka.

Itu bukanlah sebuah pemandangan yang asing bagi kebanyakan kita: kita mungkin pernah melihatnya di film-film atau menyaksikannya secara langsung di kehidupan nyata. Di Amsterdam, di mana prostitusi adalah sebuah hal yang legal, aku melihat para wanita dipajang di jendela kaca—seperti baju-baju dipamerkan di toko—untuk dipilih oleh para pelanggan.

Suka atau tidak, industri seks telah merajalela karena banyaknya orang yang mencarinya. Jadi, bagaimana kita sebagai orang percaya meresponinya? Atau haruskah kita menutup mata akan fenomena itu?

Beberapa tahun yang lalu ketika aku sedang dalam perjalanan perayaan kelulusan, aku bertemu dengan 3 orang wanita, kemungkinan besar usia 20-an, dalam sebuah bus di Pahang, Malaysia. Saat itu jam 6 pagi. Mereka berpakaian minim dan sedang menangis. Seorang di antara mereka memiliki wajah yang terluka parah. Para penumpang lain dalam bus itu mengabaikan mereka atau menatap mereka dengan aneh.

Salah seorang dari wanita tersebut menghampiriku dan bertanya dengan bahasa Inggris yang belepotan apakah mereka dapat meminjam ponselku untuk menelepon karena mereka tidak mempunyai uang. Temanku langsung menyikutku dan mengingatkanku untuk tidak meminjamkan ponselku kepada mereka, takut mereka membawa kabur ponsel itu. Tapi aku merasa iba kepada mereka, jadi aku memutuskan untuk meminjamkannya.

Tidak hanya mereka mengembalikan ponsel itu setelah memakainya, mereka juga tersenyum kepadaku dan berterima kasih akan keramahanku. Sebelum aku turun dari bus itu, aku memberikan mereka sejumlah uang. Beberapa saat kemudian, aku menerima telepon dari sebuah nomor yang tidak dikenal. Suara penelepon itu adalah suara seorang laki-laki. Dia bertanya di mana aku berada, sehingga dia dapat “membawa mereka kembali”. Setelah percakapan itu, aku cukup yakin para wanita yang aku temui itu adalah para pekerja seks.

Sampai hari ini, aku masih mengingat wajah penuh syukur yang mereka tunjukkan. Aku percaya Tuhan sedang mengajarkanku sebuah pelajaran tentang mengasihi semua orang—tidak peduli siapa diri mereka dan apa status mereka di masyarakat (Lukas 10:27; Matius 25:40).

Tuhan sendiri telah memberikan contoh akan kasih yang luar biasa ini dengan menjadikan seorang pelacur bernama Rahab menjadi bagian dari rencana-Nya bagi bangsa Israel. Dalam Yosua 2, kita membaca bagaimana dia menolong para pengintai Israel melarikan diri. Sebagai balasannya, Tuhan menyelamatkan seluruh keluarganya. Dia mengasihi Rahab. Rahab bahkan terdaftar di daftar silsilah Yesus! (Matius 1).

Kisah Rahab dan transformasi hidupnya menunjukkan kita bagaimana Tuhan tidak melihat latar belakang dan status kita. Dia hanya tertarik akan iman dan ketaatan kita. Jadi, jika Tuhan memperlakukan orang-orang ini dengan anugerah dan rahmat yang sama seperti Dia memperlakukan kita, siapakah kita sehingga kita mengabaikan atau mendiskriminasi mereka?

Berikut adalah 4 cara praktis yang aku percaya dapat kita lakukan menjadi respons kita:

1. Berdoa bagi mereka

Marilah berdoa agar kiranya para pelaku prostitusi ini dapat percaya kepada Tuhan dan menemukan kasih dan kedamaian daripada-Nya di dalam situasi yang mereka alami—khususnya jika keberadaan mereka di tempat itu bukanlah pilihan mereka. Kiranya Tuhan memberikan kepada mereka jalan untuk dapat keluar dari industri ini dan memperoleh pemulihan.

Berdoalah juga agar Tuhan membuka mata dari mereka yang terlibat dalam pengembangan industri ini, untuk menyadari jahatnya industri ini dan banyaknya jiwa yang telah dihancurkan.

2. Berdoa bagi diri kita

Kita perlu berdoa bagi diri kita. Kiranya Tuhan memberikan kita hati yang penuh belas kasih untuk mengasihi dan mempedulikan mereka di setiap kesempatan yang ada. Meskipun kita tidak setuju dengan apa yang mereka lakukan, kita harus mengasihi setiap dari mereka, sama seperti Tuhan mengasihi kita dan memanggil kita untuk mengasihi sesama kita.

3. Pahami situasi mereka

Seringkali, kita bereaksi tanpa mengerti sepenuhnya situasi yang mereka alami. Kita perlu membaca tentang apa yang menjadi pergumulan mereka dan mencari tahu lebih banyak tentang isu ini. Ini akan menolong kita untuk lebih mengerti mereka dan tahu bagaimana dapat menolong mereka.

4. Menjadi sukarelawan dan berdonasi

Ada banyak kesempatan untuk menjadi sukarelawan. Itu bisa jadi berupa berteman dengan seorang mantan pekerja seks, menyediakan pekerjaan bagi mereka untuk mempelajari keahlian baru, atau memperhatikan anak-anak mereka. Kita juga dapat memberikan donasi untuk mendukung organisasi-organisasi yang menjangkau mereka.

* * *

Aku berusaha untuk dengan sadar membaca tentang penderitaan yang dialami mereka dan berdoa bagi mereka. Lebih dari segalanya, respons dasar kita haruslah lahir dari kasih. Apakah itu untuk seorang yang belum kita kenal atau seorang yang kita kenal secara pribadi, mereka adalah sesama kita.

Marilah kita penuhi panggilan yang ada dalam Lukas 10:27 dan Matius 25:40 untuk mengasihi sesama kita seperti kita mengasihi diri kita sendiri.

Baca Juga:

Pekerjaan yang Paling Ideal: Ibu Rumah Tangga

Ketika pemimpin kelompok diskusi pemuda Christine memintanya menuliskan sebuah pekerjaan yang menurutnya ideal, dia menuliskan satu pekerjaan ini: “Ibu rumah tangga”. Kemudian, Tuhan membukakan kepada Christine mengenai sebuah kisah dari seorang ibu rumah tangga yang menginspirasinya.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 09 - September 2016: Membuka Mata Hati, Artikel, Pena Kamu, Tema, Tema 2016

2 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!