Bahasa Kasih

Info

Minggu, 10 Juli 2016

Bahasa Kasih

Baca: Yakobus 3:1-12

3:1 Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.

3:2 Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.

3:3 Kita mengenakan kekang pada mulut kuda, sehingga ia menuruti kehendak kita, dengan jalan demikian kita dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.

3:4 Dan lihat saja kapal-kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak jurumudi.

3:5 Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar.

3:6 Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka.

3:7 Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia,

3:8 tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan.

3:9 Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah,

3:10 dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.

3:11 Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama?

3:12 Saudara-saudaraku, adakah pohon ara dapat menghasilkan buah zaitun dan adakah pokok anggur dapat menghasilkan buah ara? Demikian juga mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar.

Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah. —Yakobus 3:9

Bahasa Kasih

Ketika nenek saya tiba di Meksiko sebagai misionaris, ia mengalami kesulitan dalam mempelajari bahasa Spanyol. Suatu hari saat pergi ke pasar, ia menunjukkan daftar belanjaannya kepada seorang wanita yang membantunya. Ia berkata, “Daftar ini tertulis dalam dua lidah (lenguas).” Sebenarnya ia bermaksud mengatakan bahwa daftar itu ditulisnya dalam dua bahasa (idiomas). Penjual daging yang mendengar percakapan mereka mengira bahwa nenek ingin membeli dua buah lidah sapi. Lucunya, nenek tidak menyadari kesalahannya sampai ia tiba di rumah. Alhasil, ia membawa pulang lidah sapi yang tidak tahu harus ia apakan!

Dalam usaha mempelajari bahasa baru, pastilah kita pernah menemui kesalahan dan kegagalan. Demikian juga ketika kita mempelajari bahasa kasih dari Allah. Adakalanya ucapan kita masih bertentangan, karena di satu saat kita bisa memuji Tuhan tetapi di lain waktu kita mengucapkan hal-hal buruk tentang orang lain. Natur lama kita yang berdosa sangat bertentangan dengan hidup baru kita dalam Kristus. Perkataan yang keluar dari mulut kita menunjukkan betapa kita sangat memerlukan pertolongan Allah.

“Lidah” lama kita harus disingkirkan. Satu-satunya cara mempelajari bahasa kasih adalah dengan menempatkan Yesus sebagai Tuhan atas perkataan kita. Ketika Roh Kudus bekerja dalam diri kita, Dia memberikan pengendalian diri sehingga kita sanggup mengucapkan kata-kata yang menyenangkan Allah Bapa. Marilah kita serahkan setiap perkataan kita kepada-Nya! “Awasilah mulutku, ya Tuhan, berjagalah pada pintu bibirku!” (Mzm. 141:3). —Keila Ochoa

Tuhan Yesus, kendalikanlah lidahku hari ini. Ampunilah perkataanku yang ceroboh, yang kuucapkan tanpa pikir panjang dan disulut oleh kemarahan. Kiranya kata-kataku memuliakan Engkau dan memberkati sesamaku.

Kiranya kata-kata yang kita ucapkan mengarahkan orang lain kepada Yesus.

Bacaan Alkitab Setahun: Ayub 41-42; Kisah Para Rasul 16:22-40

Artikel Terkait:

Catatan Seorang Korban Bully

Pernahkah kamu di-bully atau mem-bully? Sobat kita Lau Jue Hua pernah mengalami keduanya. Yuk baca apa yang dipelajarinya dari pengalaman itu di dalam artikel ini.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

10 Komentar Kamu

  • Mungkin bukan dengan perkataan tetapi melalui tindakan, seseorang yang kita kenal mungkin sakit hati atau kecewa dengan kita. Kita menyadarinya dan menyesalinya, meminta maaf adalah solusinya dan sudah dilakukan, tetapi kenapa rasa bersalah ini kian tidak menghilang ? dan membuat saya semakin gelisah.
    Mohon opini dan sharingnya sdra/sdri.
    Tuhan memberkati.

  • Terpujilah ALLAH BAPA Yang Bertakhta di dalam Kerajaan Sorga , anugerah kasih setia-Mu sungguh selalu indah nyata banyak tangguh teguh tentram baik penuh bahagia manis menang terus segar nyaman sejuk sekali lebih kuat sangat hebat besar sampai selama – lamanya buat kami semua , ampunilah segala dosa – dosa kesalahan – kesalahan kecerobohan – kecerobohan yang sengaja maupun tidak sengaja kami semua lakukan dari perkataan kami semua dan perbuatan kami semua , Engkau selalu memberikan sukacita damai sejahtera buat kami semua , kasih-Mu sungguh selalu terang buat kami semua , sertai , lindungilah , berkatilah kami semua untuk mampu menyebarkan kasih-Mu yang sungguh indah nyata banyak tangguh besar terhadap sesama kami senantiasa. Gbu us all. Amen

  • berkata2 negatif ttg org lain prcuma saja… hnya mngumbar nafsu sesaat… tak mnghasilkan apa pun.. malah mmbuat semakin parah… undang Roh Kudus pimpin hati, pikiran, perasaan, n tindakan… mampukan mngampuni sesama… mendoakan n mmberkati…

  • @olipesitanggang
    Hal mendasar di awal, kita sebaiknya memiliki pemahaman yg baik dan benar dahulu ttg bagaimana cara meminta maaf yg tulus. Permintaan maaf ini hendaknya di dukung dengan perbuatan baru yg konsisten dan komitmen untuk ke arah yang memperbaiki baik tuk orang lain dan diri kita sendiri. Paling utama tentunya meminta pertolongan Tuhan untuk memberikan kita kekuatan dalam menjalaninya. Semoga membantu, Tuhan memberkati.

  • amin, renungan yg menyadarkan kita untuk hati hati menggunakan lidah dan mulut. JBU all

  • I was that kinda person who didnt think first before speak. Now i regret it all and realize that we are a lover when we aware that every single words we say have the potential to cause our beloved joy or sorrow.

  • Dwi Kirtapati Rozalia

    Lidah adalah alat kendali yg luar biasa O:)
    sama halnya seperti Hukum “Tabur tuai” kalo kata anak jaman sih ” karma ” hehehe
    kembali ketopik 😀
    “apa yang Kita ucapkan,perbuat baik/buruknya itu jugak yg bakalan kita terima”
    Kita menanam Biji mangga pasti kita menuai buah mangga O:)
    Tetap andalkan Tuhan disetiap apa yg kita perkatakan O:)
    Tuhan Yesus Memberkati O:)

  • Rynaldi Maydrian Lauren

    @olipesitanggang : kamu bisa intropeksi, apakah memang semuanya sudah kamu bereskan? jika ya, mungkin itu intimidasi, jangan didengarkan lagi. Ketika kamu sudah meminta maaf dengan sungguh-sungguh kepada orang itu dan kepada Tuhan, maka semuanya sudah selesai 🙂 Jangan ulangi lagi dan tunjukkan bahasa kasih Allah itu lewat perkataan dan perbuatan 🙂
    God bless 🙂

  • @olipe , kl menurut aku sih apa yg kamu lakukan sudah benar , mohon maaf & minta ampun kepada Tuhan , kita harus beriman Tuhan sudah mengampuni karena kita sudah mengakui dosa /bertobat , dan membebaskan diri dr rasa tertuduh coba sambil menyanyikan lagu rohani yg bikin semangat , taruh pengharapan yg drpd Tuhan….kl sudah kita serahkan sama Tuhan jangan di ingat2 lg , lepaskan aja olipe…. hehehe siapa tau berguna ya…. God bless u

  • Juliani Rismawati Sinaga

    Baru 3 hari yang lalu jatuh dalam dosa ini. Benar2 ga bisa mengendalikan diri. Benar2 ga bisa mengendalikan lidah. Puji Tuhan! Tuhan sayang anakNya. Ga dibiarkan jatuh berlama2. Bersyukur buat saat teduh hari ini.

Bagikan Komentar Kamu!