Kotak Tisu

Info

Minggu, 20 September 2015

Kotak Tisu

Baca: Mazmur 31:10-19

31:10 Kasihanilah aku, ya TUHAN, sebab aku merasa sesak; karena sakit hati mengidaplah mataku, meranalah jiwa dan tubuhku.

31:11 Sebab hidupku habis dalam duka dan tahun-tahun umurku dalam keluh kesah; kekuatanku merosot karena sengsaraku, dan tulang-tulangku menjadi lemah.

31:12 Di hadapan semua lawanku aku tercela, menakutkan bagi tetangga-tetanggaku, dan menjadi kekejutan bagi kenalan-kenalanku; mereka yang melihat aku di jalan lari dari padaku.

31:13 Aku telah hilang dari ingatan seperti orang mati, telah menjadi seperti barang yang pecah.

31:14 Sebab aku mendengar banyak orang berbisik-bisik, –ada kegentaran dari segala pihak! –mereka bersama-sama bermufakat mencelakakan aku, mereka bermaksud mencabut nyawaku.

31:15 Tetapi aku, kepada-Mu aku percaya, ya TUHAN, aku berkata: “Engkaulah Allahku!”

31:16 Masa hidupku ada dalam tangan-Mu, lepaskanlah aku dari tangan musuh-musuhku dan orang-orang yang mengejar aku!

31:17 Buatlah wajah-Mu bercahaya atas hamba-Mu, selamatkanlah aku oleh kasih setia-Mu!

31:18 TUHAN, janganlah membiarkan aku mendapat malu, sebab aku berseru kepada-Mu; biarlah orang-orang fasik mendapat malu dan turun ke dunia orang mati dan bungkam.

31:19 Biarlah bibir dusta menjadi kelu, yang mencaci maki orang benar dengan kecongkakan dan penghinaan!

Kepada-Mu aku percaya, ya TUHAN, aku berkata: “Engkaulah Allahku!” Masa hidupku ada dalam tangan-Mu. —Mazmur 31:15-16

Kotak Tisu

Saat duduk di ruang tunggu kamar operasi, saya merenung sejenak. Saya berada di sini belum lama ini, ketika kami dikagetkan kabar bahwa saudara laki-laki saya satu-satunya, yang masih muda, mengalami “mati otak”.

Maka hari ini, sembari menunggu kabar dari istri saya yang sedang menjalani sebuah operasi besar, saya menunggu untuk mendengarkan suara Allah yang lembut.

Tiba-tiba, saya dipanggil untuk menemui dokter bedah. Saya melangkah ke sebuah ruang tunggu yang terpisah. Di atas meja terlihat jelas ada dua kotak tisu. Tisu itu disediakan bagi mereka yang mendengar kata-kata yang membawa kepedihan, seperti yang saya dengar ketika saudara saya meninggal—“mati otak” dan “kami sudah berusaha semampu kami”.

Di tengah kedukaan atau ketidakpastian seperti itu, wajarlah kita berpaling pada mazmur-mazmur yang mengungkapkan perasaan yang jujur. Mazmur 31 berisi curahan hati Daud yang telah menanggung beban begitu berat sehingga ia menulis, “Hidupku habis dalam duka” (ay.11). Duka itu bertambah ketika ia ditinggalkan oleh kenalan dan tetangganya (ay.12).

Namun Daud mendasarkan imannya pada satu-satunya Allah yang sejati. “Kepada-Mu aku percaya, ya TUHAN, aku berkata: ‘Engkaulah Allahku!’ Masa hidupku ada dalam tangan-Mu” (ay.15-16). Ratapannya diakhiri dengan seruan pengharapan. “Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu, hai semua orang yang berharap kepada TUHAN!” (ay.25).

Saat itu di ruang tunggu, dokter bedah memberi saya kabar gembira: Istri saya akan bisa sembuh total. Akan tetapi, seandainya pun ia tidak sembuh, masa hidup kami tetap berada di tangan Allah. —Tim Gustafson

Tuhan, kami serahkan kepedihan dan sukacita kami kepada-Mu. Terima kasih atas kehadiran-Mu yang selalu menyertai kami. Engkau sajalah yang setia!

Ketika kita menyerahkan masalah kita ke tangan Allah, Dia menaruh damai sejahtera-Nya di hati kita.

Bacaan Alkitab Setahun: Pengkhotbah 4-6; 2 Korintus 12

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

15 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!