Catatan Seorang Korban Bully

Info

Oleh Lau Jue Hua, Singapore

Catatan Seorang Korban Bully

Jika kamu sedang ditindas atau dibully orang, aku sedikit banyak bisa memahami penderitaanmu. Aku juga ingin meminta maaf atas nama mereka yang telah menindasmu.

Aku sendiri pernah menjadi pelaku sekaligus korban bully. Tumbuh sebagai seorang anak yang aneh—gendut, berkacamata, dan tidak pernah merasa diterima di mana-mana—aku menjadi sasaran empuk bagi para bully. Tanpa kusadari, pengalaman dibully membuatku kemudian melampiaskan emosi negatif itu kepada orang lain.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengumbar pengalaman pahitku tetapi untuk membagikan pengharapan bagi kamu yang ada di tengah situasi serupa. Karena pernah menjadi pelaku sekaligus korban bully, aku bisa memahami masalah ini dari dua sisi dan dapat membagikan pengalamanku dalam mengatasinya. Sebagai tambahan, aku juga akan membagikan pandanganku sebagai seorang pengikut Kristus, dan menyarankan beberapa cara lain (yang dulu tidak terpikir olehku) untuk keluar dari masalah ini.

Salah satu caraku meresponi tindakan bully yang kualami adalah dengan menyerang orang lain secara fisik. Malu sekali rasanya mengingat tindakanku itu. Begitu melihat orang yang pernah kusakiti itu sebelas tahun kemudian, tak ayal aku berbalik dan segera lari menghindarinya. Meski lama tidak bertemu, aku tak bisa melupakan sosoknya, karena ia memiliki tangan yang cacat dan kaki yang timpang. Memalukan memang. Aku telah memukul seorang penderita cerebral palsy dan meninggalkannya seorang diri, menangis di tengah derai hujan.

Jika kamu adalah korban bullying dan tindakanku membuatmu muak—dengan tidak berperasaan aku telah menindas yang lemah—kumohon kamu tidak langsung menutup halaman web ini. Teruslah membaca kisahku ini sedikit lagi. Tanpa ingin membenarkan diri, aku ingin menjelaskan situasi di balik tindakanku. Well, aku pun telah dibully juga. Aku dipukul dan dikucilkan. Aku berusaha mengatasi rasa sakit hatiku dengan melampiaskannya kepada orang lain. Sebuah mekanisme pertahanan diri. Kecenderungan yang kadang-kadang masih kulakukan hingga sekarang.

Dengan menertawakan dan menghina kelemahan orang lain, aku merasa akhirnya bisa diterima sebagai bagian dari sebuah kelompok. Dengan mempermainkan dan merendahkan seorang anak yang cacat, aku bisa—paling tidak untuk sementara waktu—mengabaikan masalah-masalahku (kelebihan berat badan, penampilan yang buruk, dsb), dan merasa bisa mengendalikan orang lain.

Kupikir setelah lulus aku bisa lepas dari masalah bully ini, tetapi ternyata saat menginjak usia 15-16 tahun, aku harus sekelas lagi dengan orang-orang yang dulu menyakitiku.

Cara bully mereka sedikit berbeda sekarang, tidak lagi banyak menyerang secara fisik, tetapi secara mental. Sangat menyakitkan ketika mereka mengucilkan dan mengabaikan keberadaanku. Aku berupaya diterima dalam kelompok mereka dengan cara menunjukkan bahwa aku juga bisa mempermainkan orang lain. Upayaku membuat mereka lebih bersahabat, tetapi tidak menyelesaikan masalah.

Karena tidak punya banyak teman, aku akhirnya menyibukkan diri dengan bermain game. Ketika asyik bermain, untuk sesaat aku bisa melupakan kebencianku terhadap suasana di sekolah. Sungguh keputusan yang bodoh. Jika waktu bisa diputar kembali, betapa aku ingin menjalani masa-masa itu dengan cara yang berbeda.

Well, aku harap kamu sekarang bisa memahami, mengapa aku membully orang. Sebagaimana yang kujanjikan di awal tulisan, berikut ini aku coba mendaftarkan beberapa hal yang dapat kamu lakukan untuk mengatasi bullying.

1. Membaca dan bermain.
Membaca memberiku banyak pencerahan. Pada saat itu, aku belum mengenal Kristus dan belum pernah membuka yang namanya Alkitab karena aku dibesarkan dengan kepercayaan lain. Jika aku sudah menjadi pengikut Kristus saat itu, tentu aku sudah membaca Alkitab. Syukurlah, ada sejumlah bacaan karya para penulis Kristen (seperti Enid Blyton, Roald Dahl, dan C.S.Lewis) yang menolongku melewati masa-masa sulit itu.

Saat ini teknologi komputer memungkinkan kita bermain sekaligus menjalin persahabatan secara online. Tentu saja, kita harus bijak dalam menggunakannya. Aku tidak menyarankan kamu menghabiskan sepanjang hari hanya untuk bermain komputer. Karena sifatnya yang menarik dan interaktif, komputer lebih berpotensi membuat kita kecanduan dibandingkan buku.

2. Berhentilah berupaya untuk diterima.
Mungkin nasihat ini tidak diperlukan oleh sebagian pembaca, namun aku tetap ingin menuliskannya untukmu: berhentilah berupaya untuk diterima. Aku telah berupaya keras untuk diterima dengan cara membully orang lain. Aku berusaha ikut melakukan apa yang dianggap “keren” oleh teman-temanku. Kami (atau setidaknya aku sendiri) tidak memiliki rasa aman dalam diri sehingga kami melakukan segala sesuatu yang dapat membuat kami bisa merasa diterima oleh orang lain. Memiliki banyak teman jauh lebih menyenangkan daripada hidup sendirian. Namun, meski kita semua memiliki kecenderungan alami untuk ingin dihargai orang lain, kita seharusnya tidak melakukan sesuatu yang jahat demi mendapat penghargaan orang. Kita harus menyelaraskan diri dengan kehendak Allah lebih daripada manusia. “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu …” (Roma 12:2).

3. Terapkan kelemahlembutan.
Kamu mungkin pernah mendengar tentang memberikan pipi kiri ketika pipi kananmu ditampar orang (Lukas 6:9; Matius 5:39). Ayat-ayat ini tidak berbicara tentang membiarkan orang memperlakukan kita seenaknya, tetapi lebih tentang melepaskan hak kita untuk mengikut Yesus. Markus 8:34-35 berkata, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya.”

David Roper, seorang pendeta, suatu kali pernah menulis, “Kelemahlembutan bukanlah sebuah kelemahan, melainkan kekuatan dalam pengendalian diri. Roh yang lemah lembut mengatasi hati yang keras dan kehendak yang sulit dengan penuh kesabaran.” Kelemahlembutan adalah salah satu karakter Kristus. Dengan bala tentara malaikat-Nya, Kristus bisa melakukan apa pun yang Dia mau. Tetapi, bukannya menghajar para orang Farisi yang telah menyiksa dan mengolok-olok-Nya, Kristus memilih untuk tetap bersikap lemah lembut, mengendalikan kekuatan-Nya. Kelemahlembutan bukanlah sebuah kelemahan. Kita harus bisa membedakan kedua hal ini.

4. Ambillah sikap yang tegas bagi dirimu sendiri dan bagi kebenaran.
Poin ini mungkin tampak bertolak belakang dengan poin sebelumnya, namun izinkan aku menjelaskannya. Tuhan Yesus tidak memberikan pipi kiri-Nya kepada penjaga yang menampar-Nya karena tidak menjawab pertanyaan Imam Besar dengan “sikap yang seharusnya” (Yohanes 18:19-23). Dia justru bertanya kepada penjaga itu,”Jikalau kata-Ku itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau kata-Ku itu benar, mengapakah engkau menampar Aku?” Kita belajar dari Tuhan Yesus bahwa kita dapat bersikap tegas sekaligus tetap lemah lembut dalam menegur mereka yang memperlakukan kita dengan semena-mena.

5. Berbicaralah dengan orang yang memegang otoritas.
Mengambil sikap yang tegas bagi diri kita dan bagi kebenaran tidak berarti kita harus menyerang balik. Ingatlah bahwa Tuhan Yesus tidak datang untuk mengutuk atau menghina orang-orang Farisi. Dia mengendalikan kekuatan-Nya, membela kebenaran tanpa menyakiti orang lain. Bagi orang yang menjadi korban bully, bawalah masalahmu kepada orang yang memegang otoritas.
Dalam Roma 13:3-4 Paulus memberitahu kita bahwa pemerintah (atau orang yang memegang otoritas) ditetapkan oleh Allah untuk “mendatangkan hukuman” kepada orang yang “berbuat jahat”.

6. Kasihilah mereka yang menyakitimu dan berdoalah bagi mereka.
Aku sengaja menuliskan ini paling akhir karena inilah nasihat yang sangat sering diberikan oleh sesama orang Kristen, sehingga terdengar klise dan kerap kehilangan maknanya. Aku juga sengaja menggabungkan kasih dan doa dalam poin ini.

Yesus berkata, “Kasihilah musuhmu, berbuat baiklah kepada orang yang membenci kamu” (Lukas 6:27). Bersikap lemah lembut dan mengendalikan kekuatan kita ketika direndahkan orang lain sudah cukup sulit untuk dilakukan. Bagaimana bisa kita masih diminta untuk mengasihi musuh kita? Mustahil rasanya! Namun, setelah membaca kisahku tadi, aku berharap kamu bisa memahami bahwa para bully sebenarnya tidak seperti penampilan luar mereka. Mereka bukanlah orang-orang tanpa perasaan—atau bahkan sadis—sebagaimana yang kita pikirkan. Mereka adalah orang-orang yang berusaha mengatasi rasa sakit hati dengan cara yang keliru. Dan, tidak seperti aku atau kamu yang memiliki Kristus untuk membimbing hidup kita, mereka mungkin belum mengenal Kristus. Atau, jika mereka sudah mengenal-Nya, mereka mungkin tidak memiliki hubungan pribadi yang dekat dengan-Nya. Kasihilah mereka, karena seperti kamu, mereka juga telah banyak terluka. Kasihilah musuhmu dengan berdoa bagi mereka (Matius 5:44), dan lihatlah bagaimana Tuhan berkarya!

Sumber: The Memoirs of a Bullied Child

*bully= pelaku bullying, orang dengan sengaja menyerang mereka yang lebih lemah, baik melalui tindakan fisik, perkataan, maupun sikap.

Facebooktwittergoogle_plusreddit

Artikel ini termasuk dalam kategori 03 - Maret 2014: Mulutmu Harimaumu, Artikel, Kesaksian, Pena Kamu, Tema 2014

24 Komentar Kamu

  • Banyak hal yg tlh kita pelajari namun belum mengerti secara mendalam, banyak yg kita tlh mengerti namun blm bisa kita kerjakan.
    Setelah membaca kisah ini, saya mendapat banyak pelajaran bagaimana mengerti dan mengerjakan firman Tuhan. Trimakasih. Gbu.

  • menurut saya no 2 itu yg paling penting.kebanyakan orang yg pernah di.bully itu pada saat dia putus asa dia akan mengambil sikap yg ke 2.saya pun juga pernah di kucilkan dan di hina.karna gendut,oon,cupu.dan kebetulan saya kristen sendiri dalam 1 kelas.dan jujur saya mengambil sikap ke 2 cara saya yaitu mencari perhatian dengan cara apapun sampe saya ubah gaya jalan saya menjadi perempuan.tp setelah saya naik kelas 6 sd puji Tuhan.Tuhan mengubahkan semua saya jadi punya banyak teman sampe 3 smp ini karna 4 tahun lebih saya hanya punya 1 teman dan dia bukan kristen tp dia bisa menghargai saya

    semua itu ada waktu Tuhan terus berdoa dan bersabar

    #hidup dalam kepahitan hanya akan membuat anda semakin rusak dan salah pergaulan
    JBU 🙂

  • terimakasih buat sharenya ya..
    Tuhan memberkati,

  • Trima Kasih Tuhan, ajari aku untuk lebih sabar lagi, dan selalu menunjukkan Kasih dengan siapapun meskipun mereka telah menyakitiku, amin.

    Trima kasih untuk artikel ini, isinya bagus dan sangat membangun, semoga semakin banyak anak-anak Tuhan berkarya melalui apapun, untuk memuliakan nama Tuhan Kita Yesus Kristus. Amin.

  • wow ,,, tolong kirim artikel lainnya dong di e-mailku tentang bullying

  • thanks so blessing.

  • Apa yg gue alami saat ini adalah karma ?
    Karena pas kls 8 gue jg pernah ngebully teman gue sendiri dan sekarang gue kls 10 mengalami hal yg sama kaya temen gue .
    Walau nggak ngatain yg kasar tapi temen sekelas gue itu seolah gue org yg bego oon kaya nggak nganggep temen ..

  • saya dari kecil sering dibuli karna punya NAMA panggilan yang “ndeso” sekali, meskipun wajah saya terbilang cukup manis hee hee… saya trauma, sehingga saat dewasa saya lebih suka menggunakan nama palsu yg lebih “elit” :-Ddikit 😀 meskipun kadang saya nggak nyaman karna saya merasa telah menipu diri sendiri, jujur sebagian orang masih sering mempermasalahkan NAMA … nyatanya saya sudah dewasapun masih ada saja sebagian orang yang seolah olah mentertawakan nama asli saya yang ndeso itu… suatu saat saya berkenalan dengan seorang lelaki, dia adalah dosen di sebuah universitas negri jakarta, seperti biasa saya menggunakan nama ganda, nama asli dan nama palsu, orangnya mati2 an menyuruhku menggunakan nama Asli, bagaimanapun kekuatan seseorang untuk berhasil berasal dari ke orisinilitas nya, lagian meskipun nama nya ndeso tapi kan orangnya cantik apalagi kalo punya banyak keahlian, nama itu nggak penting lagi, itu malah unik bukan? itu yang dia katakan padaku, tapi aku kalo ingat saat2 di bully anak2 dulu masih sering kesel, akhirnya aku belajar untuk percaya diri dengan NAMA pemberian orang tuaku yang terbilang sangat “ndeso” itu hee hee

  • Hi! saat membaca artikel ini saya cukup merasa terbantu. Saya juga termasuk salah satu korban bullying di sekolah baru saya. Saya setiap hari merasakan dikucilkan dijauhi teman bahkan tak sampai disitu saya juga dicemooh dan di hujat oleh guru”. Sakit rasanya hati ini… Tpi saat kita menyerahkan semuanya dan berjalan jalan bersama yesus beban itu terasa ringan. yang saya ingat saat itu saat semua org meninggalkan saya tpi bapa saya yg di sorga tak pernah sekalipun menningalkan saya. Dan saya yakin bahwa bapa punya rencana yg luar biasa buat saya. selain itu dukungan dri keluarga merupakan dorongan yg luar biasa untuk saya dpat mnghadapi semuanya.Sekian sharing dri pengalaman saya. Jan lupa untuk selalu mengandalkan Tuhan dihidupmu.

  • Saya pun saat ini merasa terbully oleh keluarga dan saudara saya sendiri karena mempunyai sifat pendiam. Apakah sifat itu merupakan sifat yang jahat,hina? Sampai mereka selalu mengucilkan saya karena saya pendiam

  • Klo sya sih sma temn2 sya ditindas oleh anak komplek sebelah ntah knapa mreka mengejek kmi dn mengejar kmi hingga dpat stiap kmi lewat disna kmi slalu dimarahi dn diomel kmi diam slah dibilang takut kmi menjawab dibilang lancang ap yg hrus kmi lkukan?.
    mereka mengancam kmi jika kmi masuk ke smp itu kmi akan sengsara.

  • diyanti muflikhah

    sulit memang untuk mnjalani keadaan di mana kita lemah.bahkan terkadang aku ingin pergi untuk selamnya namun terkadang justru membuat ku semangat bahwa nanti aku akan membalas kpada orang yang mnyakiti ku dg cara aku harus lebih sukses dari mereka2 yg menindas ku dan aku beli mulut mereka yang telah meremehkan ku

  • Saya juga pernah d BULLY kok,g enak banget emang,tapi saya mempunyai kepercayaan,bahwa Tuhan akan membalas dengan caranya,kita harus menunggu Dan tto berdoa kepadaNya.Niscaya,pasti akan dikabulkan.

  • Trimakasih buat sharingnya, saya merasa lebih tenang karena membaca ini, Saya salah satu org yg di bully ga enak bngt, saya merasa kesepian tapi Saya mencoba Utk Berdoa bahkan tmn saya sendiri yg membully saya, #Thanks GOD #God bless us

  • Allahuakbar”…… Thanks…

  • aku juga di bully habis habisan di smp selama 3 tahun .
    aku bersyukur aku sekarang udah mau masuk SMK .
    itu pengalaman paling kelam .

  • Gue di bully Terus karena gue lemah.. smoga karma berlaku dalam hal ini. Biarkah Tuhan yang membalas semua.

  • Thanks..kesaksianmu sangat memberkati

  • Aku sekarang mengalami masa2 sulit dikucilkan karena berjerawat dan murid pindahan .. mereka seakan akan menganggapku hina dan bertindak semau mereka ..sudah ingin kuakhiri tapi bentar lagi aq kelas 3 smk ..aku berharap waktu berjalan cepat ..

  • Saya juga mengalami pembullyan oleh teman-temanku walaupun bukan secara fisik, tetapi cukup menyakiti hati saya. Apalagi saya masih berusia 14 tahun. Setiap saya membalas perkataan mereka, pasti mereka akan membalanya dengan lebih. Tapi setiap saya membiarkannya mereka akan lelah sendiri. Yah, intinya jangan meladeni apa yang mereka lakukan. Kalau perlu beritahu ke teman-teman yang lainnya jika ada yang dibully

  • Saya juga merasakan pahitnya dibully oleh teman sekelas,mereka semua tertawa diatas penderitaan saya,mereka selalu meninda saya dan berkata..kamu sok pintar,kamu sombong,kamu tukang sindirr..karena prilaku saya juga di masa lampau,,saya menyesalinyaa..mungkin Tuhan ingin menyadarkan sayaaa..dan saya pun merasakan sakitnya dibully..tiap hari cacian dari teman”saya terimaa..saya tidak berani melawann..karena saya takut. Di kelas 8 saya juga mengalaminyaa. Saya diludahin,walau tidak lenaa..tapi terkadang saya takut pergi kemana”karena perbutan merekaa..saya harap Tuhan selalu memberikan saya kekuatan..God bless Us

  • saya juga tengah mengalami keadaan yang sulit…saya tidak tau apakah saya berbuat kesalahan tapi tiba tiba teman sekelas saya mengacuhkan saya dan mengucilkan saya..hampir 2 tahun saya mencoba bertahan..setiap hari saya menyibukkan diri saya dengan hp..dan novel saya saya juga kemana mana sendiri yang paling
    menyakitkan adalah ketika mendapat tugas bekelompok..saat semua sibuk memikirkan tugas mereka saya sibuk mencari kelompok yang mau menerima saya…saat ini saya kelas 3 saya ingin waktu berjalan cepat dan mereka bisa lebih akrab dengan saya..

  • Ya ,makasih atas sharing dari kawan-kawan semua. Saya dulu juga pernah dibully waktu SD selama 1 bulan sama sahabat saya sendiri ,karena saya pendiam dan keras kepala. Dia mencubit sayalah,dia memukul sayalah ,entah apa salahnya menjadi orang pendiam di mata sahabat saya ,ini waktu saya kelas 4 SD. Terus kelas 6 SD, saya sudah mulai punya sahabat yg mau menerima sifat saya.

    Saat SMP ,rupanya aku dibully lagi selama hampir sebulan karena aku pendiam.Dia dulu suka duduk di samping saya ,karena mungkin menurutnya saya orang yang pendiam , dia mulai menindas saya. Mencoba menendang saya,tapi gak kena ,saya juga hampir terkunci di kamar mandi karna ulah temannya ,dia juga suka mandang saya sinis.Tapi setelah guru mengharuskan semua murid agar tidak membully ,dia akhirnya minta maaf kepada saya dan ia tak oernah membully saya lagi:)) saya oun memaafkannya.

    Saat kelas 8 ,juga ada orang yang pura-pura ngefans sama saya ,mengingat itu saya jijik kepadanya sekarang. Dia orangnya ganteng ,tetapi terkenal buaya darat di sekolah saya. :v (tidak ada bully secara fisik dan mental disini)

    Saat kelas 9 SMP inilah menurut saya masa-masa paling kelam di hidup saya.Saya masih menjadi orang yang pendiam dan kaku kepada orang lain.Pertamanya saya punya teman sebangku ,lama-kelamaan ia duduk bersama dengan yang lain ,dan saya pun sendirian.Saat kerja kelompok pun ,saya mendapat kelompok sisa,yah bukan kelompok yang saya inginkan.Saya di kelas 9 SMP di kelas yang ini tidak mempunyai teman sama sekali.Sedih…tapi karena sifat yang pendiam inilah perlahan teman-teman mulai menjauhiku dan mengabaikanku.

    Di saat pembagian kelompok regu pramuka pun ,saya samoai memohon-mohon agar dapat masuk kelompok itu.Dan akhirnya ada yang mau menerima saya drngan setengah ikhlas.

    Selama kelas 9 SMP ,saya hanya memiliki 4 teman akrab saja ,itupun dari kelas lain.Betapa menyedihkannya hidup saya dahulu.Ya ,dipikir-pikir saya saat itu juga mulai bertobat kepada Tuhan agar tidak menjadi anak yang pemalas dan mulai rajin berdoa kepada Tuhan agar diberikan banyak teman dan sifat yang ramah kepada orang lain:)

    Ya ,setelah saya memasuki jenjang SMA inilah masa-masa kejayaan saya.Saya mulai memiliki teman-teman baru ,mulai bisa berkenalan dengan luwes ke yang lain. Ya ,saya sangat bahagia sekarang dengan pemberian dari Tuhan.Teman-temanku inilah yang sangat berharga bagi saya dan berkat merekalah ,saya tidak pernah dibully saat SMA ataupun dikucilkan.

    Tetapi sekarang saya cukup sedih ,karna ada seseorang yang dikucilkan di kelasnya sendiri(bukan karena pendiam,tetapi karena dia anaknya sok kaya dan ternyata rumahnya biasa saya ,tidak seperti rumah orang kaya)
    Ya ,temanku mengejeknya karena dia seperti itu dan dia tak punya teman di kelasnya.

    Sekarang saya masih kelas 1 SMA di tahun 2018 ini bulan Februari ini.Saya mengikuti ekskul yang cukup ekstrim di sekolah dan juga memiliki banyak teman.

    Saya ingin kalian yang masih pendiam ,mengikuti ekskul yang banyak orangnya agar bisa bersosialisasi ,dan juga kalian harus tobat kepada Tuhan agar Tuhan mau memulihkan kalian.

    Sekian dari saya ,maaf karena terlalu panjang:)

    GBU.

  • Tolong y buatin puisi buat saya, karena saya sering dibully gara gara sering main game

Bagikan Komentar Kamu!