Menanti . . .

Info

Rabu, 9 November 2011

Baca: Lukas 2:22-38

Berbahagialah semua orang yang menantinantikan Dia. —Yesaya 30:18

Musim gugur merupakan musim berburu di Michigan, Amerika Serikat. Setiap tahunnya, selama beberapa minggu, para pemburu yang memiliki izin diperbolehkan memasuki hutan untuk memburu berbagai jenis binatang liar. Sejumlah pemburu membangun tempat pengawasan yang sangat canggih dan tinggi di pepohonan sebagai tempat bagi mereka untuk duduk diam selama berjam-jam demi menanti seekor rusa muncul dalam jarak tembak mereka.

Ketika berpikir tentang para pemburu yang begitu sabar menanti rusa buruannya, saya membayangkan betapa kita dapat begitu tidak sabar ketika kita harus menantikan Allah. Sering kita mengartikan “menanti” sebagai “membuang waktu”. Ketika kita menanti sesuatu (atau seseorang), kita pikir kita tidak melakukan apa pun, dan dalam budaya yang terobsesi dengan hasil, hal itu terlihat seperti membuang-buang waktu.

Namun, menanti memberi banyak manfaat. Secara khusus, menanti dapat membuktikan iman kita. Mereka yang imannya lemah sering lebih cepat menyerah dalam penantian, sedangkan mereka yang imannya sangat kuat akan bersedia menanti tanpa batas waktu.

Ketika kita membaca kisah Natal di Lukas pasal 2, kita belajar tentang dua orang yang membuktikan iman mereka melalui kesediaan mereka untuk menanti. Simeon dan Hana telah lama menanti, tetapi waktu mereka tidaklah terbuang sia-sia; penantian itu telah menempatkan mereka pada masa dimana mereka dapat menyaksikan kedatangan sang Mesias (ay.22-38).

Tidak menerima jawaban doa kita dengan segera bukanlah alasan untuk menanggalkan iman. —JAL

Bukan hak kita untuk tahu alasan
Mengapa doa kita tak dijawab,
Tetapi kewajiban kita adalah menanti waktu Allah
Untuk memikul salib yang kita punya. —NN.

Menantikan Allah bukanlah suatu waktu yang terbuang sia-sia.

Share

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

5 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!