Menjala Di Tempat Yang Tak Ada Ikan

Info

Senin, 8 Agustus 2011

Baca: Lukas 7:34-48

Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. —Lukas 7:36

Saya punya seorang sahabat yang sesekali memancing bersama saya. Ia seorang yang sangat cermat. Setelah memakai sepatu bot dan mengumpulkan peralatan memancingnya, ia akan duduk di ujung belakang dari bak truknya dan memandangi sungai selama 15 menit atau lebih, mencari tanda-tanda adanya ikan. “Tak ada gunanya memancing di tempat yang tak ada ikannya,” katanya. Pernyataan ini membuat saya memikirkan pertanyaan lain: “Apakah aku menjala jiwa di tempat dimana tidak ada jiwa untuk dijala?”

Yesus disebut sebagai “sahabat pemungut cukai dan orang berdosa” (Luk. 7:34). Sebagai orang Kristen, kita harus berbeda dengan dunia dalam perilaku, tetapi seperti Yesus, kita pun terjun langsung ke dalam dunia. Jadi kita harus bertanya pada diri kita sendiri: Apakah aku berteman dengan orang berdosa, seperti yang Yesus lakukan? Jika aku hanya berkawan dengan sesama orang Kristen, aku mungkin menjala jiwa “di tempat dimana tidak ada jiwa untuk dijala.”

Langkah pertama dalam menjala jiwa adalah berada bersama orang-orang yang belum percaya. Kemudian dibutuhkan kasih—suatu kebaikan hati yang mau mengerti alasan dibalik pernyataan yang mereka lontarkan dan mendengarkan seruan jiwa mereka yang terdalam. Dengan menunjukkan belas kasihan, kita bisa bertanya, “Boleh aku tahu mengapa kamu berkata begitu?” Menurut pendeta George Herbert (1593–1633), “Keramah-tamahan dapat menjadi kesaksian terbaik.”

Kasih ini tidak timbul secara alami dari diri kita, tetapi semata-mata berasal dari Allah. Mari kita berdoa: “Tuhan, jika hari ini aku bersama seseorang yang belum percaya, kiranya aku peka pada suaranya yang tanpa sukacita, wajahnya yang lelah, atau matanya yang sedih, semua hal yang sering dengan mudah kuabaikan karena perhatianku pada diri sendiri. Kiranya aku punya kasih yang muncul dari dan berakar dalam kasih-Mu. Kiranya aku tekun mendengarkan orang lain, menunjukkan belas kasihan-Mu, dan menyatakan kebenaran-Mu hari ini.” —DHR

Kita harus menjadi alat yang menyalurkan kebenaran Allah—bukan menyimpannya sendiri.

Share

Artikel ini termasuk dalam kategori Santapan Rohani, SaTe Kamu

11 Komentar Kamu

Bagikan Komentar Kamu!